Bagaimana Bisa?

1013 Kata
Keesokan paginya, saat matahari baru saja mencium cakrawala, Sophia tiba di rumah sakit dengan langkah yang penuh tekad, siap untuk memulai hari dengan rutinitasnya yang biasa. Sesaat setelah memasuki ruang briefing pagi, di mana para dokter berkumpul untuk membahas jadwal dan kasus pasien, Sophia memperhatikan kehadiran yang hilang—Revan tidak ada di sana. Ini membuatnya heran, terutama setelah kejadian semalam dengan pasien VVIP yang penuh drama. Merasa khawatir dan penasaran, Sophia mendekati Jay, yang ia tugaskan untuk mengawasi Revan dengan mata yang menyimpan sedikit keheranan. "Jay, di mana Revan?" tanyanya dengan nada serius, suaranya tegas seperti dentuman gong di pagi yang tenang. Jay, yang tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan Sophia, menatapnya dengan alis terangkat. "Revan sedang melaksanakan tugas pertamanya dari Dokter Sophia," jawabnya dengan nada yang penuh arti, seolah-olah ada misteri yang terpendam dalam kata-katanya. Sophia mengerutkan kening, otaknya berputar cepat untuk menyusun kembali puzzle informasi. "Maksudmu, pasien VVIP yang dia tangani semalam? Aku mendengar dari Kirana bahwa dia gagal membujuk pasien tersebut untuk makan. Bagaimana mungkin dia melaksanakan tugas itu lagi?" suaranya penuh dengan kekhawatiran dan keheranan. Jay tersenyum tipis, tampak sedikit puas dengan dirinya sendiri. "Iya, Dokter Sophia. Mungkin Anda belum tahu, tapi Revan memutuskan untuk kembali mencoba setelah insiden semalam. Dia datang lebih awal pagi ini dan langsung menuju kamar pasien tersebut. Dia mengatakan bahwa dia tidak akan menyerah begitu saja." Sophia terdiam sejenak, mencerna informasi ini. Revan telah menunjukkan inisiatif yang tidak terduga, terutama setelah kejadian buruk semalam. Semangatnya seolah-olah menyala lebih terang dari matahari pagi yang baru muncul. Namun, pikirannya kembali ke malam sebelumnya, sebuah malam yang penuh kejadian dramatis. Semalam, sebelum pulang dari rumah sakit, Sophia sedang merapikan dokumen di mejanya ketika pintu kantornya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Kirana, salah satu perawat senior di unit VVIP, masuk dengan wajah yang penuh amarah, seolah-olah badai telah mengamuk di dalam dirinya. "Dokter Sophia!" seru Kirana dengan nada tajam dan suara bergetar penuh kemarahan, "Apakah Anda yang menugaskan Revan untuk mengurus pasien nenek demensia?" Sophia, terkejut oleh kemunculan tiba-tiba Kirana, mengangkat alis dan menatap wanita yang marah itu dengan penuh rasa ingin tahu. "Iya, saya yang menugaskannya. Kenapa?" jawabnya dengan nada tenang, berusaha menjaga ketenangan di tengah gelombang emosi Kirana. Reaksi tenang Sophia hanya membuat Kirana semakin marah. Wajah Kirana memerah seperti matahari yang tenggelam, marah bukan hanya karena situasi tetapi juga karena merasa dihianati. "Anda menugaskannya? Apakah Anda sengaja ingin menindas Revan karena dia dokter baru di unit ini? Kenapa menugaskan dia untuk mengurus pasien yang kita semua tahu sangat membenci laki-laki?" Sophia menatap Kirana dengan tatapan tenang, meskipun dalam hatinya ada getaran ketidaknyamanan. "Kirana, maksud saya bukan seperti itu. Setiap dokter di sini harus siap menangani semua jenis pasien, termasuk yang paling sulit," jawabnya, suaranya tenang dan penuh kepercayaan diri. Namun, Kirana tampaknya tidak terpengaruh oleh penjelasan Sophia. "Tetapi, Dokter Sophia, Anda tahu bahwa pasien itu memiliki masalah dengan pria. Revan dipukul, dilempar barang, dan hampir terluka serius. Kenapa Anda menugaskannya? Apakah Anda tidak tahu atau tidak peduli?" Sophia hanya tertawa samar, melihat Kirana yang berdrama seolah-olah Sophia telah melakukan kejahatan besar. "Kirana, kadang-kadang kita harus memberikan kesempatan kepada orang untuk belajar dan tumbuh. Revan adalah dokter yang berbakat, dan dia harus belajar menghadapi tantangan seperti ini. Itu bagian dari proses." Kirana tampaknya belum puas, dan kemarahan di matanya semakin menyala. "Tapi dia hampir terluka, Dokter Sophia. Kita tidak bisa membiarkan dokter baru menghadapi risiko seperti itu tanpa dukungan yang memadai." Sophia menghela napas dalam-dalam, merasa frustasi dengan argumen yang tampaknya tak berujung. "Kirana, aku menghargai kepedulianmu, tapi aku juga percaya bahwa setiap dokter perlu menghadapi tantangan untuk berkembang. Kita semua pernah melalui masa-masa sulit, dan aku yakin Revan bisa mengatasinya." Dengan satu gerakan cepat, Kirana keluar dari kantor, meninggalkan Sophia dalam kebisingan pikiran dan perasaan yang campur aduk. Di luar, suasana malam terasa dingin dan sunyi, mencerminkan ketenangan yang mulai menutupi kegalauan hati Sophia. ** Setelah percakapan dengan Jay yang penuh teka-teki, Sophia memutuskan untuk mengabaikan saran Jay dan kembali fokus pada briefing pagi yang dijadwalkan. Meskipun Jay meminta Sophia untuk memeriksa situasi Revan di ruangan pasien, Sophia memilih untuk melanjutkan agendanya dan baru akan memeriksa situasi Revan saat melakukan visit pasien. Dalam hati, ia bertekad untuk tidak membiarkan kekhawatiran mengganggu perencanaannya. Briefing pagi itu berlalu seperti biasa, dengan pembicaraan rutin tentang jadwal dan perkembangan pasien. Sophia duduk dengan penuh perhatian, matanya mengikuti setiap detail yang dibahas. Di balik fokus profesionalnya, pikirannya terus kembali kepada Revan dan kejadian malam sebelumnya. Meskipun ia mencoba untuk tidak memikirkan hal tersebut, rasa ingin tahunya semakin membesar seiring dengan berjalannya waktu. Akhirnya, saat yang dinantikan tiba—waktu untuk melakukan visit pasien. Sophia melangkah menuju ruangan pertama yang terdaftar dalam jadwalnya—ruangan pasien VVIP, yaitu nenek demensia yang menjadi tugas pertama Revan. Dia tahu betul bahwa ruangan ini dikenal dengan ketidaknyamanan pasien terhadap dokter pria. Dengan hati-hati, Sophia membuka pintu ruangan dan melangkah masuk, siap untuk menilai situasi dengan penuh perhatian. Namun, saat pintu terbuka, Sophia terkejut dengan pemandangan yang menyambutnya. Nenek demensia, yang sebelumnya dikenal sangat agresif terhadap pria, kini terlihat dengan santai dan bahkan bergelayut manja di lengan Revan. Revan, meskipun masih terlihat lelah dan sedikit berantakan, tampak berusaha keras menjaga ketenangan dan merespons dengan lembut. Sophia mengerutkan alis, perasaan terkejut dan heran menyelimuti dirinya. Bagaimana bisa? Hatinya bertanya-tanya tentang perubahan dramatis ini, seolah-olah sebuah teka-teki rumit telah terpecahkan di hadapannya. Di dalam ruangan yang hangat, Revan tampak seperti seorang pelindung yang penuh kasih. Nenek itu, dengan mata yang lembut dan wajah yang damai, tampaknya merespons dengan sikap yang jauh berbeda dari malam sebelumnya. Revan, dengan lembut dan sabar, berbicara pada nenek itu dengan nada yang menenangkan. "Ayo makan, Nenek. Makanan ini enak, dan saya yakin kamu akan menyukainya," ucapnya sambil mengatur nampan makanan di meja samping tempat tidur. Sophia berdiri di pintu ruangan, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia mengamati bagaimana Revan dengan lembut membujuk nenek itu untuk makan, dan bagaimana nenek itu merespons dengan sikap yang jauh berbeda dari malam sebelumnya. Revan tampak penuh kesabaran, dan cara dia berbicara seolah-olah benar-benar memahami kebutuhan dan perasaan pasien. Rasa ingin tahu Sophia semakin membuncah. "Bagaimana bisa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN