(Pov. Wawan)
"Jalan pahlawan, Pak" ucapku pada supir taksi. Nafasku masih ngos-ngosan ketika masuk kendaraan roda empat itu.
Untung saja Dion tidak berhasil mengejarku. Bisa babak belur aku kalau sampai ketangkap sama dia.
Dion adalah musuh bebuyutanku semenjak SMA. Dari dulu selalu saja ada hal yang membuat kami berselisih paham. Apalagi saat ini, dia pasti sudah tahu kalau aku meninggalkan Aira tepat di hari pernikahan kami. Dion sudah pasti marah dan bisa habis aku dihajarnya.
Aku sedang malas meladeni Dion, karena hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja. Jadi, untuk sementara ini aku harus menghindari makhluk bernama Dion agar aku bisa selamat dan punya masa depan pekerjaan yang bagus.
Sekarang aku memang benar-benar merasa sendiri. Dewi tak kudapat, apalagi Aira. Dua bulan setelah kejadian itu, Dewi mengabari kalau dia hamil anakku. Namun, ketika aku mengutarakan niat untuk menikahinya, dia menolak. Dia bilang bahwa sudah dinikahkan papanya dengan Robert, seorang pengusaha muda anak teman papanya.
Sudah aku duga, sampai kapanpun Om Alex tidak akan merestui hubunganku dengan Dewi, meski Dewi sudah hamil anakku.
"Nanti bila anak kita sudah besar, aku pasti mempertemukan dia denganmu, Wan. Aku janji." Hanya itu yang dikatakan Dewi saat terakhir meneleponku. Setelah itu dia tidak pernah lagi menghubungiku. Mungkin dia sudah bahagia dengan lelaki pilihan papanya.
Dua tahun berlalu, karirku di perusahaan asuransi melejit cepat, banyak klien besar yang berhasil aku gaet, sehingga kini kedudukanku di perusahaan itu lumayan tinggi. Dalam hal pekerjaan memang aku selalu beruntung, tapi tidak dalam hal asmara. Semenjak dua tahun ini aku tidak pernah berhubungan serius dengan wanita.
Entahlah, hari-hariku hanya bekerja dan bekerja. Namun, aku masih selalu mengingat Aira. Bayangan gadis mungil dengan senyuman manisnya itu selalu menari-nari di anganku. Ternyata aku benar-benar jatuh cinta pada Aira setelah aku kehilangannya. Aku belum bisa move on darinya. Bahkan dua tahun berlalu aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku masih merasa sangat bersalah karena meninggalkannya di hari pernikahan kami.
Suara rem melengking saat kakiku mendadak menginjak rem mobil. Aku menyadari seorang wanita paruh baya menyebrang tiba-tiba.
"Aarrgghhh," dengusku kesal. Rupanya aku gak fokus menyetir sehingga Rania, sekretaris, juga temanku semasa SMA, yang duduk disampingku juga sangat terkejut dan panik.
"Wan, kamu nabrak orang," teriaknya histeris sambil menutup mulut dengan tangan. Aku segera menghentikan mobil dan keluar untuk melihat wanita paruh baya yang barusan aku tabrak. Kulihat seorang wanita itu tergeletak di depan mobil dalam keadaan pingsan. Banyak orang berkerumun untuk melihat yang terjadi.
"Maaf bapak-bapak, ibu-ibu, saya akan bawa ibu ini ke rumah sakit." ucapku pada mereka yang menyaksikan kejadian itu. Segera kuangkat wanita tersebut ke dalam mobil.
"Kita bawa ke rumah sakit, Ran" ucapku sembari menutup pintu belakang mobil. Rania mengangguk. Sesampainya di rumah sakit, kami langsung menuju IGD.
"Kamu jaga dia, Ran! Biar aku urus administrasinya."
"Oke. Cepet balik ya, Wan! Mudah mudahan dia selamat." Aku mengangguk, lalu bergegas ke ruang administrasi. Setelah menyelesaikan pembayaran administrasi aku segera kembali ke IGD.
Pucuk di cinta ulampun tiba, saat perjalanan kembali ke IGD, tanpa sengaja aku melihat seorang wanita sangat aku rindukan. Wanita yang sejak tadi aku pikirkan hingga tidak fokus menyetir. Aira, benarkah itu dia? Kenapa dia bisa ada di Surabaya? Tanpa pikir panjang aku mendekati Aira. Memang benar itu Aira. Gadis mungilku itu berdiri di dekat ruang periksa dokter umum.
"Aira." panggilku pelan. Dia pun menoleh. Ya Allah, dia masih imut seperti dulu, hanya terlihat pucat, apa dia sakit? Aku mendekat, tapi dia terus menghindar. Dia bilang sudah memaafkanku. Sampai akhirnya, dia pingsan dalam pelukanku.
Aku panik, lalu kugendong dia masuk ruang periksa dokter. Ternyata dia kena anemia. Namun, satu hal yang menyayat hatiku, rupanya dia sedang hamil. Aira sudah menikah? Tiba-tiba duniaku terasa runtuh.
Aku sungguh menyesal melepas Aira, meninggalkan dia tepat di hari pernikahan kami. Waktu itu aku bingung dan tak bisa berfikir jernih, bahkan sampai sekarang pun aku belum berani pulang ke Jogja untuk menemui Mama dan Papa.
"Siapa cewek tadi, Wan?" tanya Rania ketika perjalanan pulang. Alhamdulillah wanita yang aku tabrak tadi cuma luka ringan dan setelah sadar sudah boleh pulang.
"Cewek yang mana?"
"Yang tadi kamu gendong, kamu seperti pernah dekat sama dia." tanya Rania penuh selidik.
"Dia mantanku.
"Mantan?"
Aku mengangguk. Kepo banget Rania ini. Trus dia senyum-senyum sendiri. Ah, dia waras gak, sih? Cewek centil ini memang sulit ditebak. Dua tahun kami kerja satu tim di perusahaan tapi aku tetep saja tak bisa menebak jalan pikirannya. Dia punya segudang cara licik untuk mendapatkan apa yang dia mau.
"Lihat ini, Wan!" Rania menunjukkan sesuatu di ponselnya. Gila ... ngapain dia foto aku dan Aira? Segera kurebut ponsel Rania tapi dengan gesit dia menarik ponselnya.
"Mau kau apakan foto-foto itu?" geram aku dengan tingkah cewek centil disampingku ini.
"Foto-foto ini akan sangat berguna untukku dan mungkin juga untukmu," katanya sambil senyum-senyum.
"Terserah kamu! Dasar cewek aneh!" umpatku lirih.
"Jangan khawatir, foto ini akan membantu mewujudkan impianku."
"Maksudmu?"
"Dah, nanti kamu juga bakal tau." Dasar cewek aneh, rencana busuk apa yang ada di otaknya. Aku harus hati hati.
"Oh iya Wan, besok kamu jemput Pak Andika di bandara, ya. Jam enam pagi. Aku langsung ke kantor menyiapkan berkasnya, terus aku susul kamu ke lokasi." ucapnya mulai mengatur. Aku hanya mengangguk, sebenarnya aku apa dia sih yang jadi atasannya? Suka sekali cewek ini ngatur-ngatur aku. Hadehh...!
Keesokan harinya, jam setengah enam pagi aku sudah sampai di bandara Juanda, kuedarkan pandangan keliling bandara, mencari batang hidung Pak Andika yang belum juga terlihat.
Oh Tuhan kenapa yang kulihat malah gadis mungil pujaan hatiku, aku tidak lagi menghayal, kan? Benar itu memang Aira. Dia mau kemana? Kok bawa koper?
"Aira!" panggilku. Aira terkejut dengan kehadiranku. Dia diam saja dan mempercepat langkahnya menjauhiku. Aku terus mengikutinya dengan mensejajarkan langkahku. Kuraih tangannya dan kupegang erat.
"Tunggu, Ra! Kau mau kemana? Pulang ke Jogja?“
"Lepaskan, Mas! Belum puas kamu memfitnah aku?" ucapnya penuh kebencian.
"Fitnah? Apa maksudmu, Ra? Aku gak ngerti?"
"Foto-foto itu, pasti kamu kan Mas yang memberikan pada suamiku? Aku sudah memaafkanmu, tapi kenapa kamu masih mengganggu hidupku," balasnya marah. Belum pernah aku melihat Aira semarah ini sebelumnya.
"Ra, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, foto apa? Bahkan aku tidak tau siapa suamimu."
"Tapi Mas, kemarin--" Aira tidak meneruskan kalimatnya. Tiba-tiba dia menangis, menutup wajah dengan kedua tangannya. Sungguh aku tak tega. Ingin kupeluk tubuh mungilnya, memberikan bahu ini sebagai sandarannya. Baru aku mendekati Aira, tiba-tiba ... bugh!
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajahku. Aku jatuh tersungkur. Darah segar mengalir dari sudut bibirku. Ketika aku bangun. Aku melihat siapa yang berani memukulku. Ternyata ... dia lagi, aarrgghhhhh!