Bab 16-Bayi Kembar

1324 Kata
"Selamat ya, Da." Aku memeluk Aida, sahabat yang sudah seperti saudara bagiku. Hari ini dia resmi berstatus istri dari Andi Darmawan, S.E. Tadinya mereka mau nikah setelah Aida lulus kuliah, tapi karena kesehatan bunda Santi, ibu kak Andi semakin hari semakin menurun akhirnya pernikahan mereka dipercepat. Bunda Santi khawatir tak menjumpai anak semata wayangnya menyandang gelar suami. Kami berdua menangis haru, mengingat kebersamaan kami semenjak sekolah menengah pertama di Pesantren Miftakhul Ulum, suka duka telah kami lalui bersama. "Insya Allah kalau kamu melahirkan nanti, aku dan Kak Andi ke Surabaya, Ra," ucap Aida setelah aku mengurai pelukan. "Bener, ya. Aku tunggu." Kami kembali berpelukan. Sedangkan suamiku dan Kak Andi yang juga teman akrab semenjak sekolah di SMA Pancasila, juga ngobrol sana sini mumpung masih ketemu. Entah, aku tidak begitu memperdulikan obrolan para cowok. Setelah acara resepsi pernikahan Aida dan Kak Andi, aku dan suamiku langsung pulang ke Surabaya dengan pesawat. Mas Dion terlihat aneh, dia yang biasanya suka membanyol jadi pendam dan murung. "Mas, kamu sakit?“ tanyaku khawatir. Punggung tanganku menyentuh kening suamiku, suhunya normal. "Nggak, Dek. Aku cuma capek dalam sehari PP Surabaya-Jogja." "Kalau begitu kamu istirahat, biar besok bisa nemenin aku kontrol kandungan ke rumah sakit," ucapku. "Iya, aku tidur duluan, ya." Mas Dion beranjak ke kamar, sementara aku sibuk berbenah bawaanku dari Jogja. Aku mau memulai bisnis baju batik. Ya ... mungkin masih skala kecil, sih. Buat mengisi kesibukan di sela-sela tugas skripsiku. Aku mulai upload beberapa pict di medsos. Setelah sibuk dengan dunia maya, mataku terasa mengantuk dan berniat menyusul suamiku tidur. Langkahku terhenti di depan pintu kamar ketika melihat suamiku belum tidur. Aku melihat Mas Dion mengubah-ubah posisi tidurnya dari terlentang, miring, tengkurap tapi tetep saja belum bisa memejamkan mata. "Mas, kamu kok gelisah, mikirin apa?" tanyaku membuat Mas Dion kaget. Mungkin karena aku tiba-tiba sudah ada di dalam kamar. "Gak ada apa-apa kok, Dek. Aku cuma capek." "Beneran kamu gak mau berbagi beban sama istrimu ini? Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri, Mas. Setidaknya dengan bercerita padaku, bisa mengurangi bebanmu." "Kamu janji jangan marah ya, Dek," ucapnya sambil mengubah posisi dari pembaringan, kemudian duduk. "Ngomong aja, Mas. Mana pernah aku marah-marah sama kamu." Telapak tanganku memegang kedua pipi suamiku. Tampak dari sorot matanya kalau suamiku ini sedang membawa sebuah beban berat. Mas Dion kemudian menceritakan semua kejadian yang bermula sewaktu aku masih menginap di Jogja, Rania mendatangi suamiku dan akhirnya menjebak suamiku dengan obat bius hingga tak sadarkan diri. "Astagfirullahaladzim! Senekat itu dia untuk mendapatkan kamu, Mas," ucapku sambil menggeleng pelan. Tiba-tiba aku teringat mimpi buruk waktu itu. Aku merasa takut. Takut kehilangan suamiku. Takut Rania benar-benar akan mengambil suamiku. "Dek, maafkan aku, ya," ucap Mas Dion sembari memelukku. "Iya, Mas. Aku hargai kejujuranmu. Jangan pernah sembunyikan apapun dariku." Aku pun mempererat pelukan Mas Dion. Tak terasa air mataku kembali mengalir. "Jangan terlalu dipikirkan ya, Dek. Kalau aku mau, sudah sejak dulu aku terima cinta Rania, dia kan naksir aku sudah sedari SMA." Mas Dion mencoba meyakinkan. "Trus kenapa kamu gak terima cinta Rania? Dia kan lumayan cantik?" godaku. Aku ingin tahu bagaimana reaksi suamiku. "Aku gak suka karena dia suka mengumbar aurot. Selain itu dia juga ganjen," jawabnya sambil terkekeh. "Kalau dia tiba-tiba pakai jilbab dan gak ganjen lagi, bagaimana? Apa kamu bakalan suka, Mas?" Aku menggoda suamiku lagi. "Hahahaha .... Ya gak juga, Dek. Aku sudah punya kamu. Aku gak mau yang lain," balasnya sambil mengerling genit. "Ish, gombal banget." "Mmm mmmm.“ Aku melotot karena tiba-tiba Mas Dion mencium bibirku. Namun, akhirnya aku pun membalas ciumannya. Sepertinya sebuah beban berat sudah dia lepaskan dari pundak. Akhirnya malam itu kami tidak jadi langsung tidur, tau sendiri ah ngapain gak usah diceritakan. Keesokan harinya, aku dan suamiku ke rumah sakit untuk kontrol kandungan. Kami bahagia sekali saat melihat gambar janin kecilku di layar USG. Ternyata bayiku kembar dan keduanya sehat. Alhamdulillah .... Binar bahagia juga terpancar di wajah suamiku. Memang dari keluarganya ada keturunan kembar. Kegelisahan yang tadi malam aku lihat di wajahnya seolah hilang melihat hasil usg bayi kembar kami. "Dek, itu Wawan, kan?" tanya Mas Dion. Jari telunjuknya mengarah ke ruang IGD ketika kami hendak pulang menuju parkiran. Terlihat seorang pria yang penuh dengan luka lebam dan darah di mulut dan pelipisnya sedang duduk di kursi roda dan di dorong ke ruang IGD. "Astagfirullah, iya. Mas Wawan kenapa, ya? Kita ke sana, Mas!“ Aku menarik tangan suamiku tanpa menunggu dia setuju. "Mas Wawan? Kamu kenapa, Mas?" tanyaku membuatnya menoleh. Mas Wawan terkejut dengan kedatanganku dengan Mas Dion. "Aira, Dion, Aarrhhh!" Lelaki itu meringis kesakitan memegang pelipisnya. "Apa yang terjadi padamu, Mas?" tanyaku antusias sementara Mas Dion hanya diam. "Tadi saat aku baru sampai kantor, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memukuli aku, padahal aku gak kenal dia." Mas Wawan mulai bercerita. “Kok bisa gitu, Mas?" tanyaku antusias. "Entahlah, dia melarang aku mendekati ceweknya, kalau aku masih nekat, dia mengancam akan berbuat lebih dari ini," lanjut Mas Wawan membuat aku dan Mas Dion saling berpandangan. "Kamu sih suka gangguin pacar orang, Wan," sindir Mas Dion sinis. "Aku gak pernah gangguin pacar orang. Sudah dua tahun ini aku gak pernah pacaran lagi dan kamu juga tahu sebabnya, kan, Yon," balas Mas Wawan sembari mencuri pandang kepadaku. Hal itu membuatku tidak nyaman, karena aku bukan lagi wanita lajang. "Lalu kenapa ada laki-laki yang tiba-tiba memukuli kamu dan memintamu menjauhi ceweknya?“ Suamiku mulai menginterogasi Mas Wawan. Lebih tepatnya mendebat. "Itu yang aku gak tahu, kayaknya dia salah sasaran." "Alasan kamu, Wan!" "Udah mas, ndak usah berdebat." Aku mencoba mengindari perang mulut suamiku dengan Mas Wawan. "Oh iya Mas, kamu dapat salam dari Tante Amel, kemarin waktu ke Jogja, aku berkunjung kerumahmu," ucapku mengalihkan topik pembicaraan. "Mama." Kedua mata Mas Wawan mulai berkaca-kaca. "Pulanglah ke Jogja, Mas. Tante Amel sangat merindukanmu. Lupakan kejadian dua tahun lalu. Anggaplah kita tidak berjodoh." "Iya, Ra. Makasih, ya." Lagi-lagi kedua manik mata Mas Wawan menatapku penuh arti. "Kita pulang, Dek," ajak Mas Dion sembari menarik tanganku. Dia beberapa kali memergoki Mas Wawan mencuri pandangan padaku. Pasti dia cemburu. Ah, suamiku ini cemburuan banget. "Mas, aku pulang dulu," pamitku sebelum meninggalkan Mas Wawan. Lelaki itu mengangguk dan pandangannya masih tak lepas dariku. Ya Allah ... lupakan aku, Mas. Aku ini sudah menjadi istri orang. Satu bulan kemudian .... Suatu sore, aku dikejutkan dengan kedatangan Mas Wawan di rumahku. Kebetulan aku sedang masak di dapur. Beruntung Mas Dion sudah pulang dari kantor, sehingga tidak khawatir terjadi salah paham lagi. Ternyata Mas Wawan datang ke rumahku cuma untuk mengantar undangan pernikahan. Setelah kejadian di rumah sakit lalu, dia pulang ke Jogja dan menerima perjodohan yang ditawarkan kakeknya. . MENIKAH WAWAN SETIAWAN, S.E. dengan NAYLA RAMADANI PUTRI, S.Pd. Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa move on dariku, Mas. Semoga kamu bahagia. Resepsi pernikahan akan di laksanakan di Wonokromo di rumah mempelai wanita yang kebetulan tetangga dengan kakek Mas Wawan. Setelah Mas Wawan pulang, aku kembali ke dapur melanjutkan masak. Terdengar dari pintu depan ada tamu yang datang lagi, tapi sudah dibukakan suamiku. Aku mengintip dari pintu dapur dan terkejut karena ternyata tamu yang datang adalah Rania. Tiba-tiba hatiku berdebar dan perasaanku gak enak. Rania dan suamiku terlihat sedang bersitegang. Tidak begitu jelas mereka memperdebatkan apa. Namun, aku mendekat dan mencoba mendengar apa yang mereka bicarakan. "Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus tanggung jawab, Yon!“ "Tanggung jawab macam apa? Bukankah kamu yang menjebakku?" "Tapi, Yon--" "Aku tidak merasa melakukan apapun, Rania. Jangan gila kamu!" Terdengar suamiku berkata dengan nada tinggi dan wajah marah. "Tapi aku hamil Yon! Kamu harus nikahi aku!" teriak Rania membuatku terkejut. Aku bagaikan tersambar petir di siang hari mendengar kata-kata Rania barusan, sehingga piring saji yang ada di tanganku terjatuh di lantai dan pecah berserakan. Suara pecahan piring sontak membuat Mas Dion dan Rania menoleh ke arahku. "Dek." Mas Dion berlari menangkap tubuhku yang hampir pingsan. "Dek, apa yang kamu dengar semua gak benar. Jangan percaya ucapan iblis perempuan ini!" Mas Dion mengguncang tubuhku. Tiba tiba semua gelap. Aku tak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN