Bagian Dua Puluh Sembilan: Skenario Pahit

1327 Kata

Gemi menatap lelaki yang berbaring di brankar rumah sakit. Perempuan yang duduk di kursi roda itu mengulas senyum, dengan menggenggam jemari kokoh yang masih terlihat lemah. Meski melihat dengan satu matanya, Gemi bisa melihat betapa pucat nya wajah Benua. "Ben...kapan lo bangun? Kita mau menikah kan?" "Menikah dengan lo, Adalah impian terbesar gue." sambung Gemi masih menatap Benua. "Cepat bangun sayang..." kata Gemi mengecup pelipis Benua. Suara alat pendeteksi jantung berbunyi kencang. Membuat Gemi menghapus air matanya dan tentu saja perempuan itu panik. "Ben...Benua..." panik Gemi, dengan sedikit kesusahan Gemi memencet tombol darurat. "Ben....Benua..." tariak Gemi masih dengan nada paniknya. Tak berapa lama, tim medis datang. Satu orang suster membawa Gemi keluar. "Saya mau di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN