Bab 15-Kuatkan Imanku

1157 Kata
(Pov Dion) Rumah ini sepi sekali, baru sehari aku tinggal sendiri tanpa istriku, rasanya sudah seperti sebulan. Nunggu seminggu lagi rasanya seperti setahun. Ah beginikah rasanya rindu? Aku belum pernah LDR dengan Aira sebelumnya. Aku sangat beruntung memiliki istri sebaik Aira. Meskipun aku sempat meragukan kesetiaannya, tetapi dia dengan lapang d**a mau memaafkan kesalahanku, bahkan dia menutupi semua kesalahanku di depan keluarganya. Mulai sekarang aku tidak akan pernah meragukan cinta Aira lagi. Aku sangat yakin kalau dia sudah melupakan Wawan. Apalagi sekarang sudah ada calon anak kami. Wawan hanyalah masa lalu. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Siapa yang datang malam-malam begini. Kulirik jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Aku beranjak dari pembaringn, lalu berjalan menuju pintu depan dan membukanya. "Rania," ucapku terkejut. Aku terbelalak melihat cewek centil ini tiba-tiba sudah nongol di depan rumahku. Apalagi pakaiannya seksi banget, kurang kain dengan belahan di d**a yang rendah. Astagfirullah. Dia kesambet setan apa, ya? batinku sambil mengelus d**a. "Kamu kenapa, Yon? Kayak ngeliat hantu saja," ucapnya terkekeh. Dia gak sadar kalau kedatanannya di rumah ini sudah seperti jailangkung yang datang tak diundang pulang tak diantar. "Ngapain kamu malam-malam kesini? Belum puas kamu memfitnah istriku? Bikin aku dan Wawan berantem trus istriku pulang ke Jogja, masih kurang, hah!" bentakku geram. Aku masih kesal karena dengan mudahnnya mempercayai hasutan Rania, sehingga meragukan kesetiaan istriku sendiri. "Aku mau minta maaf, Yon. Sungguh aku menyesal. Aku tak bermaksud memfitnah, cuma aku kaget aja waktu liat istrimu dipeluk Wawan. Jadi, aku foto buat bukti ke kamu. Bener, Yon. Aku tidak punya tujuan jelek. Maafin aku, ya,“ ucap cewek centil ini seraya bergelayut di lenganku. Namun, aku segera melepaskan tangannya. Sialnya, dia malah langsung nyelonong masuk ke rumah. "Rania! Jangan masuk! Istriku sedang tidak ada," teriakku mencoba mencegah cewek centil itu masuk. "Ya baguslah kalau istrimu lagi gak ada," balasnya santai sembari duduk di sofa, lalu menumpukan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gila, roknya yang super pendek terlihat semakin tertarik ke atas. Aku langsung memalingkan wajah, takut dihiasi syetan, lalu beristighfar lirih. Bisa bahaya ini kalau aku tetap membiarkan Rania di rumahku. “Aku tak mau terjadi fitnah lagi. Plis, Ran. Kamu pulang sana. Lagian ini juga sudah malam," ucapku sedikit melunak.Aku mencoba mengusir cewek centil ini secara halus, tetapi dia malah berdiri dan berjalan masuk ke ruang tengah. “Aku gak akan pulang sebelum kamu maafin aku. Habisnya nomerku juga kamu blokir, gimana cara aku hubungi kamu, coba?" balasnya acuh tanpa memperdulikan peringatanku. "Rania, berhenti kamu mau kemana?“ teriakku semakin naik pitam. Ternyata selain budek, cewek ini juga gila. Sekarang dia malah nyelonong masuk kamarku. Kamar aku dan Aira. "Berhenti kataku, Ran!" segera kuraih lengan cewek itu dan gilanya dia malah memelukku. Wajahnya mendekat padaku seolah mau nyosor bibirku. "Kamu gila Ran," ucapku sambil melepaskan perlukannya. "Iya, aku memang gila, Yon. Tepatnya tergila-gila sama kamu," balasnya sambil tertawa tawa, kemudian mulai mendekat ke arahku dan bersiap memelukku lagi. “Okey, baiklah. Aku sudah maafin kamu. Sekarang kamu pulang, ya,“ bujukku sambil mencoba menepis perlukannya. "Gak mau!" Bukannya pergi, Rania malah semakin nekat. Cewek centil itu duduk di ranjang kamarku. "Sebenernya mau kamu apa sih," bentakku jengkel aku. Cewek ini benar-benar edan. Aku adalah tipe cowok yang tidak suka berbuat kasar dengan wanita, tetapi kalau wanitanya seperti ini, gimana coba? Ngeyel plus nekat. “Mau aku? Mauku ya menikah dan jadi istrimu" ucap Rania membuatku jengah. Cewek gila itu kembali mendekat dan mengusap dadaku dengan kedua tangannya. Matanya mengerling manja dan berusaha menggodaku. Sebenarnya Rania adalah wanita yang cantik, hanya saja sikap agresifnya membuatku ngeri. Apalagi sudah berhari-hari aku tidak mendapatkan jatah dari Aira karena dia masih ngambek denganku. Ya Allah, kuatkan imanku. "Cukup Rania! Aku sudah beristri," ucapku sambil menjauhkan kedua tangannya dari dadaku. "Aku mau jadi istri keduamu, Yon. Bukankah poligami itu diperbolehkan dalam agama? Aku yakin istrimu juga gak keberatan. Aku dengar, dia lulusan pesantren, ayah dan kakaknya seorang ustadz, pasti dia paham kalau poligami adalah sunah Rosul. Iya, kan?" "Gila kamu Ran, aku gak mungkin nyakiti Aira dengan berpoligami. Lagian aku adalah lelaki setia. Jadi, jangan harap aku mau menuruti ide gilamu itu," tolakku membuat Rania tertawa. "Yon, seorang lelaki itu tidak dituntut setia. Yang penting bisa berbuat adil. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan pada mertua atau kakak iparmu," balas Rania masih ngeyel. "Sudahlah, Ran, Kamu jangan memaksaku. Kamu itu cantik, karirmu sukses, di luar sana masih banyak laki laki yang baik dan bisa menjadi imam buat kamu." "Tapi aku maunya cuma sama kamu, Yon. Aku sudah berusaha jatuh cinta pada pria lain, tapi gak bisa." Rania kembali mendekati aku bagai singa betina yang lapar. "Cukup, Ran. Berhenti dan jangan mendekat lagi. Jangan sampai aku berbuat kasar padamu, ya,“ ancamku sambil memundurkan langkah. Namun, Rania tak menghiraukan peringatanku. Dia malah semakin mendekat dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tak berapa lama kemudian, dia mendekat lagi dan membungkam mulutku. "Ran ... hhmmmppzzz." Aku tak sadarkan diri. **** Keesokan harinya aku terbangun dalam keadaan telanjang d**a di atas ranjang. Kepalaku terasa pusing dan mencoba mengingat kejadian tadi malam. Ya Allah ... Rania! Kemana dia? Apa yang dia lakukan padaku semalam? Apa mungkin seorang wanita bisa memperkosa seorang pria yang keadaan tak sadarkan diri? Aaargghhh ... benar-benar nekat tu cewek. Gila, dia! Aku segera bangun untuk mandi dan mengerjakan salat Subuh. Aku masih kepikiran rencana busuk apa yang akan dibuat cewek gila itu? Jangan-jangan dia menjebakku dan benar-benar minta aku nikahi? Ah entahlah. Aku bergidik ngeri. Dua hari setelah kejadian itu, Rania datang ke kantorku pas jam makan siang. Bener-bener nekat cewek ini. Aku sudah hafal sifatnya. Dia pasti akan memakai berbagai cara untuk mencapai apa yang dia inginkan. "Dion! Menikahlah denganku atau--" "Atau apa?" "Foto-foto ini akan sampai ketangan Aira." Rania menyerahkan ponselnya. Aku segera melihat foto yang dia maksud. Foto menjijikkan yang dia ambil saat aku tak sadarkan diri di kamarku dan Aira. Benar-benar cewek tak tahu malu. Ya Allah, nekat sekali cewek ini, sudah kehilangan akal sehat dia. Segera kehapus foto itu. "Hapus aja, Yon. Tak apa karena di rumah aku masih punya file nya," ucapnya sambil tertawa membuatku geram. “Mau kamu apa?" tanyaku sambil menggebrak meja kerja. "Nikahi aku tanpa sepengetahuan Aira." "Kalau aku gak mau?" "Aku jamin foto itu akan sampai ketangan istrimu!" “Coba saja kalau kau berani, Aira tidak akan pernah percaya padamu!" "Dion, Sayang. Percaya atau tidak aku pasti bisa membuat Aira mengizinkanmu menikah lagi denganku. Tunggu tanggal mainnya," ancam Rania seraya keluar dari ruang kerjaku. Benar, dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Aku harus berhati-hati dengannya. Rencana apa yang akan dia susun kali ini. Aaargghhh, rasanya kepalaku mau pecah. Hari hari berikutnya aku terus kepikiran Rania, apa yang harus aku lakukan? Semoga Aira percaya padaku meskipun sebelumnya aku pernah meragukan kesetiaannya. Kulupakan sejenak masalahku dengan Rania, karena aku harus ke Jogja menghadiri pernikahan sahabatku Andi dan Aida sekaligus menjemput istriku tercinta. Entahlah, haruskah aku ceritakan pada istriku kejadian malam itu dengan Rania? Atau lebih baik aku diam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN