Pelan pelan, aku membuka mata. Mas Dion sudah ada dihadapanku dengan perasaan khawatir. Hari sudah malam, cukup lama juga aku pingsan tadi.
"Alhamdulillah, Dek. Kamu sudah sadar." Mas Dion memelukku erat. Aku masih terdiam mengingat kejadian sore tadi. Tidak tau harus bicara apa. Rania hamil? Anak mas Dion? Aku tak bisa membayangkan ada wanita lain mengandung anak suamiku disaat aku juga hamil. Hati ini terasa terhimpit batu besar.
"Mas..! Bagaimana dengan bayi itu, bayi yang dikandung Rania?" Dengan suara serak dan berat aku menanyakan hal itu pada suamiku.
"Rania pasti berbohong soal bayi itu, Mana mungkin seorang pria yang tidak sadarkan diri bisa menghamili seorang wanita? Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan Dek. Gak baik buat si kembar dalam kandunganmu."
Suamiku mengelus perutku yg masih rata, memang usia kandunganku baru masuk bulan ke empat jadi belum terlihat. Aku coba berprasangka baik, meski jujur aku takut. Takut bila apa yang dikatakan Rania tentang kehamilannya adalah sebuah kebenaran.
"Bagaimana jika Rania benar-benar hamil mas?"
"Sudahlah, jangan berfikir yang jelek!" Mas Dion kembali memelukku erat, sepertinya dia juga khawatir, tapi berusaha tenang di depanku.
Keesokan harinya ....
"Assalamualaikum." Suara seseorang mengucap salam dari arah depan rumah.
" Wa alaikum salam." Mataku terbelalak melihat siapa yang datang pagi itu. Seorang wanita cantik dengan tunik berwarna kunyit dan jilbab senada serta celana panjang berwarna putih.
"Rania," ucapku ternganga tak percaya.
“Kenapa kamu kaget begitu, Aira? Aku gak pantas dengan pakaian seperti ini, ya?" tanya wanita itu.
"B-bukan begitu, aku kaget saja. Sayangnya Mas Dion sudah berangkat kerja," balasku sedikit gugup. Rania terlihat cantik dengan balutan hijab. Bagaimana kalau Mas Dion berpaling padanya?
"Aku kesini mencari kamu Aira, bukan Dion."
"Aku?“ tanyaku dengan ekspresi terkejut. Mau apa perempuan penggoda suamiku ini mencariku? Meskipun penampilannya kini berhijab tapi tetap saja aura pelakornya masih menyeramkan. Tiba-tiba Rania bersimpuh di kakiku. Hei, ada apa ini?
"Aira, izinkan Dion menikahiku demi anak yang aku kandung, tolonglah Aira. Aku tidak keberatan jika harus menjadi istri kedua." Rania kemudian menangis, entah air mata sungguhan atau cuma air mata buaya.
"Aku berjanji akan berubah menjadi wanita shalihah sepertimu Aira, tolonglah. Demi bayi dalam kandunganku." Rania terus memohon kepadaku.
"Memang kamu beneran hamil? " tanyaku menyelidik.
"Kamu tidak percaya? Sekarang kita kerumah sakit, aku beneran hamil buat apa bohong," jawabnya membuatku mengernyitkan dahi. Baiklah aku ikuti permainanmu Rania.
"Oke, kita ke dokter Faqih. Dokter langgananku." Aku tidak ingin Rania memanipulasi kehamilannya. Jadi, harus aku yang pilih dokternya.
"Berjanjilah, Aira! Kamu akan mengizinkan Dion menikahiku, jika memang aku terbukti hamil," ucap Rania ketika kami hendak berangkat ke rumah sakit.
"Asalkan benar kamu hamil anak Mas Dion, aku pasti mengijinkan," jawabku tegas, walaupun sebenarnya aku tidak tahu apakah bisa menjalaninya nanti.
"Terserah kamu, Aira. Aku ikut saja."
RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA
Aku benar-benar syok ketika melihat hasil USG Rania. Di dalam perut wanita itu ada janin berumur kurang lebih satu bulan. Janin itu yang katanya juga anak dari suamiku. Aku harus kuat, aku tak boleh lemah di depan Rania meski sebenarnya hatiku hancur berkeping keping. Apa memang Allah sudah menakdirkan semua ini? Bahwa aku harus rela berbagi suamiku dengan wanita ini.
"Pulanglah Rania, aku akan membujuk suamiku supaya menikahimu," ucapku lemah.
"Aku mohon secepatnya Aira! Aku tak mau perutku membesar sebelum Dion menikahiku." Setelah berkata demikian, Rania berlalu dari hadapanku.
Aku masih duduk diruang tunggu dokter, rasanya kakiku lemas tak sanggup untuk melangkah pulang. Sanggupkah aku dimadu. Ya Allah berikan aku kekuatan. Air mataku terus mengalir tak terbendung.
"Aira ... kamu belum pulang?" Pertanyaan Dokter Faqih membuyarkan lamunanku.
"Iya dok, kepala saya agak pening."
"Anemia kamu kambuh lagi?"
Aku mengangguk sambil memegang kepalaku yang terasa berputar.
"Jangan pulang sendiri! Saya teleponkan suamimu, ya?" Belum juga aku jawab dokter Faqih sudah menelepon Mas Dion. Tak lama kemudian, suamiku itu datang menjemput.
"Mas, aku mohon menikahlah dengan Rania!" Dengan bercucuran air mata aku mengeluarkan kalimat itu pada suamiku setibanya di rumah.
"Kamu ngomong apa sih, Dek? Aku gak akan menikahi Rania, bagiku kamu satu-satunya istri buatku."
"Tapi Rania benar-benar hamil. Usia kandungannya satu bulan. Aku sendiri yang membawanya cek ke dokter Faqih." Masih dengan airmata berderai aku menceritakan hasil usg Rania pada suamiku.
"Salah dia sendiri kenapa ganjen, udah tau aku gak tertarik sama dia, tapi malah dia menjebak aku. Akupun tak yakin kalau itu anakku." Mas Dion terlihat kesal.
"Mas, aku mengerti kamu marah, tapi anak itu tidak berdosa mas. Aku ikhlas kamu menikah lagi dengan Rania." Dadaku bergetar, meski mulutku berucap demikian tapi hatiku masih sakit, seolah tidak rela jika harus berbagi suamiku dengan wanita lain.
"Gak Dek, aku tau kamu akan terluka. Aku gak akan menikah lagi dengan Rania maupun wanita manapun."
"Mas, aku juga seorang wanita, aku juga lagi hamil, aku tau bagaimana perasaan Rania."
"Kamu dan Rania jelas berbeda. Gak usah dibandingkan. Aku tetep gak mau nikahi dia."
"Mas, dia sudah berubah. Dia sekarang berhijab. Dia janji akan menjadi pribadi yang lebih baik. Tinggal kamu sebagai imam menuntunnya kejalan yang diridhoi Allah."
"Kamu bener-bener polos. Rupanya Rania sudah mengambil hatimu. Dia hanya berakting di depanmu. Percayalah padaku!"
"Mas, jangan buruk sangka. Sudahlah aku tak mau berdebat Mas. Nikahi dia Mas! InsyaAllah aku ridho."
Mas Dion memelukku, aku menangis sejadinya. Sebenarnya aku hanya wanita biasa, yang ingin memilikimu seutuhnya, tapi aku tak mau egois. Ada seorang anak yang tak berdosa. Anak itu adalah adik dari si kembarku, mana mungkin aku biarkan anak itu lahir tanpa ayah.
Ya Allah, berikanlah aku kekuatan dan keikhlasan untuk menjalani poligami sebagaimana istri istri Rosullulloh. Sesungguhnya semua atas kehendakMu dan aku pasrahkan hanya kepadaMu Ya Allah ....
Beberapa hari aku tidak enak badan, Mas Dion terus memohon agar aku membatalkan pernikahannya dengan Rania, tapi aku tidak bisa. Bayangan bayi kecil Rania yang akan lahir tanpa Ayah membuatku merasa bersalah jika membatalkan pernikahan itu karena ego dan perasaanku. Walaupun Mas Dion terus bersikukuh kalau bayi Rania bukan anaknya.
Di hari pernikahan Mas Wawan pun aku terpaksa tidak datang, sejujurnya aku berat membayangkan kehidupan poligami yang akan aku jalani bersama Rania sebagai maduku.
Akhirnya hari itu pun tiba, dimana suamiku akan menikahi Rania. Hanya ada penghulu, dua orang saksi tetangga sebelah dan wali hakim karena Rania yatim piatu, serta sudah tidak punya keluarga.
Rania terlihat cantik dengan baju kebaya putih dan jilbab putihnya, dia terlihat bahagia dengan senyum penuh kemenangan. Sementara suamiku terlihat gelisah meski dia tetap terlihat gagah dan tampan.
Bagaimana dengan aku? Jangan ditanya, perasaanku sudah sangat hancur bahkan mungkin menjadi abu, tapi aku berusaha tegar mencari ridho Allah. Aku berusaha membendung air mata ini supaya tidak tumpah.
"Bagaimana? Kedua mempelai dan para saksi sudah siap?“ Suara pak penghulu membuyarkan lamunanku.
"Dek, kamu yakin dengan pernikahan ini?" Mas Dion berbisik di telingaku, sepertinya dia berharap aku membatalkan pernikahan ini.
Aku mengangguk. Kemudian Mas Dion menjabat tangan pak penghulu. Rasanya aku ingin waktu berhenti di sini, merasakan terakhir aku menjadi satu-satunya istri Mas Dion. Ketika tiba-tiba ....
"Tunggu! Hentikan pernikahan ini! " Suara seorang lelaki yang begitu aku kenal muncul dari pintu depan, sontak pandangan kami semua menoleh ke arahnya.