surat tanpa nama di kotak buku alya
Bab 1: Surat Tanpa Nama di Kotak Buku Ayla
Di bawah sinar matahari yang menembus lewat celah-celah dedaunan, Alif duduk dengan hati-hati di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu jati, menghadap taman yang asri di pinggir desa. Taman bacaan, tempat di mana Ayla, gadis yang selalu membuat hatinya berdebar, biasanya datang setiap sore untuk menuntaskan tugas kampus atau sekadar membaca buku.
Alif menarik napas dalam-dalam, menikmati udara segar yang membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Dia sudah berniat untuk memberikan surat ini kepada Ayla, surat yang entah bagaimana ia tulis dengan tangan gemetar semalaman. Surat tanpa nama itu, yang ia rasa harus diterima Ayla. Tetapi ada satu masalah besar: surat itu penuh dengan kata-kata klise, penuh dengan hal-hal yang tak seharusnya terucap oleh seorang pria seperti dirinya. Alif tahu, ia lebih suka menyampaikan perasaan melalui musik atau puisi, bukan dengan kata-kata yang tiba-tiba jatuh dari bibirnya.
"Ah, harus kulakukan," gumamnya pada diri sendiri. Dengan tangan kanan yang agak kaku, ia memasukkan surat itu ke dalam kotak buku yang terletak di atas meja kayu panjang, tepat di depan rak buku berisi koleksi novel kuno. Kotak itu bukan milik Ayla secara pribadi, melainkan tempat di mana para pengunjung taman bacaan bisa menaruh buku-buku yang sudah mereka baca dan meninggalkan pesan di dalamnya untuk orang yang berikutnya.
Sambil berusaha tidak terdeteksi, Alif mengamati kotak itu sejenak, berharap suratnya tidak akan terlalu mencolok. "Semoga Ayla tidak langsung curiga," pikirnya. Ia tahu Ayla bukan tipe gadis yang mudah terjebak dalam gombalan instan atau kebohongan kecil. Ayla, meski terlihat sederhana, punya cara berpikir yang tajam dan hati yang hangat.
---
Beberapa jam kemudian, Alif duduk di bangku yang sama dengan kepala tertunduk, berusaha menenangkan diri. Sore itu terasa begitu lama. Tiba-tiba, langkah Ayla terdengar di belakangnya. Seperti biasa, Ayla mengenakan jilbab merah marun, celana panjang yang longgar, dan tas selempang berisi buku-buku tebal. Alif merasa seolah-olah jantungnya ingin melompat keluar dari dadanya.
"Alif?" Suara Ayla terdengar lembut, namun penuh rasa ingin tahu.
Alif menoleh, dan ada sesuatu dalam tatapan Ayla yang membuat hatinya semakin tak karuan. "Oh, Ayla! Kamu datang lebih cepat hari ini."
Ayla hanya tersenyum tipis, tanpa berkata apa-apa. Tanpa membuang waktu, ia berjalan menuju kotak buku dan mengambil sebuah novel tebal yang sudah ia baca sebelumnya. Ketika tangannya menyentuh kotak, matanya menangkap sebuah amplop putih yang tergeletak di bagian bawah. Dengan rasa penasaran, Ayla mengangkat amplop itu dan melihat tulisan di atasnya: “Untuk Ayla, dari seorang teman.”
Mata Ayla terbelalak. Ia memegang amplop itu dengan hati-hati, memandangnya seperti benda yang sangat berharga. Alif yang sedari tadi menunggu dengan napas tertahan, merasa tubuhnya kaku. "Jangan lihat, Ayla. Jangan buka surat itu," pikirnya, tapi mulutnya tetap bungkam.
"Apakah ini?" Ayla bertanya dengan nada yang lebih serius sekarang, matanya menatap Alif dengan tajam.
Alif hanya bisa mengangkat bahu, berusaha terlihat santai meski di dalam hatinya bergejolak. "Mungkin hanya surat dari orang yang mengagumimu. Tentu saja, tidak tahu siapa yang mengirimkan itu."
Ayla membalik amplop itu, memeriksa dengan cermat, tetapi tidak menemukan tanda pengirim. Dengan rasa penasaran yang semakin besar, Ayla membuka surat itu pelan-pelan. Alif melihat setiap gerakan Ayla dengan cemas, namun ia tahu tak ada yang bisa menghentikan gadis itu. Ayla membaca surat itu dengan seksama, sementara Alif duduk kaku di tempatnya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, Ayla menurunkan surat itu dan menatap Alif dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Alif," katanya dengan suara serius, "Apakah kamu yang menulis surat ini?"
Tulang punggung Alif terasa seolah-olah melengkung seketika. Dia terkejut, lalu mencoba tersenyum dengan kikuk. "Ah, tidak, bukan aku. Kamu tahu, aku... aku tidak terlalu bisa menulis surat seperti itu."
Ayla mengernyitkan dahi, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu," katanya, masih dengan ekspresi penuh tanya. Ia meletakkan surat itu kembali di dalam amplop dan memasukkannya ke dalam tas. "Mungkin nanti aku akan mencari tahu siapa pengirimnya."
Alif merasa sedikit lega, meskipun ada rasa khawatir yang tetap menghinggapinya. "Mungkin itu hanya teman lamamu yang ingin memberi kejutan," jawab Alif, mencoba mengalihkan perhatian.
"Sepertinya begitu," Ayla menjawab singkat, lalu duduk di sebelah Alif dengan senyum tipis yang terasa berbeda dari biasanya. "Tapi, kamu tidak tahu, kan, siapa yang mengirimkan ini?"
Alif menggelengkan kepala. "Tidak, aku sama sekali tidak tahu."
"Baiklah, kalau begitu," Ayla berkata sambil meletakkan buku di pangkuannya. "Apa kabar musikmu? Ada lagu baru yang bisa aku dengar?"
Alif tersenyum dengan lega. Ayla memang selalu tahu bagaimana caranya membuat suasana menjadi lebih nyaman, meski hatinya masih penuh dengan pertanyaan. "Sebenarnya ada, tapi aku rasa kamu akan lebih suka mendengarnya di tempat yang tenang," jawab Alif, mencoba sedikit menggoda.
Ayla hanya tersenyum lebar. "Tenang saja, Alif. Aku akan mendengarkan apa pun yang kamu buat."
Di sepanjang sore itu, mereka berbicara tentang banyak hal. Ayla tidak menanyakan lagi tentang surat itu, dan Alif merasa sedikit lebih lega meskipun perasaan campur aduk masih membebani hatinya. Ia merasa seperti pria yang sedang berjuang untuk mendapatkan hati wanita yang paling sulit dijangkau. Namun, di balik itu semua, ada satu hal yang Alif tahu pasti: dia tidak akan menyerah untuk membuat Ayla tahu perasaannya, meskipun mungkin butuh waktu yang lama.
Dan di dalam hatinya, dia berjanji untuk menulis lebih banyak surat, lebih banyak puisi, dan lebih banyak lagu untuk Ayla, karena cinta, baginya, bukan tentang seberapa cepat segala sesuatunya terjadi, melainkan tentang kesetiaan dan perjuangan yang pantang menyerah.
Saat senja semakin merangkak turun, Alif merasa seperti ada batu besar yang menempel di dadanya. Kelegaan yang ia rasakan setelah percakapan singkat itu perlahan berganti dengan kecemasan. Namun, itu semua hanyalah bagian dari perjalanan cinta yang dia tahu harus dia jalani dengan cara yang berbeda—seperti orang-orang dulu.
Ayla tampak sibuk membuka-buka buku di tasnya, mencari buku yang akan ia baca sambil menunggu waktu maghrib. Namun, tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian Alif dari kotak buku yang ada di meja itu. Surat itu, meskipun sudah diserahkan, masih menggelayut di benaknya. Apa yang akan terjadi jika Ayla menemukan siapa pengirim surat itu? Akankah ia marah atau justru merasa tersanjung?
Sambil berpikir, Alif terdiam, lalu menoleh ke arah Ayla yang sedang sibuk dengan buku-bukunya. "Ayla," panggilnya dengan suara pelan, mencoba memecah kesunyian yang mulai terasa aneh.
Ayla menoleh dan tersenyum. "Ada apa, Alif?"
"Mungkin... mungkin aku yang seharusnya mengirimkan surat itu," ujar Alif dengan suara pelan, tanpa benar-benar yakin apakah itu adalah langkah yang tepat.
Ayla memandangnya dengan bingung. "Kamu?" tanyanya, sedikit terkejut. "Alif, kamu tahu kan, aku tidak suka jika orang berusaha terlalu keras untuk membuatku terkesan."
Alif menunduk, merasa sedikit tersudut. "Aku hanya... aku hanya merasa, kadang kita lupa bagaimana cara menyampaikan perasaan dengan cara yang benar. Bukan hanya dengan kata-kata di layar ponsel atau status di medsos," jawabnya, mencoba menjelaskan.
Ayla tertawa pelan, dan ada sesuatu yang ringan dalam tawa itu yang membuat Alif merasa sedikit lebih baik. "Kamu memang berbeda dari yang lain, Alif," kata Ayla, "Tapi aku suka dengan caramu. Mungkin itulah yang membuatmu unik."
Alif merasa sedikit lega mendengar itu, meski di dalam hatinya masih ada kekhawatiran yang belum selesai.
---
Beberapa hari berlalu, dan meskipun surat itu tidak pernah dibicarakan lagi, rasa penasaran tetap menghantui Alif. Ia tahu, mungkin saatnya untuk mulai menunjukkan perasaan secara lebih langsung. Di malam hari, saat Alif sedang duduk di balkon rumahnya, ia merenung. Bagaimana caranya ia bisa membuktikan perasaannya kepada Ayla tanpa harus tampak seperti pria yang mengejar cinta secara terburu-buru?
"Perjuangan itu tidak instan," gumamnya pada diri sendiri. "Cinta seperti dulu-dulu, harus ada usaha dan pengorbanan."
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi, memecah lamunannya. Sebuah pesan masuk dari Ilham, sahabatnya yang selalu tahu cara menghibur.
Ilham: Gila, Alif, kamu benar-benar menulis surat? Kamu yakin itu langkah yang tepat? Kalau sampai Ayla tahu, kamu bakal jadi bahan pembicaraan se-Desa.
Alif tersenyum membaca pesan itu, tetapi tak lama kemudian ia membalasnya dengan serius.
Alif: Ilham, aku tahu aku bukan cowok kekinian yang bisa mengirim DM atau status manis. Aku cuma merasa, kalau aku tidak lakukan ini, aku akan menyesal seumur hidup.
Ilham: Hah, kamu beneran! Tapi, yaudah deh, aku dukung kamu. Tapi jangan kaget kalau tiba-tiba Ayla kirim surat balasan yang lebih panjang dari novelnya Stephen King.
Alif tertawa membaca pesan itu. Meski Ilham sering menggoda, ia tahu sahabatnya selalu mendukungnya. Begitu pesan itu terkirim, Alif merasa sedikit lebih tenang.
---
Hari berikutnya, seperti biasa, Alif dan Ayla bertemu di taman bacaan. Seperti biasa, Ayla datang dengan senyum cerahnya, meskipun sedikit terkejut melihat Alif duduk menunggunya di bangku yang sama. Ada rasa canggung di udara, tetapi juga semacam ketenangan yang membuat keduanya merasa tidak perlu terburu-buru.
Namun, ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Alif menyadari, mungkin inilah saat yang tepat. "Ayla," katanya dengan hati-hati, "Aku... aku ingin mengajakmu untuk pergi makan di warung makan tua di ujung desa. Aku dengar mereka punya makanan yang enak, dan... aku ingin berbicara lebih banyak denganmu."
Ayla menatapnya, terkejut dengan tawaran itu, tetapi senyumannya mengembang. "Kamu yang ngajak?" tanyanya, sedikit menggoda.
Alif merasa panas di wajahnya. "Ya... mungkin ini agak aneh, tapi aku ingin memperkenalkanmu dengan dunia lama. Aku rasa, kadang, kita terlalu sering lupa untuk menikmati hal-hal sederhana."
Ayla tertawa kecil, kemudian mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi. Aku tertarik untuk mencoba makanan tua yang kamu ceritakan itu."
---
Malam itu, di warung makan tua yang sederhana namun nyaman, Alif merasa seperti sedang menjalani petualangan baru. Mereka duduk berhadapan di meja kayu yang tampak sudah tua, dengan lampu temaram di atas meja. Ada rasa nostalgia yang begitu kental di udara. Ayla, dengan mata berbinar-binar, tampak menikmati suasana yang sedikit berbeda ini.
"Jadi," Ayla memulai percakapan, "Apa alasan kamu suka hal-hal lama seperti ini, Alif? Seperti musik keroncong, puisi, dan sekarang bahkan makan di tempat yang seperti ini?"
Alif berpikir sejenak, lalu menjawab, "Aku rasa, hal-hal lama itu punya arti yang lebih dalam. Kalau kita terlalu terburu-buru mengejar sesuatu yang baru, kita bisa kehilangan nilai dari perjalanan itu sendiri. Cinta, misalnya. Aku rasa, kadang kita harus berjuang lebih keras, tidak hanya mengandalkan klik dan like."
Ayla terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Aku mengerti. Tapi, aku rasa, dunia sekarang juga punya kelebihannya sendiri. Mungkin ada hal-hal cepat, tapi itu tidak berarti kita tidak bisa menemukan yang lama itu dalam cara kita."
Alif tersenyum mendengar jawabannya. "Mungkin, Ayla. Tapi aku yakin, cinta yang baik itu tidak datang begitu saja. Cinta yang datang dengan perjuangan, itu lebih berarti."
Ayla tersenyum manis, dan sepertinya, untuk pertama kalinya, Alif merasa benar-benar dekat dengan Ayla. Bukan hanya dalam obrolan ringan, tetapi dalam arti yang lebih dalam.
---
Malam itu, meskipun mereka pulang dengan hati yang penuh pertanyaan, Alif merasa langkahnya lebih mantap. Dia tahu, perjuangannya baru dimulai.