(Pov Wawan)
Pagi itu aku di kejutkan dengan datangnya seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar, bertato dan memakai celana jeans yang robek di bagian lututnya. Laki-laki yang berperawakan preman itu langsung memukul dan menghajarku tanpa ampun. Aku tak diberinya kesempatan untuk memberikan perlawanan.
"Heh lo dengar, ya! Jauhi cewek gua! Kalau gua masih liat lo jalan sama dia, gua bisa berbuat lebih parah dari ini. Ngerti lo!" Laki-laki preman itu menghempaskan tubuhku ke lantai, lalu meninggalkan ruanganku.
Gila, kemana saja satpam di kantor ini? Ada orang memukuli aku seperti ini tak ada yang tau. Aku meringis kesakitan, badanku nyeri semua. Akhirnya kupanggil OB untuk mengantarku ke rumah sakit.
Di IGD aku bertemu Aira dan Dion. Senang bisa melihat mereka bahagia meski hatiku teriris. Aira memintaku pulang menemui Mama. Beberapa kali aku mencuri pandang menatap wajah imut Aira dan Dion terlihat kesal.
Mama, anakmu Ini pun juga rindu padamu. Akhirnya aku putuskan pulang ke Jogja keesokan harinya bersama Kakek yang selama ini tinggal di Wonokromo bersamaku.
Tangis Mama pecah saat bertemu denganku. Sudah sejak dua tahun lalu aku tidak pernah pulang ke Jogja. Aku juga berkunjung ke rumah keluarga Abah Abdullah, abahnya Aira untuk meminta maaf. Dengan berbesar hati, mereka memaafkanku. Tidak ada dendam sedikitpun di hati mereka. Benar-benar keluarga ustaz yang patut dijadikan panutan.
Kemudian Kakek berniat menjodohkan aku dengan anak tetangganya di Wonokromo, seorang gadis yang berprofesi guru sekolah menengah pertama. Nayla, nama gadis itu. Aku hanya dipertemukan sekali dengan gadis itu, lumayan cantik juga tapi masih cantik Aira. Ah, mikir apa sih aku?
Aku pun menyetujui perjodohan itu dan pernikahan akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Aku akan berusaha melupakanmu, Aira. Karena kulihat kamu sudah bahagia bersama Dion. Aku tak mungkin tega mengusik kebahagiaan kalian.
Aku berniat mengundang Aira dan Dion dalam resepsi pernikahanku. Aku ingin tetap membina hubungan yang baik dengan Aira maupun Dion. Sore itu aku memacu mobil menuju rumah Aira.Tempat tinggalnya bersama Dion di Surabaya.
Baru pertama kali ini aku mengunjungi rumahnya. Meski sudah beberapa kali lewat, tetapi aku tak punya nyali untuk mampir. Takutnya Dion salah paham lagi. Selain itu aku juga takut tidak bisa move on dari Aira jika sering-sering bertemu dengannya. Sungguh sebenarnya nama Aira belum tergantikan di hati ini.
Setelah memberikan undangan pernikahanku dengan Nayla, aku segera pulang. Namun, ketika menstarter mobil, aku melihat Rania datang ke rumah Aira. Jiwa kepoku meronta, akhirnya aku turun dan menguping pembicaraan Dion dan Rania dari samping rumah yang kebetulan ada jendelanya.
Astagfirullah ... ternyata Rania hamil anak Dion? Aku seakan tak percaya dengan apa yang aku dengar. Sementara itu, di dalam, Dion berteriak mengusir Rania karena Aira pingsan karena ucapan cewek centil itu.
Aku segera pergi dari tempat itu, takut kepergok Dion maupun Rania. Ah, Aira. Kasihan sekali kamu. Tadinya aku sudah ikhlas melupakanmu karena berpikir kamu akan lebih bahagia dengan Dion. Ternyata Dion sama halnya denganku, hanya bisa membuatmu menangis.
Malam itu aku gelisah, bukan karena memikirkan pernikahanku yang tinggal seminggu lagi, tetapi karena memikirkan Aira. Ah ... sebenarnya cinta ini belum benar-benar hilang. Namun, benarkah Dion menghamili Rania, rasanya gak mungkin juga.
Sejak SMA, Rania memang sudah mengejar-ngejar Dion, tetapi, lelaki itu tak pernah menggubrisnya. Aku harus mencari tau kebenarannya. Aku benar-benar tidak tega melihat kesedihan di mata Aira. Sudah cukup aku menorehkan luka padanya dua tahun lalu. Tak ingin aku melihatnya bersedih lagi.
Malam itu juga, aku memacu mobilku menuju rumah Rania. Ketika sampai di depan rumahnya, aku melihat ada seorang laki-laki di dalam ruang tamu. Sepertinya aku tidak asing dengan lelaki itu. Aku pernah melihatnya.
Dengan bergaya ala detektif, aku mengendap endap ke halaman rumah Rania dan menguping dari depan jendela. Setelah dekat, aku terkejut melihat siapa yang bersama Rania. Laki-laki itu? Bukankah dia laki-laki preman yang memukuli aku sebulan yang lalu? Kenapa dia ada disini? Apa hubungannya dengan Rania? Aku mencoba lebih mendekat jendela supaya bisa menguping pembicaraan mereka.
"Sudah aku bilang, jangan kesini lagi! Aku jijik sama kamu. Aku gak mau liat mukamu lagi," ucap Rania pada laki-laki berperawakan preman yang lengannya bertato itu.
"Maafkan aku, Cantik! Aku menyesal. Aku mau bertanggungjawab atas perbuatanku. Aku mencintaimu, Ran!"
"Bodo amat sama cinta butamu. Jangan coba-coba kembali kesini karena aku sebentar lagi mau menikah dengan orang yang aku cintai. Udah sana, jangan deketi aku lagi."
"Kau mau menikah dengan pria beristri itu? Mending juga sama aku, Baby."
"Bukan urusanmu! Pergi atau aku telpon satpam perumahan ini buat ngusir kamu, hah!"
"Oke aku pergi sekarang, tapi aku pasti kembali, Baby."
Setelah berkata demikian, laki-laki preman itu keluar dari rumah Rania dengan wajah kesal. Aku mengikuti nya dari belakang, dia mengendarai motor gedhe. Aku pun mengikutinya dari belakang dan memacu mobil pelan-pelan.
Laki-laki preman itu berhenti di sebuah cafe dan masuk ke tempat itu. Aku terus mengikutinya sampai akhirnya dia menyadari kedatanganku.
"Eh elo yang waktu itu gua gebukin, ya!? Sori ... gua minta maaf. Gua udah salah orang. Elo atasan Rania di kantor, kan?“ tanyanya.
“Hemm lo bener banget! Apa hubungan lo sama Rania?" Aku balik bertanya. Laki-laki preman itu malah duduk di kursi dan memandangi aku dari atas sampai bawah.
"Gua bukan apa-apanya tapi gua mencintainya, sayangnya dia tidak punya perasaan yang sama pada gue."
Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba terpikir olehku kalau lelaki ini adalah ayah dari anak dalam kandungan Rania. Aku harus memancingnya untuk bercerita, apakah dia pernah berhubungan badan dengan cewek centil itu.
"Lo tau kalau Rania hamil?" tanyaku memelankan suara.
"A-apa? Hamil?" laki-laki preman itu terliha syok dan tanpa sengaja memukulkan tangannya di meja cafe. Aku pun sempat terkejut.
"A-aku khilaf malam itu, aku mabuk. Sungguh aku tak berniat menodainya," ucapnya penuh penyesalan. Sepertinya laki-laki preman itu mengatakan hal yang sebenarnya.
Aku tertegun, benar dugaanku, bayi yang dikandung Rania pasti bukan anak Dion. Dia memanfaatkan kehamilannya untuk menjebak Dion. Dasar perempuan licik. Dion ... Dion, kamu laki-laki bodoh. Kalau bukan karena aku kasihan pada Aira sudah kubiarkan kamu terjerat dalam rencana busuk Rania.
"Elo mau gua bantu mendapatkan Rania?“ bisikku lirih. Tiba-tiba tercetus ide untuk membuat cewek centil itu jera.
"Beneran? Lo gak dendam pernah gua gebukin?“
“Udah ... gak papa. Gua udah maafin Lo. Sini gue kasih tau rencana!" Aku membisikkan sesuatu ke telinga laki-laki preman itu, lalu diapun tersenyum sambil manggut-manggut.
"Oh iya kenalkan namaku Wawan." Aku mengulurkan tangan.
"Aku Sony." laki-laki preman yang ternyata namanya Sony itu menjabat tanganku. Setelah saling tukar nomor hp aku meninggalkan cafe itu.
Satu minggu kemudian, hari pernikahanku datang juga. Namun, hingga tamu terakhir pulang aku tidak melihat Aira dan Dion datang. Aku kecewa. Aku berharap Aira datang dan menyaksikan hari bahagia ini. Aku ingin dia tahu kalau aku benar-benar berusaha move on darinya. Apa mungkin Dion tak mengizinkannya datang?
Istriku masih ganti baju dan membersihkan make up. Sementara aku masih duduk termenung di kamar pengantin yang sudah dihias sedemikian rupa. Akhirnya aku melepaskan masa lajangku, meskipun dengan seorang wanita yang sama sekali tidak kucintai. Maafkan aku, Nayla.
Pandanganku tertuju pada kado merah jambu. Entah mengapa aku ingin segera membukanya. Ternyata itu kado dari Aira. Dua stel baju batik couple dan sebuah jam tangan untukku.
Ada tulisannya juga
SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU, MAS. BAROKALLOHU LAKUMA. SEMOGA KAMU MENEMUKAN KEBAHAGIAANMU. MAAFKAN AKU TIDAK BISA DATANG, AKU LAGI SAKIT DAN MAS DION TIDAK TEGA NINGGALIN AKU SENDIRI.
DARI AIRA & DION
Pasti Aira sakit karena memikirkan ulah Rania. Tunggu Aira aku punya kejutan untukmu.
“Mas, kado dari siapa?" suara lembut Nayla membuyarkan lamunanku.
"Ehm ini Nay, dari teman."
"Teman istimewa ya, Mas? Kok dibuka duluan gak nungguin aku?"
"Eh gak juga, cuma teman waktu kuliah di Jogja, kok." Maafkan aku, Nay. Tak mungkin aku ceritakan tentang Aira di malam pertama kita. Aku akan berusaha untuk mencintaimu, Nay. Meskipun sulit. Beri aku waktu.
Satu minggu kemudian ....
Pagi itu sebelum ke kantor, aku mampir ke KUA untuk menanyakan kapan pernikahan Dion dan Rania.
"Dion Prasetyo dan Rania Puspitasari ya?" tanya petugas pencatat di KUA.
"Iya benar, Pak. Kapan dan di mana ya pernikahan dilaksanakan?" tanyaku.
"Besok hari minggu jam 9 pagi di rumah Pak Dion," jawab petugas KUA.
"Oo, ya. Terimakasih informasinya, Pak."
Aira, aku akan memberi kejutan terindah untukmu. Tunggu, ya.