Di tengah kekacauan yang melanda ruangan pasien VVIP, Revan merasa kepanikan merayapi setiap sudut jiwanya. Setiap gerakan, setiap tindakan nenek yang marah seolah menjadi pukulan langsung ke dalam batinnya.
Ia belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, namun pasien itu sudah meluapkan kemarahan yang tak terduga.
Suasana di sekitar menjadi semakin suram dan kacau, memaksa Revan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang semakin sulit dikendalikan.
Jay, yang ditugaskan oleh Sophia untuk mengawasi Revan, segera mengambil tindakan. Dengan cekatan, ia menghubungi teman-temannya yang juga berada di unit VVIP dan meminta mereka untuk masuk ke kamar tersebut guna menenangkan situasi.
Setelah situasi mereda dan perawat serta staf medis berhasil menenangkan nenek itu, Jay dan Revan berdiri di luar ruangan, masing-masing dengan ekspresi yang mencerminkan ketegangan yang mereka alami.
Revan, yang masih terengah-engah dan tampak kacau, bertanya dengan nada frustrasi, "Apa sebenarnya masalah dengan pasien itu? Aku bahkan belum sempat mengatakan apa pun, tetapi dia sudah memukuli aku. Kenapa bisa begini?"
Jay, yang lebih tenang dan tampak lebih mengerti situasi, menghela napas dan mulai menjelaskan.
"Pasien itu, meskipun menderita demensia, sebenarnya masih sangat ingat tentang masalah pribadi yang dia alami. Suaminya adalah seorang tukang selingkuh, dan itu adalah sesuatu yang sangat membekas dalam ingatannya.
“Setiap kali dia melihat laki-laki, terutama yang baru, dia akan mengingat perselingkuhan suaminya dan bereaksi dengan kemarahan yang sama seperti yang dia rasakan dulu."
Revan terkejut mendengar penjelasan tersebut. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang mendalam, dan dia bertanya dengan polos, "Jadi, Sophia sudah mengetahui hal ini?"
Jay mengangguk dengan rasa simpati. "Tentu saja. Tidak mungkin sebagai kepala unit VVIP, Sophia tidak memahami keadaan pasiennya. Dia tahu segala sesuatu tentang pasien-pasiennya, termasuk riwayat pribadi yang mempengaruhi perilaku mereka."
Pada saat itu, Revan merasa seperti baru saja dikerjai oleh Sophia. Semua tekad dan rasa percaya dirinya seolah runtuh begitu mengetahui bahwa ia telah menjadi bagian dari permainan yang lebih besar dari sekadar tugas medis.
Revan menyadari betapa pentingnya memahami latar belakang pasien dan tidak hanya terfokus pada tugas sehari-hari tanpa memperhatikan konteks yang lebih luas.
Dengan nafsu yang menyusut, Revan berkata, "Jadi, semua ini adalah bagian dari ujian, bukan? Sophia benar-benar menguji kemampuanku untuk menangani situasi yang sulit dengan pengetahuan yang lengkap dan empati terhadap pasien."
Jay mengangguk dengan lembut, mengertikan perasaan Revan. "Ya, Sophia ingin melihat bagaimana kamu menangani tantangan yang tidak hanya memerlukan keterampilan medis, tetapi juga kemampuan untuk memahami kondisi emosional pasien. Ini adalah bagian dari evaluasi keseluruhan."
Revan, yang mulai mendapatkan kembali ketenangannya, menarik napas panjang dan mencoba mencerna informasi yang baru saja didapatnya.
Meskipun terkejut dan sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa ia telah diperhadapkan pada tantangan yang sangat sulit sejak awal, dia mulai memahami pentingnya pendekatan yang lebih holistik terhadap profesinya sebagai dokter.
**
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Revan melangkah pulang dengan langkah berat dan hati yang penuh kebingungan.
Setiap langkah menuju rumahnya terasa seperti beban, mengingatkan dirinya pada kekacauan yang terjadi sepanjang hari. Begitu memasuki pintu rumah, ia disambut oleh kehangatan yang familiar – suara lembut ibunya, Inna, yang sedang duduk di ruang tamu dengan majalah fashion di tangannya.
Inna, yang mengenakan gaun rumah berwarna pastel lembut, segera menatap Revan dengan senyum penuh kasih sayang.
"Revan, kamu sudah pulang!" serunya, sebelum bangkit untuk menyambut putranya. Dia memeluk Revan dengan lembut, tetapi tiba-tiba, Revan mengaduh kesakitan, menyebabkan Inna menarik dirinya dengan cepat.
"Mama, maaf ...." Revan berkata dengan suara bergetar, mencoba menahan rasa sakit yang menyelinap di pundaknya.
Inna, dengan wajah yang tiba-tiba memucat, cepat-cepat mengamati Revan lebih dekat. "Apa yang terjadi? Kenapa pundakmu merah?" tanyanya dengan cemas, matanya membesar saat melihat tanda memar yang jelas di kulit Revan.
Revan menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan ibunya sambil memandang mata Inna yang penuh kekhawatiran. "Semuanya baik-baik saja, Ma. Ini hanya akibat dari pasien yang kemarin. Dia ... dia agak agresif."
Inna terlihat semakin panik. "Kamu baru hari pertama bekerja di unit VVIP dan sudah babak belur seperti ini? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, Revan! Apa yang harus aku katakan pada papamu?"
Dengan nada lembut namun tegas, Revan mencoba menenangkan ibunya. "Ma, ini hanya bagian dari tantangan. Aku tahu ini sulit, tapi aku bisa menghadapinya. Jangan khawatir terlalu banyak."
Namun, Inna tidak tampak puas dengan penjelasan itu. Dengan tekad yang baru ditemukan, dia menawarkan alternatif.
"Bagaimana jika aku berbicara dengan papamu? Mungkin kita bisa memindahkan kamu ke unit lain. Lagi pula, dari awal kamu tidak begitu suka dengan unit VVIP, bukan?"
Revan langsung menolak tawaran itu dengan penuh keyakinan, membuat Inna terkejut. "Tidak, Ma. Aku tetap ingin bekerja di unit VVIP. Ini adalah bagian dari tugas dan tanggung jawabku. Aku tidak bisa mundur begitu saja hanya karena kesulitan pertama."
Inna menatap Revan dengan tatapan penuh kekhawatiran. Dalam hatinya, dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada putranya.
Mengapa Revan begitu bersikeras untuk tetap di unit VVIP meskipun baru hari pertama dia sudah mengalami kesulitan?
Apa yang mendorongnya untuk terus bertahan dalam situasi yang tampaknya sangat menantang ini?
“Ada apa dengan anakku?” gumam Inna seraya menatap punggung sang anak yang perlahan menghilang memasuki kamarnya.