jam menunjukkan pukul setengah empat, Risa akhirnya bisa terlelap dalam pelukan Riyan setelah merintih kesakitan di perutnya " jangan nyusahin bunda ya, nak" ucap Riyan sambil mengusap perut Risa lembut. Riyan sempat meneteskan air mata melihat Risa yang kesakitan, khawatir pada Risa dan calon anaknya. " kamu hebat, sa...keren pokonya" gumam Riyan lalu mencium dahi Risa lembut Riyan enggan beranjak meninggalkan Risa, bahkan Riyan semakin mengeratkan pelukannya dengan Risa. sesekali Riyan tersenyum bangga mengingat betapa beraninya Risa. ia merasa banyak hal yang belum diketahui dari diri Risa. perlahan Riyan melepas pelukan dan turun dari ranjang hendak melaksanakan sholat ashar. setelah selesai sholat Riyan melangkah menuju dapur dan membuka kulkas " WAH WAH" gumam Riyan melihat is

