Bab 10-Fitnah yang Keji

1385 Kata
Kehidupan rumah tanggaku dengan Mas Dion sangat bahagia (eh sekarang aku panggil dia Mas dan dia panggil aku Adek, ya biar tambah mesra aja). Tidak sulit bagiku jatuh cinta padanya. Selain baik dan romantis, dia juga tipe suami siaga. Pelan-pelan nama Wawan Setiawan terhapus dari hatiku, hanya ada satu nama, Dion Prasetyo. Dua tahun berlalu sejak pernikahanku dengan Mas Dion, aku tetap melanjutkan kuliah dan sekarang tinggal skripsi. Aku ingin segera lulus karena aku ingin segera punya buah hati agar lengkap kebahagiaan rumah tanggaku. Suatu pagi, kepalaku pusing dan badanku lemas, habis sholat subuh aku tidur lagi. Suamiku bermaksud mengantarku ke dokte,r tapi aku menolak. Aku tau suamiku baru naik jabatan, menjadi kepala humas di kantornya. Aku gak mau dia sering sering izin dari kantor kalau memang tidak mendesak. Akhirnya aku berangkat ke rumah sakit sendiri dengan taxi online. Anemiaku mungkin kambuh, memang selalu begitu kalau aku kecapean. "Aira!" panggil seseorang yang teramat aku kenal suaranya ketika sedang menunggu antrian di ruang periksa. Hanya ada dua orang yang mengantri karena memang masih pagi. Aku menoleh. Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dia? Kenapa dia ada disini setelah sekian tahun aku kubur rapat namanya? Kenapa dia harus kembali menorehkan bekas luka yang hampir mengering? "Mas Wawan?" Dia mendekatiku, meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. "Maafkan aku, Aira." Hanya itu kata yang terucap dengan air matanya yang tumpah. Segera aku tarik kedua tangan dari genggamannya. "Sudahlah, Mas. Aku sudah memaafkan mu," ucapku kemudian. "Kamu tidak ingin tau alasanku meninggalkan pernikahan kita?“ tanyanya sambil mendekat. "Aku tidak ingin mengingat-ingat lagi masa lalu, Mas. Toh semua sudah terjadi dan waktu tidak akan mungkin berputar kembali," jawabku sambil mengambil jarak dari Mas Wawan yang semakin mendekat. "Dua tahun berlalu, aku gak bisa nglupain kamu Aira. Aku masih sangat mencintaimu." Mas Wawan semakin mendekat, aku mundur beberapa langkah. "Tolong Aira, kembalilah padaku! Aku menyesal. Aku hampa tanpamu." Terlihat raut penyesalan yang mendalam diwajahnya. "Cukup, Mas. Jangan maju lagi! Kita gak mungkin bisa seperti dulu." Tiba-tiba kepalaku semakin pening, aku hilang keseimbangan dan aku terjatuh tapi dengan sigap Mas Wawan menangkap tubuhku. Aku jatuh dalam pelukan pria yang bukan suamiku. Segera kulepaskan pelukannya. "Tolong, Mas! Pergi dari sini! Jangan dekati aku lagi. Aku sudah--" Pandanganku kemudian kabur. Aku merasakan Mas Wawan menggendong tubuhku. Dengan panik dia berteriak masuk keruang periksa. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tersadar dari pingsan ketika melihat Mas Wawan memegang tanganku dan menciuminya, buliran bening terlihat di kedua sudut matanya. Segera kutarik tanganku, dan berusaha duduk. "Aira, kamu sudah sadar? Alhamdulillah! Jangan duduk dulu! Istirahatlah!“ Mas Wawan berlari memanggil dokter. "Ibu Khumaira terkena anemia. Mungkin terlalu banyak aktivitas. jadi, jangan terlalu capek. Ibu harus banyak istirahat, karena--" Dokter menjeda kalimatnya. "Karena apa, Dok?" tanya Mas Wawan khawatir. "Menurut hasil tes, istri Anda ini sedang hamil. Usianya baru sekitar 6 minggu. Jadi saya harap jangan terlalu kecapean, karena bisa menimbulkan stres dan tidak baik untuk janin nya." Dokter yang menyangka Mas Wawan adalah suamiku itu memberikan penjelasan panjang lebar. Aku dan Mas Wawan terkejut tapi aku bahagia karena berita kehamilanku. Pastinya Mas Dion akan senang bila kusampaikan berita ini kepadanya. "Maaf Dok, tapi dia bukan suami saya," tegasku pada dokter sambil melirik Mas Wawan yang sepertinya nyaman dianggap sebagai suamiku. "Oh maaf, Bu! Saya kira suaminya. Kalau begitu saya permisi." Dokter pun meninggalkan ruangan. "Kamu sudah menikah, Aira?" Gurat wajah Mas Wawan terlihat kecewa. "Iya, Mas. Aku mohon jangan ganggu aku lagi. Aku sudah memaafkanmu, Mas. Tolong, jangan masuk dalam kehidupanku lagi. Cari wanita lain dan biarkan aku bahagia." Setelah berkata demikian, aku berdiri dan mengambil tas di nakas. Segera kutinggalkan Mas Wawan yang masih bengong. Sudah tak ada tempat lagi dihatiku untukmu, Mas. Luka yang kau torehkan terlalu dalam. Aku bisa memaafkanmu, tapi bukan untuk kembali. Malam itu aku pesan makanan spesial melalui aplikasi online. Karena badanku masih lemas. Aku belum bisa masak, jadi aku pilih cara yang praktis. Aku ingin menyampaikan berita bahagia ini pada Mas Dion sambil makan malam yang romantis. Selepas Isyak, suamiku baru pulang. Tumben dia pulang malam, mungkinkah tadi lembur? Aku menyalami dan mencium punggung tangannya. Namun, entah kenapa sikap suamiku begitu dingin. Tak pernah Mas Dion seperti ini sebelumnya, dia selalu lembut dan romantis. Apa mungkin ada masalah di kantor? "Mas mandi dulu, gih! Aku sudah siapkan makan malam." "Aku sudah makan di kantor," jawabnya acuh. Deg! Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Mas, aku punya salah, ya? Kok Mas acuh begitu?" Aku mencoba bergelayut manja di lengan kekar suamiku, tapi dia segera menepisnya. "Aku capek, Dek. Aku mau tidur," katanya sambil berjalan menuju kamar kosong di sebelah kamar kami lalu menutup pintunya. Di rumah ini memang ada 2 kamar, yang satu kami tempati dan yang satunya lagi kosong, buat jaga jaga kalau Paman dan Bibi Mas Dion atau keluarga Abah dari Jogja berkunjung ke sini. Hatiku bagai di iris pisau tajam dengan perlakuan suamiku, selama dua tahun menikah baru kali ini dia bersikap seperti itu. Ada apa sebenarnya, Mas? Tak mau masalah berlarut-larut aku segera menyusul suamiku di kamar kosong sebelah. Pintunya tidak dikunci dan aku langsung masuk. "Mas, aku punya salah, ya? Aku minta maaf," ucapku sambil bercucuran air mata. Biasanya Mas Dion tidak tega jika melihatku menangis dan langsung memelukku. Namun, kali ini tidak. Dia hanya menoleh dan kembali fokus dengan ponselnya. "Mas, tolong jangan acuh begitu!" Aku mendekati suamiku dan duduk di ranjang tepat di sampingnya. "Tanya pada dirimu sendiri, Dek. Apa yang kamu perbuat dibelakangku?" Kali ini Mas Dion menatap tajam padaku. "Aku masih tidak mengerti, Mas. Perbuatan apa?“ Mas Dion bangkit dari duduk dan menyodorkan ponselnya kepadaku. "Apa arti semua ini Dek? Jelaskan padaku!" Segera kuraih ponsel suamiku dan aku melihat ada beberapa fotoku dengan Mas Wawan. Kejadian tadi pagi di rumah sakit saat mas Wawan tak sengaja memelukku ketika aku hampir jatuh, menggendongku ke ruang periksa ketika aku hampir pingsan dan mencium tanganku saat aku belum sadar. Ya Allah, siapa yang tega melakukan fitnah keji ini. "Kenapa diam, Dek. Jawab!“ tatapan suamiku semakin tajam, kulihat api cemburu yang berkobar, dia sangat marah. "Mas ini semua tidak seperti yang Kamu pikirkan, kami hanya--" "Sejak kapan kamu berhubungan dengan Wawan? Apa kamu masih mengharapkannya? Jujurlah! Aku akan kembalikan kau padanya jika memang itu maumu. Jangan bermain di belakangku!" Dengan amarah, Mas Dion membrondongku dengan pertanyaan-pertanyaannya hingga aku tak diberi kesempatan bicara. "Kenapa diam? Jawab, Dek!" Suaranya dengan nada tinggi benar-benar menusuk hatiku. Belum pernah Mss Dion semarah ini padaku. "M-mas, aku tidak menyangka seburuk itu persangkaanmu padaku. Serendah itu aku dimatamu, hingga kau anggap aku sanggup melakukan perbuatan keji seperti di dalam foto itu." Aku menangis, tak sanggup lagi aku berkata untuk membela diriku. Aku berlari ke kamarku dan menangis sejadinya. Mas Dion tidak menyusulku ke kamar, mungkin dia masih marah. Ya Allah siapa yang tega melakukan ini, apa semua ini perbuatan Mas Wawan? Suamiku sudah tidak mempercayaiku, bagaimana jika aku menyampaikan berita kehamilanku? Bisa-bisa dia mengira ini anaknya Mas Wawan. Sebaiknya untuk sementara waktu aku pulang ke Jogja untuk menenangkan diriku, biar aku dan suamiku saling introspeksi diri. Kata dokter aku tidak boleh stres. Ya pilihan terbaik adalah pulang ke jogja. Aku yakin Allah pasti akan mengungkap kebenaran. Segera aku pesan tiket pesawat untuk penerbangan pertama besok pagi melalui aplikasi di ponselku. Alhamdulillah masih ada. Segera aku masukkan beberapa bajuku ke dalam koper. Malam itu aku tak bisa tidur, benar-benar malam yang panjang dan melelahkan. Keesokan harinya setelah menyiapkan sarapan untuk suamiku, aku bersiap berangkat ke Jogja, aku sudah pesan taxi online dan sudah menunggu di depan. "Mas, Aku minta ijin mau pulang ke Jogja," ucapku pada Mas Dion saat dia sarapan. Dia terkejut. "Tapi dek--" "Tanyakan pada pengirim foto itu, apa tujuannya, Mas. Jangan jemput aku, bila kamu masih meragukan istrimu ini." Hatiku hancur, siapa yang tega menciptakan fitnah keji ini. Aku membalikkan badanku dengan berderai air mata. "Dek, tunggu! Aku antar, ya." Rupanya Mas Dion tak tega jika aku pulang ke Jogja sendiri. "Gak usah Mas, aku sudah pesan taxi dan tiket pesawat untuk satu orang." kuraih tangan suamiku dan kucium punggung tangannya. "Assalamualaikum," ucapku sambil melangkah keluar. "Wa alaikum salam," jawabnya berat. Aku menoleh sejenak, Mas Dion terdiam dan tidak berusaha mencegahku. Ya Allah tolong tunjukkan kebenaran pada suamiku. Dengan berderai air mata aku pergi meninggalkan rumahku. Mas Dion, jemput aku jika kamu masih mencintaiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN