Bab 20-Kepergian Rania

1213 Kata
(Pov Wawan) Malam itu aku pulang kantor sekitar jam 9 malam, sama seperti malam-malam sebelumnya. Memang akhir-akhir ini pekerjaanku lebih padat, apalagi sejak Rania hamil dia jadi sering izin tidak masuk kerja. Semenjak selamat dari percobaan bunuh diri lalu, Rania jadi pendiam dia terpaksa menerima Sony, cowok preman yang telah menghamilinya itu sebagai suami setelah gagal menikah dengan Dion. Setiba di rumah, seperti biasa aku langsung mandi dan merebahkan tubuhku di atas ranjang. Tubuhku terasa penat. "Mas, kok pulangnya malem terus? Kapan kita punya waktu untuk bersama? Setiap pulang kantor kamu langsung tidur dan besok pagi berangkat kerja lagi. Apa sepertinya aku sudah tak berarti bagimu?" ucao Nayla, istriku. Aku duduk dari tempatku berbaring, Kupandangi wajah istriku yang sedikit cemberut. Ah ... dia benar, selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan mengabaikan dia. Aku memeluk tubuh istriku dan membelai rambut panjangnya. "Maafkan aku, Nay. Aku janji weekend nanti kita jalan, ya. Bagaimana kalau kita ke Malang untuk Honeymoon?" tawarku. Istriku mengangguk. Dia tampak senang. Memang selama ini aku jarang ada waktu untuknya. "Terima kasih, Mas." Nayla mempererat pelukan, kemudian aku mengecup keningnya. "Sekarang kita tidur, ya." Aku berbaring diikuti Nayla. Aku memeluknya erat dan dia pun terlelap. Hari hariku bersama Nayla memang terasa hambar. Sebenarnya aku sudah berusaha mencintainya, tetapi tetep tak bisa. Aku lebih senang menghabiskan waktuku untuk kerja di kantor daripada harus di rumah mendengarkan curhatan Nayla. Maafkan aku, Nay. Waktu berlalu hingga saat ini sudah 6 bulan pernikahanku. Nayla selalu mengeluh kalau dia belum juga hamil. Aku sudah memintanya untuk bersabar, tapi dia malah menyarankan agar kami periksa ke dokter. Siapa tau salah satu dari kami bermasalah. Akhirnya aku turuti saja kemauannya biar dia gak ngambek lagi. Hasil pemeriksaan bisa diambil minggu depan. "Pak Wawan! Anu, itu, Bu Rania pingsan di toilet." Pagi itu aku dikejutkan dengan laporan salah seorang staf kantor. Segera aku berlari melihat keadaan Rania. Astagfirullah, sepertinya Rania mengalami perdarahan hebat. Menurut salah satu staf kantor, Rania mengkonsumsi obat aborsi. Aku segera membawanya ke rumah sakit. Rania pasti sangat stres, karena memang sebenarnya tidak menginginkan bayi yang dikandungnya lahir. Berkali-kali aku menggagalkan usahanya untuk aborsi, tapi kali ini aku kecolongan. Ya Allah, Rania. Kamu nekat sekali. Padahal kini usia kandungannya sudah hampir 7 bulan, sangat beresiko jika digugurkan. Di rumah sakit, aku ketemu Dion. Rupanya Aira habis melahirkan dan bayinya kembar. Kenapa hatiku berdebar lagi, jika menyangkut Aira semua jadi terasa indah. Ah ... kenapa aku masih mikirin istri orang? Keadaan Rania semakin memburuk, bayinya meninggal di dalam kandungan dan terpaksa harus di operasi. Bayi perempuan tak berdosa itu harus merenggang nyawa karena keegoisan ibunya. Disela kesadarannya, Rania memintaku memanggilkan Dion. Aku mencari Dion di ruang rawat inap Aira. Ketika akan masuk, kakiku terhenti dan melihat kedalam ruangan. Sungguh bahagianya Aira dan Dion dengan kehadiran bayi kembar mereka. Kenapa dadaku tiba-tiba terasa sesak. Aku cemburu. Hey, memang apa hakku? Ah, aku hanyalah seorang mantan yang telah menyakiti Aira. "Yon, Rania pingin ketemu kamu. Keadaannya makin buruk dan aku belum bisa menghubungi Sony," ucapku ketika Dion keluar dari kamar. Kami pun bergegas menuju kamar rawat Rania. "Dion!" Suara serak Rania memanggil. Dion mendekat pada Rania. "Aku disini, Ran!" "Yon, aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan pada kamu dan juga Aira." "Sudahlah Ran, aku dan Aira sudah memaafkanmu. Kenapa kamu minum obat aborsi? Kamu gak sayang dirimu dan juga anakmu?" "Aku mencintaimu, Yon. Aku tidak mau anak ini lahir. Ini bukan anakmu, tetapi anak pemabuk itu. Aku bodoh. Aku benci dia. Aku gak mau hidup lagi." "Astagfirullah! Istighfar, Ran! Kamu jangan ngomong seperti itu! Bertaubatlah! Yang kamu lakukan itu dosa besar, kamu membunuh anak yang tidak berdosa." "Dioooonnnn!" Tiba-tiba nafas Rania tersengal, lalu terdiam. "Wan! Panggil dokter," teriak Dion panik. Aku segera mencari dokter jaga. Setelah diperiksa, dokter itu menggelengkan kepala. "Ibu Rania sudah meninggal," ucapnya seraya menutup tubuh Rania dengan selimut. "Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun," ucapku dan Dion hampir bersamaan. "Rania ... maafkan aku, Raniaaa!" Sony datang sambil menangis. Ternyata lelaki bengis bertampang preman ini bisa nangis juga. Dia terlihat sangat sedih dan merasa bersalah. Kami lalu mengurus pemakaman Rania dan bayinya. Setelah menghubungi beberapa kerabat Rania di Jogja, pemakaman segera dilaksanakan. Seminggu kemudian... "Pak Wawan," sapa Dokter Bowo siang itu ketika aku tiba di lobi rumah sakit. "Eh Dokter, bagaimana? Apa hasil tes saya dan istri sudah keluar?" "Mari keruangan saya, nanti saya jelaskan." Aku mengikuti dokter Bowo ke ruangannya. Setiba di dalam, dokter Bowo memberikan 2 amplop coklat kepadaku. "Dari hasil pemeriksaan, Anda sehat tapi tidak dengan istri Anda." Dokter Bowo membuka pembicaraan sambil duduk di kursinya. "Maksud dokter?" "Istri Anda mengalami gangguan ovulasi yang menyebabkan tidak bisa melepaskan sel telur atau membutuhkan waktu lama untuk melepaskan sel telur. Penyebabnya adalah gangguan hormon reproduksi atau kelebihan hormon prolaktin." "Apakah ada kemungkinan istri saya bisa hamil dok?" "Ada, tapi kecil. Namun jangan putus asa, tetap ikhtiar dan berdoa." Kata-kata Dokter Bowo tadi siang masih terngiang di telingaku. Ya Allah ... apakah aku dan Nayla tidak akan bisa punya anak? Nayla pasti sedih kalau tau berita ini. Sebaiknya aku tidak mengatakan kepadanya. Aku takut dia syok, aku tetap berharap akan ada keajaiban. "Mas, sudah diambil hasil tes kita?" Sore itu istriku sudah tidak sabar menanyakan hasil pemeriksaan kami. Aku benar-benar tidak tega mengatakan yang sebenarnya, bahwa kandungannya bermasalah. Dia pasti sedih. "Ehm sudah, Nay. Alhamdulillah kita berdua sehat. Mungkin Allah belum memberikan amanah pada kita. Yang sabar ya, Sayang!" Aku memeluk dan mencium kening istriku. Maafkan aku, Nay. Terpaksa aku berbohong. Aku tak mau kamu sedih. "Mana hasil lab nya mas? Aku pingin liat." Tampaknya dia tidak langsung percaya dengan ucapanku. "Eh itu Nay, tadi ketinggalan di kantor. Ehm besok aja aku ambil, ya." "Ya udah. Mas mau makan apa?" "Apa aja deh, yang penting kamu yang masak pasti enak," rayuku. "Mas bisa aja." Nayla menunduk, wajahnya merona. SATU TAHUN KEMUDIAN.... Di usia satu setengah tahun, rumah tanggaku dengan Nayla masih seperti yang dulu. Namun, aku merasa akhir akhir ini Nayla berubah. Dia tak lagi ngomel-ngomel kalau aku pulang larut malam, bahkan weekend pun dia tak lagi minta jalan jalan seperti dulu. Apa mungkin dia sudah lelah? Ataukah aku yang terlalu cuek padanya? Ah, aku seperti merasa berdosa. Tak seharusnya aku seperti itu, Nayla istriku, aku harus membuatnya bahagia meskipun tanpa kehadiran buah hati yang kami rindukan. Hari ini aku akan pulang lebih cepat dan memberi Nayla kejutan. Ya ... walaupun ini bukan hari ulang tahunnya, tetapi entah kenapa aku memilih hari ini. Sebelum pulang, aku mampir ke toko perhiasan dan membeli kalung yang indah untuk istriku. Semoga setelah hari ini hubungan kami menjadi lebih romantis. Tak lupa aku membeli makanan untuk makan siang, barangkali Nayla belum masak karena dia baru pulang mengajar. Sesampainya di rumah, aku mempersiapkan semua, makanan dan hadiah sudah aku siapkan di meja makan, mungkin sebentar lagi Nayla pulang. Namun, hingga sore hari Nayla belum juga pulang. Aku telpon tapi nomernya gak aktif, aku mulai gelisah. Tak lama kemudian ada mobil berhenti di depan rumahku, aku mengintip dari balik tirai jendela. Aku melihat istriku pulang diantar seorang laki-laki. Jantungku berpacu lebih kencang. Perasaanku tidak enak. Aku bagai tersambar petir ketika melihat istriku turun dari mobil kemudian laki-laki itu menciumnya. Nayla selingkuh? Bahkan mereka berciuman di depan rumahku. Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan? Mungkinkah ini karma buatku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN