(Pov Dion)
"Saya terima nikah dan kawinnya Khumaira binti H. Abdullah dengan maskawin tersebut dibayar tunai," ucapku lantang dan lancar.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
“Saaahhhh."
"Alhamdulillah," seru para hadirin malam itu. Abah Abdullah mengundang banyak sekali tamu untuk menghadiri akad nikah sekaligus resepsi pernikahan Aira yang berakhir dengan aku sebagai pengantin pengganti. Bodoh sekali Wawan sampai dia meninggalkan gadis secantik Aira tepat di hari pernikahan mereka. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu, yang jelas ini adalah suatu keberuntungan untukku. Kini Aira telah sah menjadi milikku, meskipun belum sepenuhnya karena hatinya masih menjadi milik Wawan. Aaarrgghh, kesal sekali aku jika mengingat cowok b******k itu.
Setelah Pak Penghulu membacakan doa, Aira menjabat dan mencium punggung tanganku. Entah kenapa hatiku bergetar saat tangan dinginnya bersentuhan dengan tanganku. Aku pun mencium keningnya. Bibirku terasa hangat saat mendarat sempurna di kening Aira. Rasanya aku seperti mimpi. Benarkah princess kecilku ini kini jadi milikku? Rasanya aku ingin berteriak dan memberitahukan pada seluruh dunia, bawa aku saat ini benar-benar sangat bahagia.
Raut bahagia pun terpancar dari wajah Abah Abdullah, Umi Khadija dan juga Bang Baim. Aku benar-benar tidak menyangka kalo hari ini beneran ada. Hari ini akan datang dalam hidupku.
Awalnya aku tidak ingin pulang ke Yogya untuk menghadiri pernikahan Aira, karena aku tau pasti hatiku akan sangat sakit melihat orang yang kucintai bersanding dengan pria lain. Namun, aku berubah pikiran setelah Andi dan Aida membujukku. Aku memang berhutang budi pada dua sahabatku itu. Mereka sangat gigih membujukku untuk mau datang ke pernikahan Aira hari ini. Ternyata takdir memang sangat baik padaku. Aku yang semula hanya ingin datang sebagai tamu undangan malah sekarang duduk di pelaminan sebagai pengantin pria. Sungguh ini adalah jawaban dari doa-doaku yang tanpa putus kupanjatkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sekilas aku melirik wajah Aira. Wanita yang kini sah menjadi istriku itu tampak sendu. Buliran cairan bening tak henti menetes dari pelupuk matanya, meski sudah diusap berkali-kali dengan tisu. Kedua matanya tampak bengka, tapi cairan bening itu terus mengalir bak air sungai yang sulit dibendung.
Ya Allah ... kenapa dengan Aira? Apa dia menyesal menikah denganku? Begitu besarkah cintanya untuk Wawan. Aarrghhh, kalau ingat cowok b******k itu ingin sekali kuhajar habis dia. Sudah aku peringatkan jangan mempermainkan Aira. Eh, malah dia pergi tepat dihari pernikahan.
Aku tak tega melihat kesedihan di mata Aira. Namun, aku juga tak berani bertanya apapun. Aira pasti sedang sangat terguncang. Wanita mana yang tidak sedih jika ditinggalkan calon suaminya tepat di hari pernikahan, bahkan tamu undangan sudah banyak yang hadiri. Aira pasti sedih, kesal dan juga marah dalam waktu yang bersamaan. Meskipun aku bukanlah seorang wanita, tetapi aku bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan Aira. Dia pasti sangat kecewa.
Sepanjang acara, Aira berusaha membedung air mata agar tidak mengundang kecurigaan tamu undangan, meskipun sebagian dari mereka sudah mulai berbisik-bisik karena pengantin wanita terlihat tidak bahagia. Aku memeranikan diri meraih kedua tangan Aira, lalu memegangnya erat.
"Jangan menangis lagi, Aira. Sungguh aku tidak tega melihatmu seperti ini," bisikku lirih.
"Maaf, Kak. Maafkan aku," balasnya lirih. Aku pun memberanikan diri merangkul bahunya. Aira pun menyandarkan kepalanya di dadaku sambil terisak lirih.
"Terima kasih, Kak.Terima kasih sudah menolongku hari ini," ucapnya lirih.
"Sssttt, sudahlah. Aku bahagia melakukannya, Ra. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucapku sambil mempererat pelukan. Tak peduli jika para tamu melihat kami sambil berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan.
Setelah acara resepsi selesai, Aira segera masuk kamar untuk berganti pakaian. Sementara aku masih duduk di depan berbincang-bincang dengan Andi dan Baim. Eh, maksudku Bang Baim. Meskipun kami seumuarn, tapi aku harus panggil dia Bang karena sekarang dia sudah jadi Abang iparku.
"Sudah malam sebaiknya kita bubar, ngasih kesempatan pada pengantin baru," ucap Bang Baim menggodaku sambil tertawa lebar.
"Iya deh, aku pamit pulang dulu takut ganggu," balas Andi sambil terkekeh geli.
"Yon, pelan-pelan saja, ya," bisiknya kemudian sambil membungkam mulut agar tidak tertawa.
"Beress," jawabku sambil senyum-senyum. Sebenarnya aku grogi sekali, apa setiap orang yang baru menikah merasakan seperti ini? Ah, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku terlalu bahagia.
Dengan semangat empat lima yang berkobar, aku melangkah memasuki kamar Aira, kamar pengantin kami. Perlahan aku membuka gagang pintu.
"Assalamualaikum," ucapku sembari masuk kamar.
"Wa alaikum salam," jawab mereka bertiga Rupanya di dalam kamar ada Abah Abdulla dan juga Umi Khadija yang sedang berbincang dengan Aira yang kini telah berganti memakai baju tidur berupa piyama panjang dan jilbab instan. Ah, padahal aku membayangkan dia pakai lingerie yang seksi. Ah, rupanya otakku sudah mulai oleng. Pikiranku mulai m***m membayangkan malam pertama yang akan kau tempuh bersama Aira.
"Aira, Dion sekarang sudah jadi suamimu. Berbaktilah pada suamimu, Nduk. Sudah jangan ingat-ingat Wawan lagi. Mungkin dia memang bukan jodohmu. Abah yakin pilihan Allah adalah yang terbaik untukmu," ucap Abah memberikan wejangan.
"Njih, Bah," balas Aira masih dengan berlinang air mata. Wanita itu mengangguk, tak berapa lama kemudian Abah Abdullah dan Umi Khadija meninggalkan kamar. Kini tinggallah aku berdua dengan Aira. Aku mendekati Aira yang duduk ditepi ranjang pengantin yang dihias bunga-bunga nan indah.
"Kamu menyesal menikah denganku, Ra?" Entah kenapa kata itu keluar dari mulutku. Aku tak tahan melihat Aira yang terus menangis.
"Maafkan aku, Kak. Maaf," balasnya sambil menggeleng lalu menjatuhkan kepala di pelukanku.
"Menangislah di pelukanku, biar berkurang beban di hatimu, Ra," ucapku sambil mempererat pelukan. Dadaku terasa basah oleh air mata Aira.
"Aku akan belajar mencintai Kakak, tapi beri aku waktu," ucapnya lirih sambil melepas pelukanku.
Kutatap lekat wajah wanita yang kini sudah menjadi istriku ini. Perlahan kubuka jilbab instan berwarna putih yang menutup kepalanya. Hatiku berdebar karena selama ini aku hanya bisa melihat Aira dengan balutan jilbab. Dia hanya diam dan pasrah.
Kedua mataku membulat sempurna demi melihat pemandangann indah di depanku. Subhanalloh ... sungguh cantik Aira tanpa jilbabnya. Rambut hitam panjang bergelombang yang terurai membuatku kesulitan menelan saliva. Aira sungguh terlihat cantik, bak bidadari. Dengan tangan gemetar, kuhapus sisa air mata yang masih keluar dari pelupuk matanya.
Naluri kelelakian tak bisa kutahan. Aku mendekati wajah Aira dan perlahan mencium bibir tipisnya. Dia pasrah dan memejamkan mata. Ada rasa nyaman dalam kecupan ini. Saat tanganku hendak membuka kancing baju tidurnya, Aira menahan.
"Kak, beri aku waktu. Ini tidak mudah untukku. Aku tidak ingin Mas Wawan menjadi bayang-bayang pernikahan kita. Apa Kakak mau menungguku sampai aku siap?" Pertanyaannya membuat tenggorokanku tercekat. Bahkan juniorku yang tadinya sudah tegak menantang kini terpaksa harus aku tidurkan lagi. Malam itu, aku belum bisa menunaikan tugas sebagai suami dalam memberinya nafkah batin, meskipun sebenarnya aku sudah sangat ingin.
"Baiklah Ra, Aku akan menunggu sampai kamu siap," jawabku sembari kembali memeluknya erat. Akhirnya malam itu kami hanya tidur bersama dan tentunya sambil aku peluk erat tubuh mungilnya. Ah ... bahagianya. Meski malam pertama harus tertunda, tapi aku tetep bahagia.