Rommy, pria paruh baya berusia lima puluh lima tahun, berdiri di tengah koridor rumah sakit dengan kemarahan yang membara di matanya. Tangannya terangkat tinggi, siap untuk menampar pipi Sophia, yang berdiri terpaku dengan wajah pucat dan mata penuh ketakutan.
Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh pipi Sophia, sebuah tangan kuat menahan pergelangan tangannya dengan tegas. Revan, muncul dari balik Rommy, mata berkilat tajam dan penuh determinasi, menatap pria itu dengan ketegasan yang tak bisa dipandang sebelah mata.
"Cukup!" Suara Revan terdengar tenang namun penuh otoritas, mengiris udara dengan ketegasan yang memaksa. Ia menahan tangan Rommy dengan kekuatan yang cukup untuk memastikan tidak ada lagi ancaman yang akan mengarah pada Sophia.
Lalu, dengan dorongan yang mantap, Revan mendorong tubuh pria itu menjauh dari Sophia. Rommy terhuyung mundur, terkejut oleh keberanian Revan yang tiba-tiba.
Revan menatap Rommy dengan tatapan tegas, matanya memancarkan kewaspadaan dan keseriusan. "Jika Anda membuat keributan di sini, saya tidak akan ragu untuk memanggil pihak keamanan rumah sakit!" ucapnya, suara penuh kepercayaan diri dan ancaman tersirat.
Rommy tidak gentar. Sebaliknya, senyumnya berubah menjadi sinis, menantang Revan dengan keberanian yang hampir tidak masuk akal. "Silakan panggil petugas keamanan jika kau berani," katanya dengan nada mengejek yang penuh kebencian. "Aku tidak peduli!"
Revan tetap tenang, meskipun suasana semakin memanas di sekitar mereka. Ia tahu bahwa tindakannya sekarang tidak hanya untuk melindungi Sophia, tetapi juga untuk menjaga ketertiban dan keamanan di rumah sakit yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Tangannya tetap mantap menahan tangan Rommy, meskipun wajahnya menunjukkan sedikit kemarahan yang tertahan.
Rommy hanya tertawa kecil, tetapi tawanya segera terhenti ketika dua petugas keamanan tiba dengan cepat. Mereka mendekati Rommy dengan sikap waspada dan siap untuk mengatasi situasi yang genting.
“Bawa pria pengganggu ini. Dia sudah membuat keributan di sini,” titah Revan dengan nada perintah yang tidak bisa ditawar lagi. Matanya memandang petugas keamanan dengan penuh keyakinan, memastikan bahwa Rommy tidak lagi menjadi ancaman.
Meskipun banyak orang di sekitar melihat dengan tatapan heran, terutama karena Revan yang dikenal misterius dan masih enggan mengungkap identitasnya di rumah sakit, situasi ini menjadi lebih mendesak.
Koridor rumah sakit yang sebelumnya sunyi kini dipenuhi ketegangan. Sophia berdiri terpaku, hatinya berdegup kencang setelah intervensi Revan.
Ia merasakan campuran antara rasa syukur dan kebingungan, tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Revan yang tiba-tiba datang untuk membantunya.
Namun, Rommy, ayah Sophia, tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Malah, kemarahan Rommy semakin memuncak. Dengan suara yang menggelegar penuh kebencian, ia mulai memaki Sophia di depan Revan dan para petugas keamanan.
"Anak tidak berguna!" teriak Rommy dengan nada kemarahan yang meluap. "Kamu hanya bisa membuat malu keluarga! Beraninya kamu melawan ayahmu sendiri!"
Revan terkejut mendengar makian itu. Ia baru menyadari bahwa pria kasar di depannya adalah ayah Sophia, dan matanya melebar seiring dengan ketidakpercayaan yang mendalam.
Ia menatap Sophia yang semakin terpojok, hatinya dipenuhi dengan rasa kasihan dan kekesalan yang tak tertahan.
Rasa kemarahan yang baru saja ia tundukkan kini mulai membuncah lagi, ditambah dengan keputusasaan yang terlihat jelas di wajah Sophia.
Sophia, dikuasai rasa malu dan kehampaan yang mendalam, akhirnya menyerah pada tekanan emosional yang membebaninya. Suaranya bergetar, penuh dengan nada memohon yang membuatnya tampak sangat rentan.
"Ayah, aku akan mengirimkan uang kepada ayah segera. Tolong, pergilah dari sini," katanya dengan nada yang menyentuh, matanya dipenuhi oleh air mata yang siap tumpah.
Rommy, dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya, merasa kemenangan kini berada di genggamannya. "Seharusnya sejak tadi kamu begini," katanya dengan nada mengejek, penuh dengan kepuasan yang penuh kemenangan.
"Jadi ayah nggak perlu membuat keributan di sini!" Ucapan itu penuh dengan sindiran, seolah menganggap bahwa ketundukan Sophia adalah hal yang pantas.
Revan, berdiri di belakang Rommy, menatap Sophia dengan rasa simpati mendalam. Ia dapat melihat betapa tertekannya Sophia menghadapi situasi yang memalukan ini, dan rasa iba membanjiri hatinya.
Melihat Rommy memeriksa ponselnya dan melihat notifikasi transfer yang masuk, suasana menjadi semakin mencekam. "Ini baru anak ayah," katanya dengan nada merendahkan yang membuat wajahnya tampak semakin sinis. "Ingat, Sophia, ayahmu ini adalah keluarga. Kamu harus selalu ingat itu."
Setelah menyerahkan uang kepada ayahnya, Sophia merasa seolah harga dirinya direnggut. Malu dan terhina, dia tanpa berkata apa-apa lagi segera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
Revan, yang masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, terkejut melihat Sophia pergi begitu saja. Dengan langkah panjang dan cepat, ia segera menyusul Sophia yang sudah beberapa meter di depan.
"Sophia, tunggu!" panggil Revan, suaranya penuh dengan kekhawatiran dan urgensi. Ia mendekati Sophia dengan hati-hati, berusaha menjangkau wanita yang terlihat sangat terpukul.
Sophia berhenti sejenak, menoleh dengan mata yang masih berkaca-kaca, dan Revan dapat melihat betapa campur aduk perasaan di wajahnya—marah, sedih, dan malu bercampur jadi satu.
"Sophia, apakah ada masalah dengan ayahmu?" tanya Revan hati-hati, suaranya rendah dan penuh kepedulian agar tidak menambah beban Sophia. "Apa mungkin ayahmu memerasmu?"
Sophia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum menjawab. Tatapannya tajam dan tegas saat ia menatap Revan, berusaha menunjukkan keteguhan meskipun dalam hatinya bergelora rasa sakit.
"Revan, akan lebih baik jika kamu tidak perlu tahu dan jangan ikut campur lagi dengan urusanku," katanya dengan suara yang terdengar lebih tegar dari sebelumnya, meskipun dalam hati ia merasakan kehampaan.
Revan terdiam sejenak, mencoba memahami maksud Sophia. Ia merasa kasihan dan ingin membantu, namun ia juga menyadari bahwa ini adalah masalah pribadi yang mungkin tidak ingin dibicarakan Sophia dengan orang lain. Dalam keheningan yang berat, Revan berusaha mencari kata-kata yang tepat.
"Tapi, Sophia ...." Revan mencoba berbicara lagi, namun Sophia mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata Revan sebelum sempat berkembang lebih jauh.
"Terima kasih atas bantuanmu tadi, Revan. Tapi tolong, jangan ikut campur lagi," katanya dengan tegas sebelum berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Revan yang berdiri di sana dengan perasaan campur aduk. Tatapan Sophia yang semakin menjauh meninggalkan kesan mendalam dalam benaknya.
Revan melihat punggung Sophia yang semakin menjauh, merasakan ketidakberdayaan yang dalam. Ia tahu Sophia sedang melalui masa sulit yang sangat pribadi, namun ia juga memahami bahwa terkadang, seseorang perlu menghadapi masalahnya sendiri.
Dengan berat hati, Revan memutuskan untuk menghormati keinginan Sophia, meskipun dalam hati kecilnya ia tetap bertekad untuk selalu siap membantu jika Sophia membutuhkannya di masa depan.
Kembali ke ruang tunggu dokter, pikiran Revan masih berkutat pada Sophia dan pertemuan yang penuh ketegangan tadi. Ia melihat Jay, temannya yang terkenal sebagai biang gosip di rumah sakit, sedang duduk sambil membaca beberapa laporan.
Revan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari informasi lebih lanjut tentang ayah Sophia.
"Jay, ada waktu sebentar?" tanya Revan sambil duduk di sebelahnya dengan penuh perhatian.
Jay menoleh dengan mata penasaran yang berkilat. "Tentu, Revan. Ada apa?" tanya Jay dengan rasa ingin tahu yang khas.
Revan ragu sejenak sebelum melanjutkan, memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. "Kamu tahu sesuatu tentang ayahnya Dr. Sophia? Aku kebetulan melihat sesuatu yang ... tidak menyenangkan tadi," katanya dengan nada serius.
Jay menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik, kemudian menyipitkan matanya dalam keadaan waspada. "Kenapa kamu jadi merasa penasaran dengan Dr. Sophia? Jangan bilang … kamu tertarik padanya?" Jay menyeringai, mencoba menggodanya dengan cara yang tidak bisa diabaikan.