Pria Manja!

905 Kata
Di ruang yang penuh dengan aroma antiseptik dan warna putih yang bersih, pertemuan antara Revan dan Sophia berlangsung dengan ketegangan yang tak terucapkan. Sophia, dengan matanya yang tajam dan sikapnya yang tegas, menatap Revan dengan skeptisisme yang mendalam. Revan, di sisi lain, merasakan beratnya kesalahan yang telah ia buat, dan tekad untuk memperbaiki diri membara di dalam dirinya. Revan memulai dengan suara yang lembut namun penuh penyesalan. "Aku minta maaf, Sophia. Aku pernah meremehkan pasien VVIP dan para dokter yang bekerja di unit ini. “Seharusnya sebagai dokter, aku tidak boleh membeda-bedakan pasien, terlepas dari kaya atau miskin, baik atau jahat. Tugas utama dokter adalah menyelamatkan pasien, bukan memberikan komentar atas kehidupan pasien," ujarnya dengan tulus, matanya memancarkan penyesalan yang mendalam. Sophia, dengan sikap yang tak tergoyahkan, memandang Revan dengan tatapan yang penuh evaluasi. Setiap kata yang diucapkan Revan, seperti musik yang sangat diharapkan menjadi jujur dan tulus, tetapi Sophia tidak bisa begitu saja terpengaruh oleh kata-kata. Ia memeriksa setiap gerakan dan ekspresi Revan, mencari bukti-bukti yang dapat menunjukkan bahwa penyesalan itu tidak hanya sebatas kata-kata. "Apa kamu bisa berjanji pada saya untuk bekerja dengan maksimal, dan tidak lagi membanding-bandingkan pasien?" Sophia bertanya, suaranya penuh harapan sekaligus ancaman tersirat. Revan menatap Sophia dengan penuh tekad. "Aku berjanji, Sophia. Aku akan melaksanakan semua perintahmu dengan baik dan bekerja dengan maksimal. “Aku tidak akan lagi membanding-bandingkan pasien dan akan memberikan pelayanan terbaik bagi setiap orang." Suaranya penuh dengan ketulusan yang hampir bisa dirasakan. Sophia tersenyum tipis, sedikit lega dengan jawaban Revan. "Baiklah, Revan. Aku akan memberimu kesempatan. Mulai besok, kamu akan mendapatkan beberapa pasien VVIP untuk ditangani. Aku akan mengawasi kinerjamu dengan cermat." Revan mengangguk dengan semangat, wajahnya menerangi ruangan dengan ekspresi penuh harapan. "Terima kasih, Sophia. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan bekerja sebaik mungkin dan membuktikan bahwa aku layak berada di sini." Sophia mengangguk kembali, kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut, namun tatapannya masih menyimpan keraguan. "Kita lihat saja nanti, Revan. Jangan sia-siakan kesempatan ini." Suasana di ruangannya masih dipenuhi aura ketegangan, dan Sophia merasa perlu memberikan tantangan tambahan untuk memastikan bahwa perubahan yang dijanjikan benar-benar akan terjadi. "Tapi, Revan," katanya tegas, "saya tidak bisa begitu saja percaya pada perkataanmu. Karena itu, saya akan memberimu tantangan. Kamu akan menjalani masa percobaan selama satu bulan. “Jika kamu tidak membuat masalah selama masa itu, maka saya akan memberikan tanggung jawab penuh atas pasien kepadamu." Revan mendengar tantangan tersebut dengan penuh kesadaran, tekadnya semakin menguat. Dalam hatinya, ia berkata, "Siapa takut?" Ia mengangguk dengan penuh keyakinan. "Baiklah, Sophia. Saya akan menjalani tantangan ini dan membuktikan bahwa saya bisa memenuhi ekspektasi Anda." Revan menyunggingkan senyum puas sebab masih diberi kesempatan untuk melayani pasien di sana. Shopia yang masih enggan terlalu dekat dengan Revan lantas membuang muka melihat senyum Revan yang menurutnya sangat … manis. ** “Hari ini kamu layani pasien di kamar nomor 304. Beri dia makan karena sudah waktunya makan siang.” Hari pertama masa percobaan dimulai dengan tugas yang sangat menantang. Revan diminta untuk menangani seorang pasien VVIP, seorang nenek yang menderita demensia. Tugasnya adalah mengirimkan makanan ke ruangan pasien dan membujuk nenek itu untuk makan dengan tenang. “Oke! Hanya memberi makan seorang nenek-nenek, bukan pekerjaan yang sulit,” ucapnya menganggap enteng tugas yang diberikan oleh Shopia padanya. Dengan langkah percaya diri, Revan membawa nampan berisi makanan menuju kamar pasien. Setibanya di kamar pasien, Revan tersenyum dan memasuki ruangan dengan langkah ringan. "Selamat pagi, Nenek," sapanya dengan nada lembut. "Saya membawa makanan untuk Nenek. Mari kita makan bersama." Namun, nenek itu, dengan matanya yang tampak kebingungan dan penuh kemarahan, langsung memandang Revan dengan tajam. Tanpa peringatan, nenek itu mengangkat beberapa barang dari meja dan melemparkan ke arah Revan. Revan terkejut, berusaha menghindar, tetapi beberapa barang mengenai tubuhnya. Nenek itu tidak berhenti di situ. Dengan semangat yang mengejutkan untuk seseorang yang menderita demensia, nenek itu melompat dari tempat tidurnya dan mulai memukuli Revan dengan kuat. Revan mencoba untuk menenangkan nenek tersebut sambil melindungi dirinya, tetapi nenek itu terus mengamuk, membuat suasana semakin kacau. "Tenang, Nenek! Saya hanya ingin membantu!" teriak Revan sambil berusaha menghindari pukulan. Suaranya, yang awalnya lembut, kini terdengar cemas dan penuh keputusasaan. Namun, nenek itu tampaknya semakin marah, dan Revan merasa kesulitan untuk mengendalikan situasi. “Argh!” keluh Revan ketika nampan besi terlempar ke arah kepalanya. Ia meringis kesakitan, namun ia harus menahannya. Setelah beberapa menit berjuang, perawat dan staf lainnya akhirnya datang ke ruangan dan dengan cepat menenangkan nenek tersebut, sementara Revan berdiri di samping, tampak kacau dan kelelahan. “Dok. Anda baik-baik saja?” tanya Winda—perawat di sana. Revan mengangguk “Ya. Saya baik-baik saja.” Ketika suasana mulai mereda, Revan duduk di kursi terdekat, tubuhnya masih bergetar dari ketegangan. Dia menyadari bahwa tugas ini jauh dari yang dibayangkan. “Huft! Rupanya tidak seperti yang kubayangkan,” keluhnya lalu menghela napasnya dengan panjang. “No, no, no. Aku harus tetap bertahan. Enak saja menyerah!” Meski begitu, tekadnya tetap bulat. Dalam hatinya, dia berjanji untuk tidak menyerah dan terus berusaha meskipun tantangan yang dihadapinya sangat berat. Di luar ruangan, Sophia mengamati dengan seksama. Walaupun dia tidak mengungkapkan pendapatnya secara langsung, ekspresi di wajahnya menunjukkan bahwa ia mengamati setiap detil kejadian tersebut. Sophia tahu bahwa ujian pertama ini adalah langkah awal dalam proses penilaian Revan. Dan meskipun kejadian tersebut tidak berjalan sesuai rencana, Sophia masih berharap Revan bisa belajar dari pengalaman ini dan menunjukkan perkembangan yang diinginkan. “Dasar pria manja!” keluh Shopia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN