Gawat. Kediaman Jaya langsung kisruh di detik Rea terjatuh. Ya, dia jatuh. Itulah kenapa Jaya yang masih celemotan busa pasta gigi lekas membasuh—sebersih mungkin, menyudahi kegiatan secepat yang dia bisa, habis itu segera menyongsong Realine. Ada detak kencang di dalam dadaa Jaya, bertabuh melebihi batas yang biasa dirinya rasakan. Detakan itu tidak konstan lagi, tak serupa detak di detik jam dinding. Mungkin detak di dadanya sama dengan detak jantung Bu Santi, ibunda Rea itu kini melepas gelas dan sendok aduk kala membuatkan susuu untuk sang menantu di meja dapur. Buru-buru menghampiri sang putri. Persis, Mbok Nah juga sama kagetnya. Sama-sama bergegas menghampiri Rea. Namun, bagaimana, ya? Rea sudah jatuh sebelum ditolong. Dia sudah terduduk di lantai, dengan perut yang Rea pegan

