Bayu masih menunggu di depan kamar mandi. Ia tidak ingin menunda lagi untuk saat pertama dengan Aina. Tidak perduli hari masih pagi, atau siang. Pintu kamar mandi terbuka. Aina terkejut karena Bayu masih berdiri di depan kamar mandi. "Sekarang ya, Ai," bujuk Bayu. "Apanya?" "Bikin anak." "Tahu ah!" Wajah Aina merona, ia ingin menjauhi Bayu, tapi Bayu menarik tangannya. "Aku memang salah selama ini, Ai. Memiliki istri, tapi aku abaikan." "Kak Bayu tidak salah, itu sesuai perjanjian di antara kita." "Kita lupakan saja perjanjian itu ya, Ai. Kita mulai semuanya dari nol." "Kak Bayu sungguh-sungguh? Aku takut nanti Kak Bayu menyesal, dan anak kita yang menjadi korbannya. Aku takut nanti Kak Bayu tergoda oleh Raisa lagi." "Tidak, Ai. Aku sudah putus dari Raisa." "Tapi, Raisa sepert

