Langkah Awal

1324 Kata
Pagi hari dengan wajah yang berbinar senang, Rian pun meninggalkan rumah dengan menggunakan taksi. Sesuai izin ke istrinya, jika dia tak akan ke kantor, tapi keluar kota. Rian sengaja menggunakan taksi agar Mentari tak curiga, padahal Mentari sudah tahu jika suaminya itu berbohong padanya. Mentari yang melihat suaminya itu sudah pergi dengan taksi langsung mengeluarkan motor Rian dari dalam rumah. Sebelumnya ia sudah menghubungi Romlah untuk menitipkan Vio, membuat ia pun langsung mengantar Dara terlebih dahulu ke sekolahan dengan motor. Mentari tahu kemana tujuan suaminya, membuat ia pun tak terlalu terburu-buru dan yakin pasti akan bisa memergoki suaminya pulang kerja nanti. Setelah mengantar Dara, Mentari masih memiliki banyak waktu sebelum suaminya itu pulang kantor, sudah dipastikan jika Rian akan ikut dengan Sari setelah mereka pulang kantor nanti sesuai dengan pesan mereka semalam. "Dara, nanti saat pulang Dara ikut sama ibu guru ya. Nanti Ibu akan sedikit terlambat menjemput Dara, ini tadi ibu sudah memberikan uang jajan pada ibu guru, nanti Dara jajan sama ibu guru, ya, Nak!" bujuk Mentari sambil menyerahkan Dara pada ibu gurunya. Mereka sudah berkomunikasi lewat pesan singkat subuh tadi. Mentari cukup dekat dengan ibu guru Dara, membuat ia pun meminta bantuan sang ibu guru untuk menjaga anaknya selama ia mengintai suaminya. Mentari yang sudah memiliki janji dengan temannya pun langsung melajukan motor suaminya itu menuju ke sebuah cafe yang tak jauh dari kantor Rian, ia sengaja memilih cara itu. Begitu sampai di cafe, Mentari pun langsung menghampiri Cahaya, salah satu temannya yang mengajaknya untuk bekerja di salah satu butik. “Maaf ya aku terlambat.” “Nggak kok, aku juga baru datang.” "Kamu yakin aku bisa?" tanya Mentari saat sudah duduk di depan Cahaya. "Kamu itu sebenarnya cantik, hanya tak mengurus diri saja semenjak kamu menikah. Tinggi badan kamu juga sangat profesional, aku yakin hanya dengan merawat diri sedikit saja kamu akan sangat pantas untuk bekerja bersama dengan kami," ucap Cahaya meyakinkan. Cahaya ikut prihatin melihat kondisi Mentari saat ini, sahabatnya itu terlihat kusam dan kurus. Dulu ia juga hanya sebagai model di butik Berlian. Namun, setelah sekian lama bekerja akhirnya ia diangkat sebagai manajer dan Cahaya tak melupakan bagaimana bantuan Mentari dulu sebelum ia sukses. Mentari lah orang yang selalu membantunya hingga ia bisa sampai di posisi saat ini, dan Cahaya ingin membalas kebaikan sahabatnya itu. "Jadi, sekarang aku harus bagaimana? Kamu tahu sendiri kan jika aku punya 2 orang anak." "Kalau masalah itu tenang saja, pekerjaannya nggak tiap hari kok, ada jadwal tertentu. Nanti aku akan menyesuaikan kondisi mu sebagai ibu rumah tangga, semua bisa aku atur, yang udah terpenting sekarang kamu mau ikut bergabung dan mau bekerja," ucap Cahaya kemudian menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat dan juga sebuah map. "Apa ini?" tanya Mentari melihat amplop coklat tersebut, ia sudah tahu apa isi dari map yang disodorkan oleh Cahaya, mereka sudah membahas masalah kontrak itu dengan sangat baik sebelumnya melalui sambungan telepon, ia hanya tinggal menandatanganinya saja dan Cahaya percaya jika Mentari pasti bisa, begitu juga dengan Mentari. Ia percaya pada Cahaya, jika dia pasti tak akan menipunya. "Kita akan mulai kerja samanya dua minggu lagi, aku ingin kamu menggunakan uang itu untuk merawat dirimu. Pergilah ke ke salon yang aku rekomendasikan kemarin, aku sudah bicara pada mereka perawatan apa yang harus kamu terima saat kamu datang ke sana, kamu tinggal datang dan bayar pakai uang itu, makan makanan bergizi selama dua minggu kedepan agar tubuhmu sedikit lebih berisi, kamu terlalu kurus dan saat datang ke kantor cobalah pakai pakaian yang rapi dan bersih. Jangan yang seperti ini, orang akan menilaimu dari penampilan. Pakai pakaian yang modis agar nantinya kamu bisa nyaman bekerja bersama dengan kami, mereka akan menghormati kamu melihat dari pakaian yang kamu pakai." “Iya, Baik.” Mentari cukup terkejut saat melihat isi amplop tersebut. Namun, ia mengerti jika perawatan, harga baju dan juga makanan sehat tentu saja ada harganya, ia sudah bertekad akan mengubah nasibnya, ia tak mau terus-terusan menjadi ibu rumah tangga yang tak bisa berbuat apa-apa, ia tak mau menjadi seorang istri yang terus pasrah tanpa melakukan perlawanan. Suaminya bersikap semena-mena dan sekarang selingkuh lebih dari satu wanita, semua itu sudah kelewatan, sudah cukup ia menerima semua itu. Sekarang tujuannya hanya satu, mempertahankan anak-anaknya dan membuat mereka berada di dekatnya. Membahagiakan mereka dengan usahanya, anak-anaknya tak akan memiliki kehidupan yang cerah jika bersama dengan pria seperti ayahnya, pria yang tak pernah cukup dengan satu wanita saja. Semua itu bisa ia lakukan jika ia memiliki uang. Tanpa bertanya lagi dan tanpa mengajukan syarat apapun, Mentari menandatangani surat kontrak tersebut. Mereka bersalaman menandakan jika Mentari hari ini dan seterusnya sudah terikat kontrak dengan butik tempat dimana Cahaya bekerja. Setelah pertemuan itu, Mentari pun pamit pulang. Ia terlebih dahulu menjemput Dara di sekolahannya, setelahnya mengantar Dara pulang dan menitipkannya kepada tetangganya, Romlah. Mentari juga membeli beberapa cemilan yang bisa dimakan oleh anaknya dan juga Romlah. "Bu, aku titip mereka lagi, ya?" ucap Mentari yang sudah melihat jam jika jam sudah menunjukkan jam pulang kantor, sudah saatnya ia melihat ke mana suaminya itu akan pergi, apa saja yang dilakukan suaminya saat berada di luar rumah. Dengan perasaan gusar, Mentari melajukan motor sang suami menuju ke kantor dan sesuai dengan dugaannya. Begitu ia memarkirkan motornya cukup jauh dari gedung perkantoran tempat suaminya bekerja, ia melihat suaminya itu menghampiri sebuah mobil, terlihat suaminya itu masuk ke sebuah mobil membawa ransel yang semalam disiapkannya. Kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan tempat bekerjanya itu. Mentari melihat jelas jika suaminya itu membohonginya, suaminya mengatakan jika dia akan pergi keluar kota, tetapi ternyata suaminya itu hanya ke kantornya. Dengan menjaga jarak, Mentari terus mengikuti kemana suaminya itu pergi dan akhirnya mereka pun tiba di sebuah rumah mewah. Mentari sadar dia tak mungkin masuk. Dengan bantuan ponsel, ia mengambil beberapa gambar saat suaminya itu turun dan merangkul wanita yang ia yakini bernama Sari. Mereka masuk ke dalam rumah itu, bahkan tepat berada di pintu utama mereka saling memagut dan hal itu tak disia-siakan oleh Mentari. Beberapa foto langsung diabadikan di galeri ponselnya, setelah dirasa cukup ia pun pergi meninggalkan suaminya dan juga wanita yang diketahui bernama Sari itu, wanita yang semalam mengirim pesan pada suaminya. Entah apa yang mereka lakukan di dalam rumah itu, hanya mereka dan tuhanlah yang tahu. Apakah perasaan Mentari masih sakit? Ya, jawabannya iya. Tentu saja ia merasa sakit mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Namun, ia kembali menegaskan hatinya jika ini adalah pilihan suaminya dan ia juga akan memilih pilihan sendiri untuk hidupnya. Mentari kembali melanjutkan motornya kembali ke kediamannya sambil sesekali mengusap air mata. "Mentari, kamu harus kuat. Ingat Vio dan Dara, mereka lebih penting daripada suamimu, biarkan dia melakukan apa yang diinginkannya. Kamu sekarang punya pekerjaan, kamu harus fokus." Sebelum sampai ke rumah, Mentari pun mulai membeli beberapa keperluannya mulai dari baju, alat make up dan juga beberapa mainan. Tanpa Mentari sadari sejak masuk ke dalam toko itu seseorang telah mengawasinya, bahkan orang itu beberapa kali mengambil foto Mentari. Nantinya Mentari akan sering menitipkan anaknya itu pada Romlah, tetangganya. Tentu saja ia harus membeli mainan agar kedua anaknya itu tak rewel, selama ini anaknya hanya diberikan mainan sederhana. Khusus kali ini Mentari sengaja membelikan mainan yang bagus, juga sepeda untuk Dara dan juga mobil-mobilan untuk Vio. Nantinya semua itu akan dititipkan di rumah Romlah agar suaminya tak melihatnya. Tentu saja, Mentari akan membayar Romlah untuk hal itu. Sambil berbelanja keperluannya, Mentari mulai memikirkan beberapa cara agar Ia tetap bisa bekerja tanpa diketahui oleh suaminya. Walaupun ia akan mendapatkan perawatan di salon, tetap saja Mentari juga membeli beberapa perawatan yang bisa dipakai nya di rumah. Ia bertekad akan kembali merawat diri, sudah cukup ia hanya terus saja merawat suaminya selama ini. Mentari yang dulunya dipuja oleh banyak pria, dilamar oleh banyak pria menetapkan pilihan pada Rian, pria yang dianggapnya pria yang sangat menyayanginya dari pria-pria lainnya. Namun, ternyata ia salah, ia salah memilih seorang pria. Dia hanyalah pria yang menikahinya untuk melahirkan keturunannya dan memuaskan nafsunya. “Mentari!” Mentari menoleh saat mendengar namanya dipanggil seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN