Bab 19-Khasan dan Khusein

1258 Kata
(Pov Dion) Hari ini adalah hari yang paling suram dalam hidupku. Bagaimana tidak? Aku harus menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak kucintai hanya dengan alasan karena dia sedang hamil anakku, meskipun jujur sebenarnya aku tidak yakin itu anakku. Kalau bukan karena Aira, istriku tercinta yang meminta, sudah pasti aku akan menolak untuk menikahi Rania. Meski penampilan cewek centil itu yang sekarang berhijab, tetapi tetap saja aku tak bisa jatuh hati padanya. Aira memang sangat polos, dia mudah sekali percaya dengan sandiwara Rania yang berjanji akan berubah setelah menikah denganku. Kulirik sekilas wajah istriku. Meski dia berusaha tersenyum dan ikhlas, tetapi aku tau ada luka yang sangat dalam di hatinya. Sekali lagi aku menyakiti hati wanita yang kucintai. Aku berharap waktu berhenti di sini sehingga aku tak harus menikah dengan Rania,. Aku berharap istriku berubah pikiran dan membatalkan pernikahan ini. Ya Allah, berikan aku keajaiban sebagaimana dua tahun lalu saat aku menikah dengan Aira. Aku yang waktu itu datang sebagai tamu undangan, tetapi malah menjadi pengantin pria. "Bagaimana? Kedua mempelai dan para saksi sudah siap?" Mendengar perkataan pak penghulu, detak jantungku semakin cepat. "Dek, kamu yakin dengan pernikahan ini?" Kembali aku bertanya pada Aira, berharap dia berubah pikiran. Namun, dia malah menganggukkan kepala. Dengan berat hati aku mengulurkan tangan menjabat tangan pak penghulu, lalu melirik Rania sekilas. Dia tampak tersenyum bahagia. Ya Allah datangkanlah keajaibanMu! "Tunggu! Hentikan pernikahan ini!" Suara seseorang menggema dari arah pintu depan, sontak pandangan kami semua tertuju ke arah datangnya suara itu. "Aku belum terlambat, kan?" tanya orang itu dengan napas yang masih ngos-ngosan. "Wawan?" panggilku pelan dan hampir cuma aku yang mendengar. Orang yang entah kenapa paling aku benci itu hari ini menjadi dewa penyelamatku. "Wawan? Ngapain kamu kesini? Aku tidak mengundangmu," tanya Rania sambil menatap tajam ke arah lelaki yang baru saja datang itu. Dia terlihat gelisah dengan kedatangan Wawan. "Apa aku tidak diundang? Jadi, aku gak boleh, menyaksikan pernikahan sekretarisku?" tanya Wawan sambil tersenyum nakal memandangi wajah Rania yang tadinya sumringah berubah gelisah. "Apakah bisa kita lanjutkan acaranya?" Pertanyaan Pak Penghulu terasa seperti palu menimpa kepalaku. Aku berharap pernikahan ini tidak terjadi. "Tunggu sebentar, Pak! Saya punya kejutan buat pengantin wanita yang juga sekretaris saya ini," ucap Wawan kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Tak lama kemudian muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar yang sudah rapi menggunakan jas pengantin. "S-sony," gumam Rania terlihat gugup dan pucat. "Kenapa kaget, Cantik? Bukankah aku sudah janji akan kembali?" ucap lelaki itu lalu menggandeng tangan Rania dan mendekat kepada Pak penghulu. “Pak! Tolong nikahkan kami." titah lelaki itu pada Pak Penghulu, sementara tangannya terus memegang tangan Rania. Sementara itu penghulu yang bingung menoleh ke arah Aira. "Tunggu, Mas! Siapa laki-laki ini?“ tanya Aira sambil berjalan mendekati Wawan. "Dia adalah lelaki yang seharusnya mengucapkan ijab kabul untuk Rania, Ra. Bukan Dion," jelas Wawan membuatku melebarkan mata dan menatap ke arah Rania. Apa maksud ucapan Wawan? "Gak, aku gak mau nikah sama Sony! Aku maunya sama Dion," teriak Rania sambil melepaskan diri dari lelaki itu, lalu tiba-tiba berlari memelukku. Melihat kejadian itu, Aira langsung membuang pandangannya. Aku tau dia pasti cemburu. Rania baru memelukku, bagaimana jika cewek centil ini benar benar jadi istriku? Ah, pasti dia akan semakin terluka. "Tapi gua ayah dari anakmu, Cantik. Jadi, gua yang paling berhak untuk nikahi lo, bukan cowok ini." Lelaki yang bernama Sony itu melepaskan Rania dari pelukanku. Aira terkejut dan mendekati Sony yang masih memegang tangan Rania. "A-apa yang barusan Anda katakan tadi? Jadi, anak dalam kandungan Rania--" “Iya, Ra. Sony ini ayah dari anak dalam perut Rania. Dion hanya korban obsesinya. Dia menjebak Dion," jawab Wawan menjelaskan. Aku tersenyum lega, akhirnya kebenaran terungkap. Ah, entah kenapa Wawan tiba-tiba baik padaku. Aku menoleh saat mendengar suara tamparan. Satu tamparan mendarat di pipi Rania. Ternyata Aira mendekati Rania dan menamparnya. Aku dan Wawan terkejut, tak menyangka Aira yang lemah lembut itu mampu menampar Rania. "Tega sekali kamu melakukan ini, Rania. Orang ini yang berbuat kenapa harus suamiku yang bertanggung jawab. Dasar wanita tak punya hati." Aira menangis. Aku segera mendekat dan memeluknya. "Sudah, Dek! Jangan kotori tangan lembutmu. Allah sudah menunjukkan kebenaran," ucapku menenangkan. "Astagfirullah," ucapnya berulang-ulang seolah menyesal telah menampar Rania. "Tidak, aku hanya mau menikah dengan Dion," teriak Rania. Cewek centil itu tiba-tiba Rania berontak dan berhasil lepas dari pegangan tangan Sony. Suara pecahan kaca terdengar memekikkan telinga. Rupanya Rania mengambil dan memecahkan gelas kemudian dia mendekatkan pecahan kaca itu ke urat nadi tangannya. "Rania! Jangan bodoh! Itu hanya menyakiti dirimu sendiri," cegah Aira. Istrikku itu bermaksud mendekati Rania , tetapi aku langsung menahannya. "Aira, aku hanya mau menikah dengan Dion! Tak peduli siapa ayah bayiku. Sony, lelaki pemabuk ini sudah memperkosa aku. Aku benci dia. Aku benci!" terak Rania semakin menggila. "Rania ... jangaann!" Sony mencoba mencegah Rania berbuat nekat tapi terlambat darah segar sudah mengalir dari pergelangan tangan Rania, lalu wania itu pun pingsan. Segera Sony dan dua orang temannya yang berjaga di luar rumahku, membawa Rania ke rumah sakit. Aira terlihat syok, dia duduk bersimpuh di lantai. "Bangun, Dek. Kamu gak papa, kan?" tanyaku sembari mendekatinya. Dia menggeleng pelan. "Aku permisi pulang, Ra." pamit Wawan sambil membalikkan badan dan berjalan keluar pintu. "Tunggu, Wan! Terima kasih ya." Aku mengulurkan tanganku. Meski lelaki di depanku ini selalu menjadi musuh bebuyutanku tapi jujur hari ini dia adalah dewa penyelamatku. "Aku lakukan semua ini bukan karena kamu, tetapi untuk Aira. Aku tak tega melihat dia selalu kamu buat bersedih. Ingat, Yon. Kamu jangan bikin Aira menangis lagi. Sudah cukup aku yang membuatnya menangis di masa lalu." Wawan menatapku tajam, sepertinya dia juga enggan membalas uluran tanganku. "Mas, terimakasih atas semua yang sudah kamu lakukan. Maafkan kemarin aku gak bisa datang ke pernikahanmu." Aira yang tadinya bersimpuh dilantai, berdiri mendekati Wawan. “Gak papa, Ra. Aku ngerti kok! Aku pulang ya. Jangan bersedih lagi, kamu harus bahagia," tambah Wawan lagi. Aira mengangguk kemudian Wawan berlalu dari hadapan kami. “Mas Wawan, tunggu, " panggil Aira. Wawan pun menoleh. "Tolong jenguk Rania di rumah sakit." Wawan mengangguk kemudian meninggalkan rumahku. Ah, istriku ini masih saja memikirkan nasib perempuan yang hampir merebut suaminya. Akhirnya badai ini berlalu, Aira memelukku erat. Kami bersyukur bisa melewati ini. Apakah benar yang dikatakan Wawan, bahwa aku hanya bisa membuat Aira bersedih. Aku belum bisa membahagiakan dia. "Dek, maafkan aku ya. Aku belum bisa membahagiakanmu. Aku malah selalu bikin kamu sedih dan menangis. Seandainya dulu kamu menikah dengan Wawan mungkin kejadiannya gak bakal seperti ini, Dek. Mungkin kamu sudah bahagia." "Ssssttttt, kamu ngomong apa sih, Mas! Gak boleh begitu, sama saja kamu menyalahkan Allah. Semua ini sudah di takdirkan dan jodoh aku adalah kamu." "Kamu tidak menyesal menikah denganku?" "Ish, udah Mas jangan bahas itu lagi. Aku bahagia kok sama kamu." Enam bulan kemudian.... "Alhamdulillah, selamat Pak Dion! Dua bayi laki-laki yang sehat sudah lahir dengan selamat" Dokter Faqih keluar dari ruang operasi dengan berita baik. Anak-anakku terpaksa harus lahir sesar karena posisi bayi sungsang. Apalagi anak kami kembar. Raut bahagia terpancar dari semua keluarga Abah yang sudah sedari kemarin tiba di Surabaya, tak ketinggalan Andi dan Aida. Aku minta Abah Abdullah untuk memberikan nama untuk si kembar. Abah memberi nama Khasan Abdurrohhman untuk si kakak dan khusein Abdurrohim untuk si adik. Semoga kelak menjadi anak-anak yang sholih sebagaimana khasan khusein cucu cucu Rosululloh. Ketika aku akan ke apotek untuk menebus obat obatnya Aira, aku bertemu Wawan yang berlari-lari dengan panik. "Wan! Ada apa? Kenapa kamu panik?" tanyaku ketika Wawan sudah dekat. "Yon ... itu tadi di kantor, Rania minum obat penggugur kandungan dan dia mengalami pendarahan hebat." "Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN