(Pov Dion)
Aku langsung menyerang Wawan begitu kami sampai di lapangan futsal yang sepi di belakang Kafe Resto. Satu bogemku mendarat sempurna di wajah Wawan membuatnya jatuh tersungkur dengan sudut bibir yang kembali berdarah.
Tanpa menunggu lama, pukulan keduaku mendarat lagi diwajah lelaki berkulit putih itu ketika dia berusaha berdiri. Tanganku masih mengepal sempurna dan siap melancarkan serangan lagi.
"Itu hadiah buatmu karena dua tahun lalu sudah meninggalkan seorang wanita di hari pernikahannya," ucapku sambil menarik baju depan Wawan.
Berikutnya, bogemku kembali mendarat di tubuh Wawan. Kali ini kepalan tanganku dua kali mendarat di perutnya. Dia meringis menahan rasa sakit.
"Yang ini hadiah dariku karena kau berani menyentuh istriku," ucapku geram. Wawan kemudian berusaha berdiri meskipun sempoyongan, sambil mengelap darah di sudut bibirnya. Kedua matanya menatapku tajam, lalu tangannya mengepal dan menghantam wajahku.
Serangan balik dari Wawan yang begitu cepat tidak aku prediksi sehingga membuatku terjatuh. Pelipisku terbentur gawang besi yang ada di lapangan futsal itu. Darah segar mengalir dari pelipisku. Lelaki berkulit putih itu jongkok di hadapanku dan jari telunjuknya menunjuk tepat di antara kedua mataku.
"Itu hadiah buat seorang suami yang menuduh istrinya berselingkuh hanya karena sebuah foto," ucapnya kemudian berdiri membenarkan posisi bajunya yang koyak.
"Apa maksudmu?" tanyaku sambil berusaha berdiri, darah segar masih mengalir di pelipisku tapi aku tak peduli. Hari ini, urusanku dengan Wawan harus selesai.
"Heh, Dion! Kamu dengar baik-baik. Pertemuanku dengan Aira kemarin di rumah sakit adalah pertemuan pertamaku setelah dua tahun terakhir ini dan itu pun tidak sengaja. Aku hanya menolong istrimu karena dia pingsan. Lalu apakah ini ucapan terima kasihmu padaku setelah aku menolong istrimu, hah!" Kedua tangan Wawan mendorong kedua bahuku ke belakang.
Buku-buku tangan Wawan yang mengepal erat kembali menyerangku dengan dua pukulan di perut sehingga cukup membuatku sempoyongan menahan nyeri, lalu dia mencengkram baju depanku.
"Tega sekali kau biarkan istrimu yang sedang hamil muda, pulang ke Jogja sendirian karena kecemburuanmu yang buta." Wawan menghempaskan tubuhku. Aku jatuh terkulai di tanah.
"Harusnya kau dengarkan dulu penjelasannya. Jangan mengutamakan egomu. Kamu sedang dibutakan cemburu. Jangan kau campur adukkan masalah Aira dengan permusuhan kita dimasa lalu. Pakai logikamu, Yon," ucap Wawan dengan berapi-api, mukanya merah padam sedangkan jari telunjuknya menuding ke arahku.
Aku hanya ternganga mendengar ucapan Wawan. Entah kenapa badanku lemas, tidak kuat berdiri. Bukan karena pukulan Wawan, tapi karena rasa bersalahku pada istriku. Jadi, Aira hamil? Ya Allah ... kenapa aku dibutakan cemburu dan tak mempercayai istriku sendiri. Aku menjambak rambutku sendiri dengan kedua tangan.
"Heh, ayo berdiri! Mana Dion Prasetyo yang dulu, si jagoan SMA Pancasila? Mana, ha! Kenapa jadi lembek gini?" Wawan menarik baju depanku dan memaksaku berdiri.
"Kamu dengar, Yon. Dua tahun lalu bisa saja aku tetap menikahi Aira, tapi aku memilih mundur karena dosa yang telah kuperbuat bersama Dewi pasti suatu saat akan membuat Aira kecewa. Aku menyayangi Aira dan berharap dia akan mendapatkan suami yang jauh lebih baik dariku."
Wawan kembali menghempaskan tubuhku ke tanah. Entah kenapa aku tak punya kekuatan untuk melawannya. Padahal dari jaman SMA, Wawan belum pernah sekalipun mengalahkanku. Seperti yang dia katakan, aku jagoan SMA Pancasila dan belum pernah ada yang bisa mengalahkan aku saat berduel. Namun, saat ini suasana hatiku sedang kacau, rasa bersalah pada Aira membuatku tak punya kekuatan menghalau serangannya. Wawan kembali jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan posisiku yang duduk terkulai di tanah.
"Tapi hatiku ini seakan tidak rela karena ternyata kau yang jadi suaminya," ucapnya sambil menarik baju depanku dengan sorot mata yang tajam. Aku tidak bisa berkata apa-apa, mulutku terkunci dan membiarkan Wawan terus bicara.
"Jaga istrimu baik-baik, karena suatu saat bila ada kesempatan aku akan merebutnya darimu. Aku masih sangat mencintainya dan hatiku tidak rela jika suaminya adalah kamu. Kenapa harus kamu, Yon? Kamu tau ... aku sangat membencimu."
Wawan mendorong keras tubuhku hingga terhempas di tanah, lalu pergi meninggalkanku. Namun, baru beberapa langkah dia berbalik.
"Satu lagi, Yon. Berhati-hatilah dengan Rania. Dia itu wanita licik. Dia bisa jadi duri dalam rumah tanggamu," ucap Wawan memperingatkan aku, kemudian benar-benar pergi dari tempat itu.
Aku menghela napas berat. Wawan ... sebenarnya dia kawan atau lawan? Ada benarnya juga omongannya. Aku harus hati-hati dengan Rania. Bagaimanapun juga, cewek centil itu yang sudah menciptakan kesalahpahaman ini. Aku mengambil ponsel dari saku celana, lalu memblokir nomer Rania. Lebih baik aku tidak lagi berurusan dengan iblis betina itu.
"Dion kamu kenapa berdarah darah begini?" tanya si centil Rania yang tiba-tiba muncul bagai hantu di siang bolong. Tangannya langsung memegang pelipisku yang berdarah.
"Aahhh, sakit tau," ucapku seraya menepis kedua tangan Rania.
"Eh ... maaf, Yon. Kamu berkelahi dengan Wawan, ya?"
"Bukan urusanmu!"
"Yon, tunggu! Biar aku obati lukamu. Jangan pergi,“ pinta Rania. Namun, aku tak menghiraukannya dan terus berjalan meninggalkan lapangan futsal itu tanpa memperdulikan darah segar yang terus mengalir dari pelipisku. Aku harus menjauhi cewek centil itu.
Aira ... aku harus segera menyusul ke Jogja dan minta maaf padanya. Kubuka aplikasi di ponsel, untuk membooking tiket pesawat. Namun, sial! Penerbangan ke Jogja hari ini sampai besok penuh. Kucoba mencari tiket kereta api, tetapi sama. Tidak tersisa satu pun sampai besok. Aku tidak mungkin menunda keberangkatan sampai besok. Keutuhan rumah tanggaku sedang dipertaruhkan.
Ya Allah. Jangan hukun hamba begini. Mengapa semesta seolah tidak mendukungku untuk segera menyusul ke Jogja? Terpaksa aku akan menyusul Aira dengan membawa mobil sendiri. Namun, badanku sakit semua setelah berduel dengan Wawan. Rupanya lelaki itu tak bisa dianggap remeh, dia kuat juga.
Malam itu, setelah mengurus cutiku dari kantor selama seminggu aku berangkat ke Jogja. Selain menjemput istriku dan minta maaf, aku juga ingin bernostalgia dengan kawan-kawan lama di sana. Semoga Aira mau memaafkan suaminya yang bodoh ini.
Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan standar, melewati jalan tol yang kebetulan tak begitu ramai. Tidak berani aku menambah kecepatan karena tubuhku masih nyeri semua karena duel dengan Wawan tadi siang.
Menjelang subuh aku sampai di kota gudeg. Namun, aku putuskan untuk mampir sholat di sebuah masjid sebelum kerumah Abah. Hatiku bergetar. Apa yang akan kukatakan pada Abah nanti bila sampai di sana. Aku seperti tak punya nyali menghadapi mertuaku itu.
Sesampainya di rumah Abah mertua, aku mengetuk pintu depan rumah yang tampak sepi.
"Assalamualaikum," sapaku dengan hati berdebar. Bagaimana seandainya Abah mengusirku karena telah menuduh anaknya selingkuh?
"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban dari dalam membuat detak jantungku semakin bertalu-talu. Saat pintu terbuka jantungku seolah mau melompat.
"Lho, Dion? Aira bilang kamu lagi ada kerjaan di luar kota. Lha kok udah nyusul sampe sini?“ tanya Bang Baim, kakak iparku yang membuka pintu. Dia terlihat heran dengan kehadiranku.
Apa, kerjaan luar kota? Jadi, Aira berbohong pada keluarganya untuk menutupi permasalahan kami? Ya Allah ... istriku itu memang memiliki hati yang mulia.
"Ditanya malah bengong." Ucapan Bang Baim membuyarkan lamunanku. Lelaki tampan yang umurnya setahun diatasku itu tertawa renyah.
"Eh, iya. Itu Bang, proyeknya ternyata ditunda. Jadi, ya lebih baik saya ke Jogja menyusul Aira," jawabku sekenanya dan Bang Baim percaya.
"Yo wes masuk dulu, Yon," ucapnya sambil membuka pintu lebar. Aku segera masuk dan bersalaman dengan kedua mertuaku.
"Aira lagi gak enak badan, Yon. Habis salat subuh tadi, dia tidur lagi," kata Abah sambil menyeruput kopi.
"Kamu gak usah khawatir, Yon! Biasa orang nyidam seperti itu. Udah ... kamu masuk aja ke kamar, istirahat dulu. Kamu pasti capek nyetir sendiri. Nanti Umi bikinin teh," tambah Umi Khadija, ibu mertuaku. Kedua mertuaku menyambut hangat kedatanganku. Mereka tidak tahu kalau aku sudah menyakiti hati putrinya.
"Njih, Umi. Terima kasih."
Aku segera berjalan menuju kamar Aira, maksudku kamar kami. Hatiku berdebar-debar saat melihat Aira masih tertidur lelap. Kupandangi wajah imutnya yang terlihat damai saat tidur. Aku merasa sangat bersalah karena sudah meragukan kesetiaannya. Maafkan aku, Dek!
Pelan-pelan kudekati wajahnya. Ketika aku hendak mencium keningnya, tiba-tiba dia membuka mata.
"Mas," ucapnya membuatku terlonjak kaget.