Latar Belakang Keluarga yang Rumit

780 Kata
Revan mendengarkan penjelasan Jay dengan serius, namun perasaan campur aduk menghantam hatinya. Ada sesuatu yang perlu ia ungkapkan, sesuatu yang ia rasa penting untuk dibicarakan. Ia menatap Jay dengan mata yang penuh keyakinan, siap menyuarakan pendapatnya tentang Sophia. "Jay," ujar Revan dengan nada tegas namun dipenuhi rasa kagum, "bukankah Sophia adalah wanita idaman semua pria? Dia cantik, baik, dan memiliki karir yang mapan. Apa kurangnya?" Jay terkejut mendengar pujian terbuka dari Revan. Ia mengangkat alisnya, mengulas senyum kecil. "Revan, kamu serius?" tanyanya, nada suaranya mengandung keraguan. "Latar belakang keluarganya rumit! Kamu tahu sendiri betapa sulitnya hidup dengan beban seperti itu." Revan mengerutkan kening, tatapannya semakin serius. Ada sesuatu yang dirasakannya masih terselubung, sesuatu yang belum diungkap sepenuhnya. "Jay, maksudmu dengan latar belakang keluarganya yang rumit itu apa?" tanyanya penuh penasaran. Jay menghela napas panjang, tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Revan, ayah Sophia adalah seorang kriminal. Dia menghabiskan uang, penjudi, alkoholik, dan pemakai obat-obatan. Semua orang yang pernah berhubungan dengan Sophia mengalami kesialan." Revan terdiam, mencerna informasi yang baru diterimanya. Penjelasan Jay terasa seperti kunci yang membuka misteri mengapa Sophia selalu tampak dingin dan menjaga jarak dari orang lain. Mungkin orang-orang enggan berinteraksi dengannya selain urusan pekerjaan. Jay melanjutkan dengan nada lembut, "Ayahnya sering datang ke rumah sakit, meminta uang. Jika tidak diberi, dia tidak segan-segan membuat keributan. Sophia selalu mencoba menutupi masalah ini, tapi akhirnya orang-orang di sini tahu juga." Revan merasa simpati yang mendalam untuk Sophia. "Jadi, itu sebabnya dia begitu tertutup dan dingin terhadap orang lain," gumamnya. Jay mengangguk, tatapannya penuh pengertian. "Ya, dia harus menghadapi semuanya sendiri. Banyak yang merasa kasihan, tapi mereka juga takut terlibat dalam masalah ini. Itu sebabnya mereka menjaga jarak." Revan merasakan hatinya tergerak. "Itu tidak adil bagi Sophia. Dia berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa bayang-bayang ayahnya yang bermasalah." Jay menatap Revan dengan serius. "Aku tahu kamu ingin membantu, Revan. Tapi berhati-hatilah. Terlalu terlibat dalam masalah ini bisa berbahaya." Revan menatap jauh ke dalam mata Jay, merenungkan peringatan itu. Ia tahu resiko yang mungkin dihadapinya, namun hatinya sudah terlanjur terikat dengan keinginan untuk membantu Sophia. "Jay, kadang kita harus mengambil resiko demi membantu orang yang kita pedulikan," jawabnya perlahan. ** Di unit VVIP rumah sakit, Revan merasakan frustrasi yang mendalam. Sophia, atasannya, tampaknya enggan memberikan tanggung jawab pasien padanya. Merasa diabaikan dan tidak tahu harus melakukan apa, Revan memutuskan untuk mengambil inisiatif. Ia berjalan menuju ruangan Sophia dengan langkah tegas, niatnya bulat untuk mencari kejelasan. Setibanya di sana, ia mengetuk pintu dengan sopan dan menunggu jawaban. "Masuk," terdengar suara Sophia dari dalam ruangan. Revan membuka pintu dan melangkah masuk. Di balik meja kerja, Sophia terlihat sibuk dengan tumpukan berkas. Saat menyadari kedatangan Revan, ia mengangkat pandangannya dengan ekspresi datar. "Apa yang bisa saya bantu, Dokter Revan?" tanyanya tanpa ekspresi. Revan langsung menyampaikan kegelisahannya tanpa basa-basi. "Saya ingin tahu mengapa saya tidak diberi tanggung jawab pasien satu pun di unit VVIP ini," tanyanya dengan nada serius. Sophia menyunggingkan senyum sarkastis. "Bukankah Dokter Revan sendiri yang memandang sebelah mata pasien VVIP? Kenapa sekarang justru meminta untuk diberi tanggung jawab pasien?" Revan terkejut dengan tanggapan Sophia. Jawaban itu tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. "Apa maksudmu, Sophia?" tanyanya, kebingungan jelas terlihat di wajahnya. Sophia mendesah, meletakkan penanya dan menatap Revan dengan tajam. "Revan, saya tahu pandanganmu tentang pasien VVIP. Kamu selalu mengatakan bahwa mereka manja dan hanya mencari perhatian. Jadi, saya pikir lebih baik kamu fokus pada unit lain yang lebih membutuhkan perhatianmu." Perkataan Sophia membuat Revan merasa tertampar, tapi ia tidak mau menyerah begitu saja. "Kalau kamu tidak memintaku bertanggung jawab atas pasien, sama saja kamu menyuruhku untuk tidak bekerja," jawabnya dengan nada tegas, menunjukkan keseriusannya dalam mencari penjelasan. Sophia menghela napas panjang dan berdiri dari kursinya. Ia berjalan mengelilingi meja, mendekati Revan dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Dan bukankah sudah saya bilang bahwa tempatmu bukan di sini, Dokter Revan? Jadi lebih baik kamu mengajukan perpindahan ke unit lain, karena saya juga tidak bisa mempercayakan pasien kepada dokter yang memandang rendah mereka." Amarah mulai berkobar di dalam diri Revan, tapi ia berusaha keras untuk tetap tenang. "Sophia, aku paham jika kamu memiliki alasan untuk meragukanku. Tapi aku di sini karena aku ingin belajar dan berubah. Bukankah seharusnya kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri?" Sophia menatapnya dengan wajah keras, tak bergeming. "Revan, ini bukan tentang kesempatan kedua. Ini tentang kepercayaan dan tanggung jawab. Bagaimana aku bisa mempercayakan pasien VVIP pada seseorang yang sudah menunjukkan sikap meremehkan mereka?" Revan terdiam, merasakan bobot kata-kata Sophia yang penuh ketegasan. Ia tahu bahwa untuk mendapatkan kepercayaan, ia harus membuktikan bahwa dirinya layak dan dapat diandalkan. Namun, tantangan yang dihadapinya tidak hanya soal kepercayaan Sophia, tetapi juga mengenai bagaimana ia mengubah cara pandang dan pendekatannya terhadap pasien.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN