(Pov Aira)
Aku menghapus air mata yang sejak tadi mengalir bak anak sungai. Aku tak mau Abah, Umi ataupun Bang Baim melihat kesedihan ini. Semua harus tampak baik-baik saja.
Setelah sedikit kuoles bedak di wajah serta lipstik tipis di bibir, aku turun dari taksi. Aku sudah sampai di rumahku, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.
Pelan aku mengetuk pintu depan serta mengucapkan salam. Terdengar mereka menjawab salamu. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Aira, tumben pulang gak bilang-bilang.“ Senyum bahagia Bang Baim, Abangku satu-satunya mengembang kemudian memelukku erat.
"Abah, Umi ... Aira pulang!" teriaknya kemudian, sedangkan kepalanya masih tengak-tengok keluar pintu.
"Nyari siapa, Bang?" tanyaku sambil tersenyum, menutupi luka hatiku.
"Dion, mana dia?“
“Di Surabaya lah!"
"Hloh, kamu pulang sendiri?“ tanya Bang Baim heran. Aku mengangguk sambil tetap mengukir senyum.
"Kamu lagi gak ada masalah kan sama suamimu?“ tanyanya lagi.
Aku menggeleng pelan. Maafin aku, Bang. Terpaksa aku berbohong.
"Abah ... Umi ...." Aku berhambur memeluk kedua orang tuaku. Kangen sekali hampir 6 bulan tidak pulang.
"Kok Dion tidak mengantarmu, Nduk? Kalian baik-baik saja, kan?" Abah ikutan curiga.
"Mas Dion ada kerjaan di luar kota, Bah. Jadi gak bisa ngantar." Aku berbohong lagi. Maafkan Aira, Bah.
"Harusnya kamu nunggu akhir pekan aja, Nduk. Biar suamimu bisa ngantar," kata Umi sambil memberikanku secangkir teh.
"Aira sudah gak sabar pingin pulang, Umi! Ini juga keinginan dedek bayi kok," jawabku sekenanya sambil mengelus perutku.
"Kamu hamil, Nduk?" Wajah Umi terlihat berbinar.
"Njih, Umi. Baru 6 minggu."
"Alhamdulillah!" Serempak Abah, Umi dan Bang Ibra mengucap syukur.
"Wah, Abang bakal punya keponakan, nih!“
“Makanya Abang cepet nikah, keburu tua, hlo!" Aku tersenyum menggoda.
"Belum ada yang cocok, Dek."
"Di pesantren kan banyak cewek cantik, sholihah, insya Allah mau deh nikah sama ustadz ganteng ini."
"Hahahaha ... bisa aja kamu, Dek." Sejenak aku melupakan kesedihanku dengan bercanda tawa bersama keluargaku.
Kulihat ponsel, banyak pesan masuk, tapi tak satupun pesan dari Mas Dion. Aku menghela napas panjang. Ya Allah, tunjukkan kebenaran pada suamiku. Malam itu aku benar-benar tak bisa tidur, aku masih berpikir, siapa yang memberikan foto-foto itu kepada suamiku?
Pengakuan Mas Wawan tadi ada benarnya juga, dia kan gak tau kalau Mas Dion adalah suamiku sekarang. Karena menurut Hadi, semenjak dia lari dari pernikahan kami dua tahun lalu, dia belum pernah sekalipun pulang ke Jogja. Ya Allah, siapapun orangnya semoga Engkau berikan hidayah padanya.
Keesokan harinya setelah sholat subuh, aku kembali tidur. Karena tadi malam aku hampir tidak tidur. Dalam tidurku, aku bermimpi Mas Dion pergi bersama seorang wanita. Wanita itu bergelayut manja di tangannya. Mereka berdua melambaikan tangannya dan terus menjauh dariku.
Aku seperti mengenal wanita itu. Sepertinya dia wanita yang dua tahun lalu aku temui di kereta api. Kalau tidak salah namanya Rania. Mereka berdua tertawa-tawa dan meninggalkan aku sendirian.
"Mas! Tolong jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!“ Tiba-tiba aku terjaga dari mimpiku dan melihat Mas Dion sudah ada di depanku. Aku terkejut, dia pun demikian.
"Mas!" Aku terbangun, dan duduk di tepi ranjang. Dadaku gemetaran mengingat kejadian itu. Alhamdulillah, ternyata kejadian itu cuma mimpi.
"Dek, maafkan aku, ya!“ Mas Dion duduk bersimpuh di lantai, tangannya memegang erat tanganku dan menciuminya. Tangisnya pecah, akupun menangis sejadinya.
Aku diam seribu bahasa, kulihat penyesalan yang mendalam di wajah suamiku, ada luka di sudut mulut dan pelipisnya walau sudah mengering dan samar. Pasti dia bertengkar dengan Mas Wawan.
"Wawan sudah menjelaskan semua, Dek. Maafkan aku, ya! Tolong, aku benar-benar menyesal telah meragukan kesetiaanmu."
"Mas Wawan yang menjelaskan kesalahpahaman ini? Lalu siapa yang ngasih foto itu ke kamu, Mas?"
“Rania dalang semua ini, Dek. Tolong maafkan aku, ya!" Air mata Mas Dion mulai mengalir.
Dadaku berdebar ... Rania? Apa mimpiku adalah firasat?
"Kamu masih ingat Rania, bukan? Teman SMAku yang waktu itu kita ketemu di kereta?" tanya Mas Dion. Aku mengangguk paham.
"Sudahlah, Mas! Bangun, jangan duduk di bawah, tidak pantas seorang suami bersimpuh di kaki istrinya!" Aku berusaha menarik Mas Dion, tapi dia tak berpindah.
"Aku gak akan bangun sebelum kamu maafkan." Aku terdiam. Sebenarnya aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta, Mas. Namun, aku pingin ngerjain kamu. Sebagai pelajaran biar kamu gak terlalu mudah percaya omongan orang.
"Aku pikir-pikir dulu, Mas," jawabku sambil melepaskan genggaman tangan suamiku kemudian berdiri.
"Dek! Jangan lama-lama mikirnya, ya!“ Suamiku masih di posisinya tadi, aku melirik sekilas, pingin tertawa tapi aku tahan. Ya Allah, Mas.
"Ya udah deh aku maafin, ada syaratnya ya!"
"Kayak dukun aja pakai syarat, Dek." Mas Dion garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Mau dimaafkan, gak?"
"Iya deh, apa syaratnya? Jangan yang berat-berat, ya!" Aku tarik kedua tangan Mas Dion, diapun berdiri.
"Aku masih ingin tinggal di Jogja, Mas. Paling tidak dua minggu lagi. Aku mau bantuin Aida menyiapkan pernikahannya," pintaku membuat Mas Dion terkejut.
"Aida mau menikah? Hmm, tapi aku cuma cuti seminggu."
"Kamu pulang dulu ke Surabaya, nanti jemput aku sekalian kita ke pernikahan Aida dan Kak Andi."
"Ya udah. Jadi, aku puasa seminggu, nih?“ tanyanya sambil cemberut. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Oh iya Mas, aku mau kasih tau kabar gembira. Sebenarnya aku sekarang sedang--"
"Hamil, kan?"
"Kamu sudah tau, Mas?"
"Iya, sayang banget, aku taunya dari Wawan. Kenapa kamu gak kasih tau langsung sebelum ke Jogja?" tanya Mas Dion kecewa.
"Kamu lagi marah. Kalau aku beritahu tentang kehamilan ini, apakah tidak semakin memperkeruh keadaan? Saat kamu menuduhku selingkuh dengan Mas Wawan saja, hatiku sudah hancur apalagi jika kamu tidak mengakui anak ini." Aku menunduk, mengelus perut yang masih rata.
"Maafkan aku, Dek. Aku yang salah, bodoh dan mudah dihasut. Mulai sekarang aku gak akan pernah meragukanmu lagi." Mas Dion memelukku erat. Air matanya tumpah penuh penyesalan.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Mas"
"Terima kasih juga, Dek. Kamu menutupi semua masalah ini dari Abah dan Umi. Kamu memang istri yang sholihah." Mas Dion mempererat pelukannya. Damai sekali rasanya, tapi entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran mimpiku tadi. Rania, benarkah dia? Ah, semoga cuma bunga tidur.
Seminggu di Jogja aku menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan ketemu sahabat-sahabat lama termasuk Aida dan Kak Andi. Aku juga bersilaturahim kerumah Om Ferdi dan Tante Amel, kedua orang tua Mas Wawan.
"Aira tolong sampaikan pada Wawan, kalau Tante kangen sama dia. Suruh dia pulang ke Jogja, Om dan Tante sudah memaafkannya," mohon Tante Amel sambil menggenggam kedua tanganku, dia menangis. Aku menoleh ke arah Mas Dion dan dia mengangguk.
"Iya, Tant. Insya Allah nanti Aira sampaikan."
Hubunganku dengan keluarga Mas Wawan tetap berjalan baik. Meskipun lelaki itu pernah mengecewakanku, tapi tidak lantas memutuskan tali silaturahmi kami. Besok Mas Dion harus kembali ke Surabaya karena cutinya sudah habis. Minggu depan, dia ke Jogja lagi menghadiri pernikahan Aida dan Kak Andi sekalian menjemputku.
"Hati-hati dijalan ya, Mas. Aku pasti bakalan kangen." ucapku saat melepas kepergian Mas Dion kembali ke Surabaya.
"Iya, Dek. Aku juga pasti kangen. Jaga diri baik baik dan titip calon anak kita." Mas Dion mencium dan memelukku erat. Tak lupa mencium perutku. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku teringat mimpi burukku waktu itu. Ya Allah, buanglah semua prasangka buruk ini.
Setelah berpamitan dengan Abah, Umi dan Bang Baim, suamiku berangkat ke Surabaya.