Tukang Selingkuh

1483 Kata
Pagi hari Mentari bangun lebih awal, ia melihat bagaimana rumah itu dibuat berantakan oleh suaminya. Mentari dengan rasa kesalnya pun mulai membereskan rumah itu, rumah yang dulunya di rawat sepenuh hati kini hanya dibersihkan seadanya saja. "Mentari!" panggil Rian yang baru saja masuk ke kamar mereka. "Iya, Mas. Sebentar," ucap Mentari yang sedang mencuci piring, ia pun dengan cepat mencuci tangan dan mengeringkannya dengan cara menjadikan daster lusuhnya sebagai lap. Saking lamanya Mentari lupa kapan terakhir ia membeli baju baru untuknya. Mentari segera berlari menghampiri sang suami yang ada di kamar, sementara kedua anaknya masih tertidur pulas, ia sengaja tak membangunkan si sulung karena hari ini adalah hari libur. "Mana pakaianku?" tanya Rian menatap Mentari dengan tatapan tajam, ia masih marah soal semalam saat istrinya itu mengunci pintu kamar mereka dari dalam, membuat ia pun harus tidur di luar. Badannya sampai sakit karena tidur di sofa. "Loh, Mas? Ini kan hari minggu, kamu mau ke kantor?" tanya Mentari dengan kening bertaut. "Kamu itu ngapain tanya-tanya, cepat ambilkan saja bajuku. Dasar istri tak becus, aku sampai di gigit nyamuk tidur di luar. Terserah aku mau ke mana, itu bukan urusanmu. Aku tak tahan melihat wajahmu yang kucel itu," ucapnya ketus membuat Mentari yang malas berdebat pun memberikan apa yang diinginkan oleh suaminya. Setelah memberikan pakaian Rian, Mentari menyelimuti kedua anaknya dan segera bergegas keluar dari kamar itu, melanjutkan kembali mencuci piringnya. "Mentari!" teriak Rian lagi membuat lagi-lagi Mentari yang saat ini sedang mencuci pakaian pun menghampiri Rian. Piring sudah selesai kini ia beralih pada pakaian. "Ada apa lagi, Mas?" tanyanya yang melihat jika suaminya sudah berpenampilan lengkap layaknya seseorang yang akan bekerja. Namun, Mentari yakin suaminya itu tak akan ke kantor, mana ada orang ke kantor di hari minggu. "Nanya lagi kamu! Mana sarapannya, bego?" ucapnya menunjuk meja yang kosong, karena biasanya Mentari selalu menyajikan sarapan di atas meja walaupun sarapan sederhana. Istrinya itu tak sekalipun tak menyajikan makanan untuknya sebelum ia keluar rumah. "Maaf, Mas. Uangnya sudah habis, beras di rumah ini saja sudah habis, tak ada lagi yang bisa dimasak begitupun bahan makanan yang lainnya," jelas Mentari sambil menunduk. "Ini nih … ini jika kamu tak bisa mengatur keuangan, sebanyak apapun aku berikan padamu tak akan pernah cukup.” Rian menghampiri Mentari dan mencengkram dagunya. “Mas lepaskan, sakit!” Mentari mencoba menepis tangan suaminya, tetapi semakin ia menepis cengkeraman itu semakin Rian menyakitinya. “Istri boros. kamu belikan apa saja uang yang aku berikan? Ha! Sampai beras saja tak ada. Sampai sarapan aja tak ada. Kamu mau kami semua kelaparan, Ha?" Rian melemparkan tudung saji ke arah Mentari. "Kamu sudah tahu jika keuangan kita menipis, mengapa kamu tak tahu mengatur keuangan! Seharusnya kamu belajar berhemat sampai aku gajian. Inilah jika menikah dengan wanita tak ada otak, bodoh. Aku masih beberapa hari lagi gajian, kamu mau buat aku kelaparan!" bentak Rian membuat Mentari hanya diam saja, ia berusaha menahan rasa perih yang menyayat hatinya. "Dasar istri tak becus! Ga berguna. Taunya rebahan aja kamu di rumah, sana cari kerja biar kamu tau bagaimana rasanya mencari uang, capek tau," kesel Rian kemudian ia pun memutuskan untuk pergi dari rumah tanpa sarapan, ia mengambil motor dan segera melajukan motornya menuju ke kediaman ibunya. Mentari terduduk lemas, ingin rasanya ia membantah semua apa yang dikatakan oleh suaminya. Ingin rasanya ia meneriakkan jika ia tak pernah boros, suaminya saja yang tak pernah memberikan nafkah yang cukup. Apakah suaminya tak melihat pakaiannya yang lusuh yang robek di beberapa sisi, apakah suaminya itu tak pernah melihat penampilannya yang lusuh dan tak terawat lagi. Apakah semua itu masih bisa ia disebut istri yang boros. Ingin rasanya Mentari memperlihatkan telapak tangannya yang kasar dan meneriakkan di depan wajah suaminya jika selama ini ia juga bekerja untuk memenuhi membantu kebutuhan mereka. Hati Mentari merasa sakit di saat ia berusaha untuk mengusahakan agar uang yang tak seberapa yang diberikan suaminya itu cukup, tetapi tetap saja kata-kata boros yang selalu disematkan untuknya oleh suaminya itu selalu sukses membuat hatinya ini rasanya sesak. Ia tak suka mendengar kata-kata itu. Ingin rasanya ia meneriakkan jika ia juga ingin bekerja, mendapatkan gaji. Jika tidak memikirkan anak-anaknya dan juga mengurus rumah dan juga suaminya ia sudah bekerja sejak dulu. Mentari merasa perjuangannya selama ini sebagai ibu rumah tangga sia-sia, ia sama sekali tak dihargai oleh suaminya. **** Rian dengan santainya melajukan motornya menuju ke kediaman orang tuanya, sesampainya di lsana, Rian langsung menuju ke meja makan setelah memberi salam dan menyapa ayahnya. Ia membuka tudung saji dan melihat ayam kecap, sayur asem sambal dan juga nasi serta beberapa lauk tambahan seperti kerupuk dan telur balado. Rian berbinar senang menatap semua makanan itu, ia melupakan anak dan istrinya di rumah yang belum tentu mendapatkan makanan apapun. Tanpa bertanya lagi Rian langsung mengambil piring dan mulai mengambil makanan dan mengisi piringnya, membuat Mayang sang ibu hanya menggeleng. "Kamu kelaparan, Mas?" tanya Caca melihat kakaknya. "Iya," jawab Rian singkat dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya, rasanya benar-benar enak setelah semalam kelaparan. "Memangnya istrimu tak masak?" tanya Mahesa, sang ayah. Mendengar pertanyaan dari ayahnya, Rian hanya menghela napas, ia mengambil minum dan menenggaknya, membiarkan sisa-sisa makanan yang ada di dalam mulutnya masuk melalui kerongkongan. "Katanya beras dan bahan makanan di rumah habis, makanya pagi ini istriku tak masak," jawabnya membuat Mayang yang sejak tadi masih sibuk menyiapkan menu tambahan pun ikut duduk di meja makan panjang yang sudah menyediakan beberapa lauk lengkap. "Kamu nggak memberikan istrimu uang?" tanyanya. "Ya kasih lah, Bu. Mana mungkin aku tak memberikannya uang, bahkan aku hanya menyisakan sedikit gajiku sebagai pegangan. Jangankan untuk makan, beli bensin untuk ke kantor besok saja aku tak punya, Bu." "Kamu itu jangan mau di bego-begoin sama istrimu, berikan sebagian saja uangmu, sebagian simpan untuk kebutuhanmu sendiri. Semalam saja Ibu lihat dia makan enak.” “Masa sih, Bu? Mentari katanya dia sudah tak punya uang belanja, mana bisa dia beli makanan enak.” “Ya mana Ibu tahu istrimu itu dapat dari mana, nyatanya semalam dia makan ayam tuh.” “Sialan banget! Aku kelaparan semalam dan dia ternyata makan makanan enak. Lalu, bagaimana sekarang, Bu? Aku tak punya uang, aku masih beberapa hari lagi gajian. Apa boleh aku pinjam uang, Yah, Bu? Satu juta saja, aku janji setelah gajian akan aku bayar." Mahesa memberi kode pada istrinya, membuat Mayang pun mengerti dan langsung masuk ke dalam kamar. Sesaat kemudian Mayang keluar sambil membawa uang sebanyak 1 juta rupiah. "Ini berikan pada istrimu 200.000 dan untukmu 800.000, jangan sampai anak-anakmu juga kelaparan. Ibu tak mau sampai cucu-cucu ibu nanti sakit," ucap Mayang membuat Rian pun mengangguk dan segera mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam saku, ia segera berpamitan. "Loh, kamu mau ke mana. Kamu datang beneran hanya untuk makan?" tanya Mahesa saat anaknya itu berpamitan, di mana jarak dari rumah mereka sekitar 1 jam perjalanan dengan sepeda motor. "Iya, Yah! Aku mau beli makanan untuk anak-anakku, takutnya Mentari membuat mereka kelaparan, aku pergi dulu ya, Yah, Bu," ucapnya mencium punggung tangan ibu dan ayahnya, kemudian segera melajukan motornya meninggalkan kediaman kedua orang tuanya, senyumnya terus mengembang. Kini di dompetnya sudah ada uang Rp1.000.000. Saat Rian melewati sebuah restoran, ia melihat seseorang yang ia kenal. Ia pun langsung ikut berhenti dan memarkirkan motornya di sana. "Sari, ngapain kamu di sini pagi-pagi seperti ini?" sapanya pada salah satu rekan kerjanya. "Aku mau sarapan, kamu sendiri ngapain?" tanya balik Sari. "Sama, mau sarapan juga. Boleh bareng nggak?" "Iya, tentu saja. Aku juga lagi sendiri," ucap Sari kemudian mereka pun sama-sama masuk ke dalam restoran sederhana tersebut, mereka duduk dan langsung memesan menu terbaik di restoran itu, padahal saat ini Rian sedang kenyang. Namun, melihat Sari ia pun langsung memiliki ide untuk mendekati Sari, dia sudah tak ada minat lagi untuk mengejar Salma. Sari adalah karyawan di kantor tempat mereka bekerja. Posisinya lebih tinggi dibanding Rian dan juga Salma. Saat Rian sedang bersama dengan seorang wanita dengan perut yang kenyang. Mentari, menyuapi kedua anaknya dengan bubur ayam yang dibelinya, walau perutnya juga sedang lapar, ia akan menyuapi anaknya terlebih dahulu hingga keduanya kenyang barulah ia memakan sisanya. Walau Mentari memiliki uang, tetapi ia berusaha untuk menghemat uang tersebut. Di saat Mentari tengah membereskan bekas makan mereka, sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Mentari. "Mentari, bagaimana? Apa kamu menerima pekerjaan yang aku tawarkan?" tulis pesan tersebut "Iya, aku terima," balas Mentari dengan senyum di wajahnya, ia mengetik pesan balasan tersebut sambil senyum sendiri merasa bahagia. Pesan pun terkirim dan kembali mendapat balasan oke dari temannya itu. Pagi tadi setelah diminta bekerja oleh suaminya, Mentari benar-benar menghubungi temannya dan meminta untuk dicarikan pekerjaan. 'Lihat saja, Mas. Begitu aku sudah memiliki uang dan bisa menghidupi anak-anakku, aku akan meninggalkanmu dan membawa mereka. Aku bisa tahan dengan sikapmu selama ini yang semena-mena. Namun, perselingkuhan itu tak bisa aku maafkan Mas, kamu kali ini benar-benar keterlaluan,' batin Mentari yang sudah membulatkan tekad, ia akan menggugat cerai suaminya begitu ia sudah bisa menghidupi anak-anaknya, sudah memiliki penghasilan sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN