"Keadaan Papa kritis." Bagai disiram air es di tengah malam buta, tubuh Juno membeku, menggigil dengan pemikiran kosong. Haruskah secepat ini? Juno membalikkan badan, berjalan dengan langkah lebar meninggalkan kakaknya yang terduduk lesu di depan pintu ruang ICU. Hati Juno berdenyut nyeri, seolah sesuatu telah menikamnya kuat-kuat, mencabik dan menghancurkannya perlahan. Langkah tegas Juno terhenti di lobi. Kakinya tak lagi sanggup melangkah, atau mungkin hatinya yang sudah terlalu lemah? Dan entah bagaimana Juno pergi saking kosong pikirannya, kini ia sudah berdiri di depan sebuah rumah bercat cream. Memandang jendela di lantai dua yang terbuka. "Juno?" Saat sebuah panggilan ditujukan padanya, Juno menoleh dan tersenyum kecil. "Kak, boleh ketemu Hana?" tanya Juno masih setengah fokus

