Bab 12-Apa yang Kau Lakukan di Belakangku

1118 Kata
(Pov Dion) Kupandangi kepergian Aira, istri yang sangat aku cintai. Dia pergi dengan menyeret koper, keluar dari pagar rumah dan menghilang bersama sebuah taksi online yang sudah menunggunya di luar pagar. Sebenernya ada rasa berat yang mengganjal di hatiku. Aku ingin sekali menahannya agar tidak pergi, tapi rasa sakit di hati akibat pengkhianatannya bersama Wawan membuat bibirku kaku dan tak sanggup untuk mencegah kepergiannya. Namun, sebenarnya terbesit juga rasa khawatir akan keselamatannya, mengingat akhir-akhir ini kesehatannya kurang baik. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya. Segera kuraih kunci mobil dan menyusul istriku ke bandara. Mungkin aku hanya akan melihatnya dari jauh dan memastikan dia baik-baik saja sampai pesawat lepas landas. Meskipun aku kecewa, tetapi aku tidak mau dianggap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab. Walau bagaimanapun juga, Aira masih, istriku dan aku masih sangat mencintainya. Aku tidak tega membiarkannya sendiri. Sesampainya di bandara, aku mengedarkan pandangan keliling bandara mencari sosok Aira. Suasana Bandara Juanda sudah sangat ramai. Aku agak kesulitan mencari sosok Aira. Akhirnya aku menemukan juga sosok mungil istriku itu. Namun, aku seakan tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Aku sungguh tidak pernah menduga, kalau ada Wawan bersamanya. Kali ini aku benar benar kecewa. Seketika rasa cemburu berkobar di hati. Tidak menyangka kalau Aira tega berbuat seperti ini padaku. Aku kira dia sudah benar-benar mencintaiku dan melupakan Wawan. Ternyata aku salah. Dadaku naik turun menahan amarah. Emosiku tak terkontrol melihat mereka berdua bermain dibelakangku. Aku melangkahkan kaki mendekati mereka. Karena asyiknya mereka berbicara, mereka tidak menyadari kedatanganku. Aku melihat Aira menangis. Apa benar dia menyesal telah menikah danganku? Apa dia menyesal karena sekarang bertemu Wawan dan ingin kembali padanya? Aku melihat Wawan mulai berani. Dia mulai mendekat dan berusaha meraih tubuh istriku. Kedua tanganku mengepal kuat. Aku tak tahan lagi, akhirnya .... BUGH! Aku menjatuhkan sebuah pukulan tepat di pipi kanan Wawan. Lelaki berkulit putih itu jatuh tersungkur dengan bibir mengeluarkan darah segar. Dia masih syok dan berusaha berdiri. "Oh, jadi ini yang kalian lakukan dibelakangku?" tanyaku masih dengan tangan terkepal. Wawan tampak terkejut setelah melihatku begitu juga Aira. Mungkin keduanya tidak pernah menyangka kalau aku akan menangkap basah perselingkuhan keduanya. Hatiku benar-benar hancur. "Mas, kamu salah faham. Tadi aku gak sengaja ketemu Mas Wawan," ucap Aira membela diri. Hatiku sungguh tercabik melihat Aira bahkan mengelak kalau dia telah berselingkuh dengan mantan pacarrnya. Aku tidak menyangka sama sekali. "Jadi, maksudmu apa yang kau lihat ini hanya salah paham. Kamu pikir aku akan percaya kalau kalian hanya kebetulan bertemu? Dan kejadian di rumah sakit kemarin juga hanya kebetulan? Banyak sekali kebetulan, ya?" balasku sinis sambil menatap tajam istriku. "Mas, tolong percaya. Aku dan Mas Wawan benar-benar hanya kebetulan bertemu," tambah Aira dengan kedua mata berkaca-kaca. Aku tidak akan tersentuh lagi dangan air mata buayanya. "Oh, jadi suami kamu itu Dion, Ra?“ tanya Wawan menyahut setelah bangkit dari lantai, lalu menatap tajam wajahku. Masih dengan nafas yang ter-engah Wawan balik menyerangku. BUGH! Pukulan dari kepalan tangannya mengenai pipi kananku, sehingga kini score kami sama. Aku merasakan darah segar mengalir dari sudut bibirku. "Sudah cukup hentikan," teriak Aira menangis sambil menutup mulut dengan tangannya. Wanita itu lalu berbalik meninggalkan kami berdua sambil menyeret koper. Aku hanya tercengang melihat kepergian istriku tanpa berniat mencegahnya. Mengapa dia terlihat sangat marah? Harusnya aku yang marah karena dia jelas-jelas sudah berkhianat di depanku. "Aira, tunggu," teriak Wawan sambil mencoba mencegah istriku pergi, tetapi aku langsung mencekal lengannya. "Mau kemana kamu, b******k," ucapku sambil kembali memukulnya. Aku masih sangat geram. Dulu Wawan sudah meninggalkan Aira, tetapi kenapa sekarang dia harus kembali dan mengusik kebahagiaanku. "Dion, jangan biarkan Aira pergi. Aku bisa jelaskan semua," balasnya sambil menahan tanganku yang hendak memukulnya lagi. "Penjelasan apa? Bahwa kau masih menginginkan istriku setelah dua tahun lalu kau campakkan dia, ha!" Lenganku mencengram kerah baju Wawan dan bersiap hendak melayangkan bogem berikutnya di wajah lelaki itu, tetapi tiba-tiba .... "Pak Wawan,“ sapa seorang laki-laki dengan jas hitam dan kacamata memanggil Wawan. "Pak Andika," balas Wawan melepaskan cengkraman tanganku dari lengannya. "Ada apa ini, Pak?" tanya lelaki itu dengan ekspresi khawatir. "Tidak ada apa-apa, Pak. Kami hanya salah paham," jawab Wawan sambil menepis tanganku dari kerah bajunya. "Heh, dengar Dion Prasetyo. Urusan kita belum selesai. Kalau bukan karena aku kesini untuk kerja, sudah pasti kuladeni kamu untuk duel. Tunggu saja nanti, aku pasti selesaikan urusan kita," tegas Wawan sambil mendorong dadaku ke belakang, kemudian dia pergi bersama laki-laki berjas hitam itu. Aku mengedarkan pandangan sekeliling bandara mencari Aira, tetapi dia sudah tak terlihat lagi. Sebenernya tadi ingin aku menahan kepergiannya, tetapi sekali lagi hati kecilku yang tersakiti mencegahku melakukannya. Aaarrgghhh, aku benci konflik di hati. Aku masih termenung di dalam mobil sambil menyetir. Pelan-pelan kupacu kereta besi itu menuju kantor. Sebuah panggilan di ponselku berdering, teryata dari Rania. Mungkin aku bisa mengorek info tentang keberadaan Wawan darinya. "Ya Halo, Ran." "Dion, aku ada meeting di dekat kantormu. Nanti makan siang bareng, yuk," ajaknya dengan bersemangat. "Baiklah, tunggu aku di cafe resto depan kantor," jawabku segera. Kalau bukan karena ingin tahu informasi tentang Wawan, aku tak kan sudi makan siang dengan cewek centil ini. "Serius, Yon? Tumben banget kamu langsung mau. Ada apa, nih?" "Jangan banyak nanya, atau aku batalkan." "Lho, jangan! Iya deh, aku diem. Beneran kutunggu nanti, ya." "Hmm." Aku menutup panggilan. Rania pasti tau di mana Wawan kerja. Aku akan selesaikan urusan denganmu hari ini juga, Wan. CAFE RESTO "Mau makan apa, Yon?“ tanya Rania bersemangat. Gadis itu sepertinya senang sekali bisa makan siang denganku. Huh, kalau bukan karena ingin tau info tentang Wawan tak kan mau aku makan siang dengannya. "Apa saja, terserah kamu deh." "Ya udah, aku yang pilih ya?" Rania menuliskan pesanannya pada seorang waiter. Kemudian tak berapa lama pesanan kami siap. Wanita itu memegang tanganku. "Yon, eum ... sebenarnya aku--“ "Ran, dimana aku bisa ketemu Wawan?" Aku memotong kalimatnya sebelum dia bicara yang aneh-aneh. Pelan-pelan kulepaskan pegangan tangannya. "Ngapain nyari Wawan?" tanyanya dengan ekspresi kesal. "Mau menyelesaikan urusan kami." Rania mengernyitkan dahinya mendengar jawabanku. "Wawan ada disini, tuh orangnya!" Rania menunjukkan jari telunjuknya ke belakangku. "Aku kan kerja sebagai sekretaris Wawan," jelasnya. Tak berapa lama Wawan sudah berdiri dibelakangku. "Oh, ini kelakuan suami Aira? Nuduh istrinya selingkuh denganku tapi dia sendiri ketemuan dengan wanita lain. Sungguh kasihan Aira punya suami macam ini." sindir Wawan dengan nada sinis. Aku berdiri dari tempat dudukku, lalu kucengkram krah baju depannya siap membogem mulutnya. "Sabar, Bro! Kita selesaikan urusan kita hari ini, tapi jangan disini," ucap Wawan sambil melepaskan cengkraman tanganku dari bajunya lalu mengajakku ke suatu tempat. "Hloh, kalian mau kemana? Dion ... kita gak jadi makan? Huh sial! Gara-gara Wawan, nih." Rania ngomel-ngomel, tetapi aku tak peduli. Aku terus mengikuti Wawan. Hari ini akan diselesaikan semua urusan kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN