“Abian?”
“Iya, ini aku. Apa kamu kali ini mengingatku?” tanyanya dimana ini adalah pertemuan kedua mereka dalam waktu dekat ini.
“Iya, tentu saja. Kamu apa kabar?”
“Baik.” Abian melihat belanja Mentari, “Untuk anak kamu ya?”
“Iya, maaf ya aku harus pulang. Senang bertemu denganmu lagi.”
“Aku antar.”
“Nggak usah, aku naik taksi aja.”
“Oh, yaudah. Hati-hati dijalan,” ucapnya yang tak mau memaksa Mentari untuk di antara olehnya. Mentari punya anak berarti memiliki suami, mungkin saja suaminya tak suka jika istrinya diantar pulang oleh orang lain. Ada rasa kecewa saat tau Mentari ternyata telah menikah.
Mentari pun pulang, Abian membantu membawa barang-barangnya hingga naik ke taksi.
“Mentari, apa aku boleh minta nomor kamu?” Abian memberanikan diri setelah memasukkan semua barang Mentari.
“Nomor?” Abian mengangguk dan menyodorkan ponselnya. Mentari terdiam sejenak, ada rasa ragu di hati karena ia adalah wanita bersuami. Rasanya tak pantas memberikan nomor pada laki-laki lain. Akan tetapi mengingat jika suaminya saat ini juga bersama wanita lain, ia pun menerima ponsel itu dan memasukkan nomornya. “Ini,” ucapnya memberikan kembali ponsel Abian setelah mengetik nomornya di sana.
Abian mengambil ponselnya dan melakukan panggilan balik, ponsel Mentari berdering dan melihat panggilan dari nomor baru.
“Itu nomor ponsel ku, jika tak keberatan siapa di kontak kamu, ya.”
“Iya, aku pergi dulu,” ucapan Mentari kemudian masuk dalam taksi, Abian membuat menutup pintunya dan hanya bisa melihat taksi itu perlahan menjauh.
Abian tak tinggal diam, ia langsung berlari menghampiri mobilnya dan dengan cepat mengikuti kemana taksi itu pergi,
Ia takkan membiarkan Mentari hilang darinya kali ini, walau ada rasa kecewa karena Mentari ternyata sudah menikah. Namun, ia senang saat kembali bertemu dengan cinta pertamanya itu dan tetap ingin mengetahui di mana mentari tinggal.
Setelah beberapa lama, akhirnya Abian melihat Mentari turun dari taksi membuat ia pun yakin jika itu adalah rumah Mentari, ia pun melakukan mobilnya pergi dari sana.
Tak lama mobil Abian pergi, baru Mentari menoleh ke arah ujung jalan. “Abian,” lirihnya dan lagi-lagi air matanya menetes mengingat sosok Abian yang dulu dan sekarang sangat perhatian padanya dan mengingat bagaimana suaminya itu perhatian pada wanita lain. Mentari tahu jika yang mengikuti mereka adalah Abian.
*****
Hari pertama Rian menginap di kediaman Sari, Mentari memutuskan untuk menginap di rumah Romlah, ia ingin membiasakan putra-putrinya untuk menginap di sana.
"Kamu serius ingin bekerja?" tanya Romlah saat Mentari mengutarakan niatnya untuk mulai bekerja dan akan sering menitipkan anaknya.
"Iya, Bu. Mungkin nanti saya akan selalu merepotkan Ibu. Namun, tenang saja saya akan membayar jika Ibu tak keberatan."
"Tentu saja saya tak keberatan menjaga mereka tanpa dibayar pun, saya malah senang jika anak-anak kamu tinggal di sini, tapi bagaimana dengan suamimu? Apa dia mengizinkan kamu bekerja dan mengizinkan anak-anak dijaga oleh saya?" tanya Romlah.
"Tidak, Mas Rian nggak tahu jika saya akan bekerja, Bu. Suamiku juga tak tahu jika anak-anak saya titipkan kepada Ibu, jika pun suatu saat nanti Mas Rian mengetahui jika anak-anak saya titipkan kepada ibu, ibu bisa beralasan jika saya pergi ke pasar atau membeli sesuatu di tempat lain. Suami saya mungkin juga akan jarang pulang ke rumah, dia terlalu sibuk di luar."
"Apa sebaiknya kamu izin dulu pada suamimu untuk bekerja? Kalian bisa membahasnya biar kamu juga tenang bekerja, ibu rasa tak masalah kamu bekerja sekarang karena Vio juga Dara sudah bisa ditinggal. Lihatlah, sehari kamu meninggalkannya mereka tenang-tenang saja bermain dengan mainan yang kamu siapkan, dia sepertinya sangat tahu jika kamu sedang bekerja," ucap Romlah membuat mereka kini sama-sama menatap ke arah Vio dan juga Dira yang sudah menikmati permainan baru mereka.
Mentari hanya tersenyum menanggapi hal itu, ingin rasanya ia bercerita tentang bagaimana perlakuan suaminya selama ini, bagaimana suaminya berselingkuh dengan dua orang wanita sekaligus, tetapi ia tahan. Mentari tak mau aib rumah tangganya diketahui orang banyak, bukannya ia tak percaya pada Romlah. Namun, ia takut jika sampai Romlah menceritakan hal itu kepada orang lain dan akan menjadi gosip di kalangan tetangga mereka.
Mentari mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya dan memberikan kepada bu Romlah.
"Apa ini, Mentari?" tanyanya sambil menatap uang itu dan menatap ke arah Mentari.
"Saya mungkin akan merepotkan Ibu kedepannya, ini saya bayar segini dulu ya Bu untuk menjaga anak-anak saya, nanti jika kedepannya saya memiliki gaji yang cukup. Maka saya akan menambah lebih, adapun masalah makanan dan cemilan anak-anak saya sendiri yang akan menanggungnya, saya hanya menitipkan untuk dijaga saja di rumah Ibu," jelas Mentari membuat Romlah hanya menatap Mentari, ada rasa kasihan di hatinya.
Walaupun Mentari tak mengatakan apapun tentang rumah tangganya. Namun, sedikit banyak Romlah tahu bagaimana perlakuan Rian pada Mentari selama ini, ia bahkan sering mendengar dan melihat secara langsung bagaimana Mentari mendapat perlakuan yang kasar dari suaminya.
"Simpanlah ini untukmu, jika memang kamu merasa sungkan jika hanya menitipkan anak-anakmu pada ibu tanpa membayar, bayarlah setelah kamu mendapatkan gaji. Uang ini ambil untuk keperluanmu saja dan anak-anakmu, ibu ikhlas," ucap Romlah tulus dan mengembalikan uang itu ke tangan Mentari, membuat Mentari pun langsung memeluk tetangganya itu, ia memang sangat membutuhkan uang untuk memulai semuanya.
"Makasih ya, Bu. Makasih banyak, Mentari janji setelah Mentari mendapatkan gaji Mentari akan membaginya pada Ibu," ucap Mentari membuat Romlah pun hanya menepuk-nepuk bahu Mentari.
Romlah seorang janda, ia memiliki beberapa cucu. Namun, mereka semua tinggal di kota yang berbeda, ia tinggal sendiri di rumah yang lebih besar dari tempat Mentari tinggal, dan rumah itu adalah miliknya sendiri, sehingga tak membutuhkan sewa tiap bulannya. Adapun untuk keperluan hari-hari, Romlah juga selalu mendapat kiriman dari dua orang anaknya.
semenjak Dara dan Vio tinggal di rumahnya, ia sudah tak kesepian lagi, ada kesibukan yang ia lakukan setiap harinya dan itu sama sekali tak merepotkannya.
Sementara itu di kediaman Sari, sesuai dengan rencana mereka. Sepanjang sore hingga malam mereka menghabiskan waktu untuk bermesraan, tak ada rasa takut di hati Sari jika suaminya tiba-tiba datang.
Bagaimana tidak, ia sudah bekerja sama dengan semua asisten rumah tangga bahkan satpam serta sopir sang suami, sehingga ia akan tahu pasti kapan suaminya pulang dan di mana saja suaminya itu berada. Tentu saja mereka akan setia pada Sari karena Sari memberikan uang lebih kepada mereka semua.
Rian bukanlah orang yang pertama yang dibawa Sari ke rumah itu, ia bahkan sering membayar orang dengan harga mahal untuk melayaninya, Rian hanya orang bodoh yang melayaninya secara gratis.
Rian berpikir dialah yang diuntungkan dalam hubungan mereka, karena ia bisa melakukan hal yang tak seharusnya dilakukannya. Ia mendapatkan kepuasan dari Sari dan tak usah membuang-buang uang untuk merayunya. Merayu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, tak seperti Salma yang selama ini memorotinya tanpa pernah mau melayaninya. Ia merasa ditipu oleh Salma yang hanya selalu memberikan janji palsu. Kini ia tengah berpacu mengejar kenikmatannya di atas tubuh indah Sari.