Senyum-Senyum Sendiri

881 Kata
Ketika Sophia memasuki ruangan pasien VVIP, pemandangan di depan matanya membuatnya tertegun. Revan, yang sebelumnya hanya dikenal karena kegagalannya dalam tugas pertama, kini tampak seperti seseorang yang baru. Dia tidak hanya berhasil mengantar makanan ke pasien nenek demensia, tetapi juga berhasil membangun hubungan yang sangat berbeda dari yang diharapkan. Nenek itu, yang sebelumnya dikenal sangat agresif terhadap pria, kini tampak nyaman dan tenang. Dia memandang Revan dengan penuh kasih sayang, bahkan bergelayut manja di lengan Revan yang tetap tenang dan sabar. Sophia merasa seolah-olah ada sesuatu yang berubah drastis dari malam sebelumnya. Saat Revan melihat Sophia memasuki ruangan, dia berdiri dengan percaya diri dan menghampirinya. Wajahnya tampak puas, dan ada kilau kemenangan di matanya. "Dokter Sophia," ucap Revan, nada suaranya penuh kepuasan, "Saya rasa saya berhasil melaksanakan tugas pertama dengan cukup baik. Nenek ini sekarang tampaknya sangat nyaman dengan kehadiran saya." Sophia, yang awalnya ingin memberikan umpan balik atau evaluasi, tiba-tiba merasa fokusnya teralihkan. Penampilan Revan sangat berbeda dari biasanya. Dia mengenakan pakaian resmi dengan jas yang rapi, seolah baru saja menghadiri pertemuan penting. Penampilannya begitu mengesankan, tampak seperti CEO muda yang menawan, jauh dari kesan dokter baru yang sebelumnya tidak menonjol. Melihat perubahan itu, Sophia merasa terkejut dan sedikit bingung. Sikap dan penampilan Revan yang tiba-tiba berubah membuatnya merasa bahwa ada lebih banyak hal yang perlu dipertimbangkan daripada hanya hasil dari tugas tersebut. Namun, meskipun terkesan, Sophia memilih untuk tetap acuh dan tidak memberi komentar lebih lanjut tentang penampilan Revan. Setelah menyelesaikan kunjungan ke semua ruangan pasien VVIP, Sophia kembali ke ruangannya dengan pikiran yang penuh pertanyaan. Dia terhanyut dalam pikirannya, mencoba memahami bagaimana Revan bisa mendekati pasien demensia yang sebelumnya sangat sulit dijangkau. Ketika dia duduk di mejanya, dia tidak sadar bahwa Dewi telah berdiri di depannya, menunggu dengan ekspresi penuh teka-teki. Tiba-tiba, Dewi muncul dari balik pintu yang terbuka, membuat Sophia terkejut. "Hayo mikirin siapa?" tanya Dewi dengan nada santai, namun matanya menyiratkan rasa ingin tahu. "Jangan bilang mikirin Revan, ya?" Sophia langsung merasa terjaga dari lamunannya. Dengan sedikit rasa malu, dia mengalihkan tatapannya dari meja kerjanya dan menjawab, "Ah, tidak ada apa-apa. Hanya memikirkan beberapa hal." Dewi tertawa kecil, merasakan kejanggalan dalam respons Sophia. "Oh, jadi kamu sedang memikirkan Revan, ya? Jangan khawatir, banyak orang yang penasaran tentang bagaimana dia bisa berhasil dengan pasien demensia itu." Sophia menatap Dewi dengan minat yang mendalam, merasa ada sesuatu yang penting yang ingin diungkapkan oleh Dewi. "Kamu tampaknya tahu sesuatu tentang itu," kata Sophia, suaranya penuh dengan keingintahuan. "Apa yang kamu ketahui tentang bagaimana Revan berhasil?" Dewi mendekat, mengerling dengan senyum misterius. "Sebenarnya, aku tahu bagaimana Revan bisa berhasil. Ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang dia dan pendekatannya yang mungkin tidak langsung terlihat." Sophia, semakin penasaran, mendorong kursinya sedikit lebih dekat ke meja Dewi. "Ayo, ceritakan padaku. Aku ingin tahu apa yang membuat Revan bisa sukses dengan tugas pertamanya itu." ** Revan telah memutuskan untuk datang lebih awal dari biasanya, memanfaatkan ketenangan pagi untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai pasien yang akan menjadi tanggung jawabnya—seorang nenek demensia yang terkenal sangat sulit berinteraksi dengan laki-laki. Di ruang medis yang sunyi, Revan menyelidiki data pasien dengan teliti. Setelah beberapa saat, dia akhirnya menemukan sebuah rincian yang sangat penting: ternyata hanya ada satu laki-laki yang bisa membuat nenek itu merasa nyaman, yaitu putra tunggalnya. Menurut catatan, putra tunggal nenek tersebut adalah seorang pebisnis sukses yang sangat sibuk, sehingga jarang mengunjungi ibunya. Keberadaan putra tunggalnya adalah satu-satunya yang tidak membuat nenek itu histeris—sebuah informasi yang sangat berharga untuk Revan. Revan memutuskan untuk menggunakan informasi ini sebagai strateginya. Dengan tekad yang kuat, dia mulai mempersiapkan diri. Dia memilih pakaian yang sangat formal: jas gelap, dasi yang rapi, dan sepatu kulit yang mengkilap. Penampilannya dirancang untuk meniru gaya seorang CEO muda yang sukses—seperti sosok yang dikenal nenek itu. Revan tahu bahwa untuk mendekati nenek dengan sukses, dia harus memproyeksikan citra yang sama dengan yang biasa dilihat nenek, atau setidaknya citra yang dapat diterima olehnya. Ketika dia selesai berdandan, Revan menatap dirinya di cermin dengan rasa puas. Dia merasa yakin bahwa penampilannya akan menciptakan kesan yang tepat. Dengan langkah penuh percaya diri, dia meninggalkan ruang persiapannya dan menuju ke unit VVIP, siap menghadapi tantangan berikutnya. Sesampainya di unit VVIP, Revan melangkah menuju ruangan pasien nenek dengan hati-hati. Saat dia membuka pintu dan masuk, suasana di dalam ruangan terasa sejuk dan tenang. Nenek demensia itu duduk di tempat tidurnya, tampak agak bingung tetapi tidak berteriak seperti sebelumnya. Revan memperkenalkan dirinya dengan suara yang lembut namun penuh otoritas, berusaha mengimitasi nada bicara seorang pebisnis yang sukses. Sophia duduk di meja kerjanya sambil memikirkan apa yang baru saja diceritakan oleh Dewi. Kisah tentang bagaimana Revan berhasil mendekati pasien demensia dan memecahkan tantangan yang tampaknya mustahil, membuat Sophia tak bisa menahan senyumnya. Terutama setelah mengetahui betapa kerasnya Revan berusaha—sesuatu yang sebelumnya tidak dia duga dari pria yang awalnya dia pandang sebelah mata. ** Sophia merenung sejenak sambil tersenyum puas. Dia mengangkat jempolnya secara diam-diam, menghargai usaha dan dedikasi Revan yang tampaknya berusaha untuk membuktikan dirinya. "Bagus sekali," gumamnya dalam hati, merasa sedikit bangga atas hasil kerja Revan yang mengejutkan itu. Namun, senyumnya tidak luput dari perhatian Dewi, yang berdiri di dekat pintu ruangan, menyaksikan perubahan ekspresi Sophia. Dengan nada usil dan penuh perhatian, Dewi menggodanya, "Ciyee yang mulai senyum-senyum sendiri!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN