Jam 2 siang Rian baru pulang dengan membawa kantong plastik di tangannya.
"Ayah pulang," sambut Dira langsung merentangkan tangan ingin digendong oleh ayahnya.
Rian langsung gendong Dira dan membawanya masuk, mereka langsung menuju ke meja makan meletakkan kantong yang ia bawa dan menghampiri Mentari.
"Ini uang dari ibu, aku pinjam uang ibu untuk beli keperluan dapur. Sana masak untuk makan malam, itu uang untuk satu minggu kedepan. Kamu yang hemat, jangan boros-boros," ucapnya sambil memberikan uang Rp 200.000 pada Mentari.
"Iya, Mas," jawab Mentari hanya mengiyakan saja dan menerima uang tersebut, ia pun langsung berdiri menuju ke dapur dan melihat apa yang tadi di bawa suami pelitnya itu, ternyata hanya buah pisang.
“Lumayanlah untuk digoreng besok,” gumam Mentari, ia berpikir jika itu adalah sesuatu yang lebih dari buah pisang.
Mentari menuju ke warung dan membeli beras, tahu, tempe, sayur kangkung, minyak, ikan asin, mie instan dan telur. Mentari sengaja membeli beras untuk satu minggu kedepan saja, mie instan dan telur juga untuk satu minggu kedepan. Mentari juga membeli beberapa bumbu dapur yang sudah habis.
Dalam sekejap Mentari membelanjakan uangnya sebesar Rp 150.000, kini hanya tersisa 50.000 saja. Ia hanya mengangkat bahu saat menatap belanjaannya yang tak seberapa, dan menenteng pulang ke rumah.
Sebagian belanjaan tadi dimasukkan ke dalam kulkas, sebagian ditata di tempat bumbunya dan sebagainya lagi mulai diolahnya.
Mentari yang sibuk membuat menu makan malam melirik ke arah sang suaminya yang terlihat memakan sesuatu, entah apa yang dimakannya bersama dengan kedua anaknya. Sepertinya terlihat enak, ia berpikir jika tadi suaminya hanya membawa pulang pisang ternyata suaminya membeli bolu coklat.
“Makan saja Mas, tak usah memberikan padaku. Aku juga bisa beli nanti,” gumam Mentari merasa kesal, jelas-jelas suaminya itu menyembunyikan kue itu dan sengaja memakannya saat ia sudah keluar rumah. Sebegitu pelitnya suaminya itu pada dirinya.
Suaminya itu tahu jika di rumah tak ada makanan, tadi ia pergi ke rumah ibunya pasti karena ingin makan. Apakah suaminya itu tak berpikir, apa yang mereka makan pagi tadi.
"Makan saja Mas, makan sampai sepuasmu, tak usah memperdulikanku," gumam Mentari sambil terus menyiapkan masakannya, tanpa terasa air matanya menetes, Ia merasakan sakit akan semua itu. Ingan rasanya Mentari segera pergi dari sana, tetapi ia sadar ia tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ia tak punya keluarga dan juga ia tak punya uang tabungan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur, Mentari pun menghampiri mereka dan melihat jika kotak kue bolu itu sudah kosong, tak tersisa seiris pun untuknya. Ia hanya menghela nafas untuk mengurangi rasa sesak di dadanya, pria yang sudah bersamanya selama 6 tahun itu sama sekali tak menganggapnya penting dalam hidupnya, dan bodohnya Mentari baru menyadari semua itu.
"Besok aku akan keluar kota selama 3 hari, kemasi barang-barangku untuk 3 hari."
"Mas mau ke kota mana dan untuk apa?"
"Kamu itu nggak usah tau urusan suami, yang jelas aku memberimu uang setiap bulannya, menurut saja! Oh ya, aku berencana akan menabung setiap bulannya. Jadi, uang bulananmu akan aku kurangi dan aku akan masukkan ke tabungan. Aku tak mau jika sampai aku kembali kelaparan karena kamu tak memberiku makan, aku malu sama ibu jika harus numpang makan dan harus pinjam uang ibu."
Mentari lagi-lagi hanya menghela nafas panjang sebagai jawaban, uang bulanannya selama ini saja masih kurang. Jika dipotong, berapa yang akan diberikan suaminya itu padanya. Bagaimana caranya ia mengatur keuangan yang tak seberapa itu, sedangkan mereka sudah memiliki dua orang anak.
Mentari tak masalah makan seadanya, tetapi bagaimana dengan Vio dan Dira. Ia juga kasihan kepada anaknya jika tak diberi makanan yang bergizi.
Mentari hanya mengusap dadanya saat mendapatkan perlakuan itu, walau bagaimanapun dia pria yang telah dipilihnya untuk menjadi suaminya, menyesal pun sudah terlambat. Sekarang mereka sudah mendapatkan dua buah hati. Mentari tak mau semakin menyesal dengan terus menjadi wanita bodoh yang bertahan di sisi Rian tanpa masa depan yang pasti. Semua sudah cukup!
Rian berbaring di tempat tidur sambil mengeluarkan ponsel, ia mulai mengirim pesan pada Sari, gebetan barunya.
"Kamu sudah sampai?" tanyanya dalam pesan.
"Iya, aku baru saja sampai. Kamu sendiri gimana, Mas?" tanya balik Sari.
Rian tersenyum penuh arti saat mendapatkan tanggapan dari Sari, tadinya ia berpikir jika Sari adalah wanita yang cuek yang tak akan menanggapinya. Namun, ternyata ia salah, wanita itu sepertinya juga tertarik padanya.
"Iya, aku baru saja sampai, aku sedang istirahat di kamar. Aku sudah tak sabar untuk menunggu hari esok ingin bertemu denganmu lagi."
"CK … bukannya kamu sudah punya istri? Apa tak masalah jika kamu berbalas pesan denganku?"
"Nggak masalah, kan istriku nggak tahu. Bagaimana dengan suamimu? Apa dia juga tak marah?"
"Sama denganmu, suamiku juga tak akan marah selama dia tak tahu. Aku dengar katanya kamu memiliki hubungan dengan Salma, apa itu benar? Aku tak mau jika mendapatkan masalah dengan wanita itu."
"Hubungan kami hanya sebatas teman dekat saja, tak lebih. Kamu sangat cantik mana mungkin kamu membandingkan dirimu dengan Salma.”
"Kamu ini pandai sekali merayu. Aku ingin tau apakah kamu juga pandai dalam hal yang satu itu.”
“Aku akan buktikan jika aku lebih pandai dalam hal yang kamu maksud.”
“Ohya? Bagaimana, kamu jadikan menginap di sini?"
"Jadi dong, kamu serius kan suamimu tak akan pulang?"
"Iya, dia pulang hanya seminggu dalam sebulan. Sekarang dia baru seminggu yang lalu meninggalkan rumah, paling dua atau tiga minggu lagi dia pulang. Suamiku terlalu sibuk sampai aku merasa kesepian."
Senyum Rian semakin melebar, tanpa ia berusaha untuk merayu Sari wanita itulah yang menawarkan dirinya terlebih dahulu. Wanita itu bahkan menawarinya untuk menemaninya menginap di rumahnya dengan alasan takut, karena suaminya tak ada di rumah. Namun, Rian bukanlah orang sepolos itu, ia tahu jika Sari membutuhkan dirinya bukan untuk menemaninya hanya karena tak, tetapi ada hal yang lain yang dibutuhkan wanita itu, wanita bersuami namun jarang dibelai.
Sebuah ketukan membuat Rian langsung mengakhiri pesannya.
"Ada apa, sih? Ganggu aja," tanya Rian saat membuka pintu melihat Mentari berdiri di depan pintu.
"Mas, kenapa pintunya dikunci?”
“Ga ada apa-apa, aku hanya ingin istirahat dan tak mau diganggu," ucapnya yang sedikit mendorong tubuh Mentari yang menghalangi jalannya. Ia pun berjalan menuju ke meja makan duduk sambil terus memegang ponsel.
"Mas, sebaiknya ponselnya disimpan dulu."
Rian tak menjawab, ia hanya menatap Mentari dengan tatapan tajam membuat Mentari pun tak berkomentar lagi. Mereka pun makan bersama-sama di meja makan, lebih tepatnya Rian dan anak-anaknya, sedangkan Mentari menyuapi si bungsu.
Rian terus mengomel mengatakan jika masakan Mentari sangatlah tak enak, jauh berbeda dengan masakan ibunya.
Mentari masih sibuk menyuapi kedua anaknya, setelah suami dan anak-anaknya sudah kenyang barulah Mentari mengambil nasi dan mulai memakan makanan yang ada. Sayur yang hanya tinggal kuahnya, tahu, tempe yang tersisa bumbunya saja. Beruntung masih ada satu ikan asin dan satu kerupuk sebagai pelengkap makanannya, walau hanya tersisa sedikit nasi saja itu cukup untuknya makan malamnya.
Setelah membereskan dapur, Mentari mulai mengemas barang-barang suaminya, saat ini suaminya tengah bersama dengan kedua anaknya di depan TV, tiba-tiba ponsel yang sedang diisi daya berdering, terlihat sebuah notifikasi pesan masuk di sana. Mentari yang kebetulan duduk dekat dari ponsel itu pun tanpa sengaja melihat pesan itu, ia penasaran saat melihat nama Sari.
Tanpa membuka aplikasi hijau itu, Mentari bisa membaca pesan yang tertulis di sana dari notifikasinya.
"Mas, jika pulang kantor besok kita langsung ke rumahku, ya. Kamu langsung ke mobilku aja. Pastikan istrimu tak tahu jika kamu menginap di rumahku selama 3 malam ini." Mentari mencengkram baju Rian yang ada di pangkuannya, jadi suaminya itu kembali membohonginya.