(Pov Dion)
Pagi itu setelah malam pengantin aku harus segera Kembali ke Surabaya. Aku tidak bisa mengambil cuti, karena selain baru 2 minggu bekerja di kantor, juga tidak ada izin cuti menikah. Tentu saja karena kemarin aku ke Jogja hanya berniat menjadi tamu undangan.
Minggu depan aku akan menjemput Aira untuk tinggal bersama di Surabaya. Sekarang dia masih mengurus surat mutasi untuk pindah kuliah di Surabaya. Sedangkan aku sedang mencari-cari rumah kontrakan yang cocok untuk tempat tinggal kami.
Pagi itu juga aku terbang dari Jogja ke Surabaya dengan perasaan yang bahagia. Hidupku kini lebih berwarna dengan adanya seorang istri yang sudah lama aku dambakan. Akhirnya aku mendapat rumah kontrakan yang lumayan dekat dengan kantor dan juga dekat dengan kampus yang akan dipakai Aira melanjutkan studinya.
Suatu pagi, sebelum berangkat ke kantor aku mampir sarapan soto ayam di rumah makan milik teman paman Hendro yang letaknya tak jauh dari bandara Juanda. Suasana rumah makan sangat ramai, sampai-sampai aku hampir tak kebagian tempat duduk. Ketika sedang asyik menikmati soto ayam khas Lamongan, mataku menangkap sosok yang tak asing lagi dalam pandanganku sedang makan soto ayam juga di sana.
Wawan? Jadi, dia ada di Surabaya? Segera aku berdiri dari tempat dudukku dan menghampiri Wawan. Menyadari kedatanganku Wawan langsung berdiri dan lari menghindar.
"Wawan, tunggu! Jangan lari pengecut! " Aku geram, dan mengejar Wawan yang masih terus berlari menjauh.
Aku tak berhenti mengejarnya. Aku ingin membuat perhitungan dengan lelaki b******k itu, karena telah meninggalkan Aira di hari pernikahan mereka. Namun, dia menemukan taxi dan langsung kabur dengan bersamanya.
"Sial! “ umpatku kesal. Jadi, dia melarikan diri ke Surabaya. Urusan kita belum selesai. Tunggu saja, Wan. Kukepalkan tanganku karena geram.
Akhir pekan tiba, saat dimana aku akan memboyong istriku ke Surabaya.
Setelah sedikit drama tangis-tangisan dengan Abah dan Umi akhirnya kami berangkat ke Surabaya dengan kereta api supaya lebih santai, mengingat barang bawaan Aira cukup banyak. Biasalah cewek.
Aira tak begitu mengkhawatirkan Abah dan Umi, karena sekarang Bang Baim sudah menetap di Jogja. Dia mengajar di pesantren Nurul Ummah.
Jam 6 pagi saat kereta api jurusan Jogja-Surabaya berangkat, di dalam kereta aku bertemu seorang wanita yang sepertinya aku kenal. Dia adalah Rania, teman semasa SMA yang dulu naksir berat sama aku.
"Dion, kamu Dion, kan? Wah, berapa tahun kita gak ketemu, ya? Kamu gak berubah Yon, tetep ganteng.“ Cewek bertubuh tinggi dengan rambut cepak sebahu dan memakai baju ketat itu spontan memelukku.
Aku terkejut, lalu melirik ke arah Aira yang juga sama terkejutnya denganku. Istriku itu melempar pandangan ke luar jendela kereta api. Reflek aku melepaskan pelukan Rania, aku tahu Aira cemburu. Apa itu berarti dia mulai mencintaiku?
"Maaf, Ran! Malu dilihat orang," ucapku sambil mengambil jarak dari cewek centil ini.
"Eh Yon, ini siapa? Adik kamu, ya?“ Rania menunjuk ke arah Aira.
"Aku istrinya," sahut Aira seraya mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Rania.
"Istrinya?" tanya Rania terkejut. Aira hanya tersenyum yang terpaksa dan mengangguk, lalu kembali pandangannya terlempar ke luar jendela. Dia nampak cemburu atau marah. Lucu juga wajahnya kalau lagi marah.
"Kamu sudah menikah, Yon? Kok gak ngundang aku dan anak-anak alumni, sih?" Rania tampak kecewa, bibirnya cemberut.
"Ya, maaf. Aku lupa," jawabku sekenanya.
"Kamu sendiri sudah menikah?" Aku balik bertanya.
"Belum, belum ada yang seperti kamu, Yon." jawabnya sambil melirik Aira. Istriku itu menoleh sebentar dan kembali pandangannya terlempar keluar jendela.
"Eh, becanda aku. Ya udah aku duduk di sana, ya. Kapan-kapan boleh aku main, kan?“ Si centil itu menaikkan alisnya. Aku hanya mengangguk geli. Akhirnya dia pergi juga. Lega rasanya.
Sepanjang perjalanan, Aira hanya diam. Apa dia marah karena aku ngobrol dengan Rania? Ah, dia cemburu. Ehm ....
Hari-hariku dengan Aira sebagai istri kulalui penuh kebahagiaan. Kesibukanku tiap hari ke kantor dan dia kuliah. Namun, tak mengurangi waktu kebersamaan kami. Pelan-pelan mulai tumbuh rasa cintanya untukku hingga 6 bulan pernikahan kami dia memberikan sesuatu yang sangat berharga miliknya. Dia mengizinkan aku menunaikan nafkah batin yang selama ini tertunda. Mahkota kehormatan seorang wanita telah dia berikan untukku, suaminya. Betapa terasa sempurna hidupku. Akhirnya wanita yang kucintai bisa menjadi milikku seutuhnya.
Dua tahun berlalu sejak pernikahan kami, Aira mulai sibuk mengerjakan skripsi. Dia berharap segera menyelesaikan kuliahnya dan bisa fokus memiliki buah hati untuk melengkapi kebahagiaan rumah tangga kami.
Suatu pagi, aku melihat Aira masih tidur Tak biasanya sehabis sholat subuh dia tidur lagi. Padahal ini sudah jam setengah tujuh. Dia juga tidak masak, padahal setiap pagi dia selalu membuatkan sarapan untukku.
"Dek, kamu sakit?" Aku mengguncang pelan tubuh istriku yang masih tidur.
"Hmm ... iya, Mas. Kayaknya anemiaku kambuh. Aku pusing."
"Aku ijin kerja saja, ya! Nanti kita ke dokter," tawarku.
"Jangan, Mas! Mungkin aku hanya kecapean. Aku lagi fokus mengerjakan skripsi, jadi anemiaku kambuh."
"Makanya kita ke dokter. Gak papa, aku bisa ijin tidak masuk kantor."
"Gak usah Mas, kamu kan barusan naik jabatan. Jangan sering ijin. Insya Allah aku baik-baik saja. Nanti aku bisa naik taxi online. Kamu berangkat kerja, gih. Udah kesiangan. Oh iya, maaf tadi aku gak masak. Kamu sarapan di kantin kantor saja, ya!"
"Iya, gak papa, Dek. Beneran gak mau kuantar?" tanyaku lagi. Aira menggeleng.
"Ya udah, hati-hati! Jangan lupa makan, pesan makanan online saja! Kalau ada apa-apa segera telpon aku, ya!“
“Ya, Mas. Insya Allah."
Aku pun berangkat ke kantor. Sebenarnya perasaanku gak enak, tapi khusnu udzon saja. Semoga Allah menjaga istriku.
Sore hari ketika akan pulang kantor ada pesan masuk dari Rania melalui aplikasi hijau. Mau apa lagi cewek centil itu menghubungiku. Gk menyerah juga dia mendekati aku, padahal sejak dulu sudah aku tolak.
[Dion, aku sudah didepan kantormu. Aku ingin bicara penting.]
[Maaf Ran, aku harus segera pulang. Istriku sudah menunggu. Dia lagi sakit.]
[Aku punya info penting tentang istrimu, kamu bakal nyesel kalau tidak menemuiku]
Aku mengernyitkan dahi, strategi apa lagi yang akan dilalukan cewek centil ini buat mendekatiku. Aku penasaran info penting apa tentang Aira yang dia tau?
[Oke. Kita ketemu di mana] akhirnya kukirim pesan itu.
[Di cafe depan kantormu, aku tunggu sekarang]
Aku bergegas keluar kantor dan menuju kafe yang dimaksud Rania. Semoga dia tidak menipuku. Aku melihat Rania melambaikan tangan di sudut kafe. Aku pun menghampirinya.
"Akhirnya kamu mau juga ketemu aku." Rania yang centilnya gak ketulungan itu langsung memegang erat tanganku tapi aku lepas dengan pelan.
"Info apa yang kamu tau tentang istriku, jangan menyebar fitnah ya!" ancamku tanpa basa basi.
"Sabar dikit, Yon. Ehm, tapi jangan kaget, ya. Kalau istrimu yang terlihat alim itu ternyata--"
"Ternyata apa?"
"Ternyata berselingkuh."
"Aku pulang, Ran. Aku kesini bukan untuk mendengarkan ocehan gak jelas dari kamu." ucapku sambil berdiri meninggalkan Rania. Mana mungkin aku percaya ucapan cewek centil ini. Aira tidak mungkin berselingkuh dariku.
"Tunggu, Yon! Aku punya bukti." Rania menarik pergelangan tanganku.
"Ini, lihat foto-foto ini!" Rania menyerahkan ponselnya.
Aku mulai melihat satu persatu foto dalam ponsel Rania. Seketika badanku lemas, jantung bedegup kencang. Aku tak percaya melihat foto-foto itu. Benarkah yang kulihat adalah Aira, istriku yang sholihah yang sangat kucintai?
Aira periksa ke rumah sakit ditemani Wawan? Bahkan Wawan memeluk dan menggendong Aira masuk ke ruang periksa. Tubuhku bagai tertimpa reruntuhan bangunan. Hatiku terasa disayat belati yang tajam.
Aku masih tak percaya dengan yang kulihat. Sejak kapan Aira berhubungan dengan Wawan? Memang Wawan ada di Surabaya tapi aku tak menyangka dia akan bertemu bahkan berhubungan lagi dengan Aira.
Pantas saja tadi pagi Aira tidak mau aku antar ke dokter, rupanya sudah ada Wawan, jadi selama ini dia belum benar-benar melupakan lelaki b******k itu? Aaargghhh, tiba-tiba dadaku terasa sesak. Begini rasanya dikhianati, sakit sekali.
Benarkah Aira berselingkuh dengan Wawan?
Bagaimana bisa Rania mendapatkan foto-foto kemesraan Wawan dan Aira di rumah sakit? Hatiku dipenuhi banyak tanya.