Di tengah kesibukan rumah sakit, suasana tiba-tiba memanas dengan suara alarm yang menggema. Code Blue terdengar dari salah satu ruangan pasien VVIP, menarik perhatian semua yang berada di sekitarnya.
Sophia, yang sedang tenggelam dalam tumpukan rekam medis, langsung bangkit dan berlari menuju sumber suara dengan langkah cepat namun ten
Sesampainya di ruangan, Sophia melihat Jay, dokter residen yang bertugas, sedang melakukan CPR dengan penuh dedikasi.
Di sampingnya, Dewi, perawat yang bertugas, siap dengan defibrilator, mempersiapkan diri untuk melakukan kejut jantung.
Namun, situasi di ruangan tersebut tampak penuh ketegangan, dan wajah Jay serta Dewi menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
Sophia menilai keadaan sejenak dan cepat mengambil keputusan. "Hentikan CPR dan jangan lakukan kejut jantung," perintahnya dengan tegas, suara Sophia memecah kekacauan yang ada.
Dewi, yang tampaknya bingung, menoleh pada Sophia dengan tatapan penuh pertanyaan. "Kenapa, Dokter Sophia? Kenapa tidak bisa melakukan kejut jantung?"
Sophia, dengan wajah yang tetap serius namun penuh empati, menunjukkan rekam medis pasien yang terbuka di tangannya.
"Berdasarkan catatan di rekam medis pasien ini, ada formulir DNR yang telah ditandatangani. DNR, atau Do Not Resuscitate, berarti pasien ini telah memilih untuk menolak segala bentuk tindakan resusitasi seperti CPR atau kejut jantung jika denyut jantungnya berhenti."
Jay dan Dewi saling berpandangan, keduanya jelas belum sepenuhnya menyadari implikasi dari pernyataan Sophia. Jay membuka mulutnya, mencoba memahami. "Apakah kamu yakin dengan informasi ini?"
Sophia mengangguk dengan mantap, tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Ya, saya yakin. Saya sudah memeriksa rekam medisnya dengan teliti. Tugas kita adalah menghormati keputusan pasien dan mengikuti prosedur sesuai dengan permintaan yang telah mereka buat."
Dewi, dengan wajah yang terlihat semakin khawatir, bertanya lagi, "Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Sophia menarik napas dalam-dalam dan menjawab dengan penuh tanggung jawab, "Saya akan menjelaskan situasi ini kepada keluarga pasien.
Itu adalah bagian dari tanggung jawab saya untuk memastikan mereka memahami keputusan ini dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan dalam situasi yang sulit ini."
Dengan keputusan yang diambil, Sophia mengarahkan pandangannya kepada Jay dan Dewi. "Kalian bisa menunggu di luar ruangan sementara saya menyampaikan kabar kepada keluarga pasien."
Sophia mengeluarkan napas berat saat dia keluar dari ruang pasien dan menuju area di mana keluarga pasien sedang menunggu dengan cemas. Wajah mereka tampak penuh harapan yang hancur saat Sophia mendekat.
Dia memulai dengan suara lembut, berusaha menyampaikan kabar buruk dengan sebaik mungkin. "Saya minta maaf, tetapi detak jantung pasien sudah berhenti. Menurut rekam medis, pasien telah menandatangani formulir DNR—Do Not Resuscitate—yang berarti dia menolak tindakan resusitasi seperti CPR atau kejut jantung."
Namun, penjelasan Sophia tampaknya tidak diterima dengan baik. Keluarga pasien, yang jelas merasa putus asa dan marah, mulai berteriak. "Jadi, kamu hanya membiarkan dia mati begitu saja?!" bentak salah satu anggota keluarga. "Apa kamu hanya bisa berdalih dengan formulir itu?!"
Putra sulung pasien, seorang pria berbadan kekar, melangkah maju dengan marah dan menarik kerah Sophia. "Kamu akan bertanggung jawab atas kematian ayah kami! Kami akan menuntut kamu dan rumah sakit ini atas dugaan malpraktik!"
Sophia tertegun, merasakan ketegangan di tenggorokannya. Dia memahami betul bagaimana reaksi keluarga pasien ketika harus menghadapi situasi seperti ini, terutama ketika mereka tidak tahu bahwa formulir DNR itu adalah keputusan akhir dari pasien yang harus dihormati.
Namun, suasana semakin memanas ketika tiba-tiba Revan muncul di antara kerumunan. Dengan tegas, dia melepaskan tangan putra sulung pasien dari kerah Sophia dan sedikit mendorong pria itu menjauh.
"Tunggu sebentar!" seru Revan, suaranya tegas dan penuh otoritas. "Sesuai aturan, dokter harus menghargai keputusan pasien. Tidak ada yang bisa dilakukan jika pasien telah menandatangani formulir DNR. Kamu tidak berhak bersikap kasar kepada Sophia."
Pertikaian segera pecah antara keluarga pasien dan Revan. Suara bentakan dan teriakan memenuhi lorong rumah sakit, sementara Sophia berdiri di samping, terdiam melihat kekacauan yang terjadi. Revan, dengan sikap yang penuh semangat membela, terus berbicara dengan keras, membuat suasana semakin tegang.
Sampai akhirnya, Sophia merasa terpaksa menarik Revan menjauh dari tempat itu. Mereka berdua bergerak ke lorong yang sepi, jauh dari keributan yang masih berlangsung di area keluarga pasien. Di sana, tanpa kata basa-basi, Sophia menghadapi Revan dan memberi tamparan yang cukup keras ke pipinya.
Revan terkejut dan menatap Sophia dengan ekspresi campur aduk. Sophia, dengan suara bergetar dan penuh emosi, mengeluarkan kemarahannya. "Kenapa kamu selalu ikut campur dalam urusan saya, Revan?!" katanya dengan nada yang penuh gairah. "Apa kamu tidak bisa membiarkan saya menyelesaikan masalah saya sendiri tanpa harus berlagak pahlawan?"
Revan, masih terkejut dengan tamparan dan kemarahan Sophia, mencoba menjelaskan. "Saya hanya ingin membantu. Saya tidak ingin melihatmu diperlakukan tidak adil."
Sophia menghela napas berat, masih berusaha menahan emosinya. "Terkadang, bantuanmu hanya memperburuk keadaan. Aku tahu apa yang harus kulakukan, dan aku tidak membutuhkanmu untuk mencampuri urusanku."
Revan menatapnya, mengerti bahwa dia telah melangkah terlalu jauh. "Maafkan aku, Sophia. Aku hanya—"
"Ya, aku tahu," potong Sophia, "Tapi lain kali, cobalah untuk tidak terlalu terlibat. Aku bisa mengurus diriku sendiri."