Perjalanan Dimulai
Hari-hari setelah makan malam di warung tua itu terasa berbeda. Alif merasa seperti ada yang berubah, meski perubahan itu tidak begitu jelas. Ayla tampaknya mulai membuka diri lebih banyak, berbicara lebih santai, dan bahkan sesekali tersenyum geli saat berbicara dengannya. Semua ini membuat Alif merasa sedikit lebih optimis, meskipun ia tahu perjalanannya baru saja dimulai. Cinta bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan dalam semalam—ia tahu itu lebih baik dari siapa pun.
Namun, meskipun perasaan itu mulai berkembang, Alif merasa dirinya tidak bisa berdiam diri saja. Cinta, seperti yang dia yakini, membutuhkan usaha. Dulu, orang-orang yang jatuh cinta seperti ini—dengan penuh perjuangan—bukanlah orang yang menunggu dengan pasif. Mereka bergerak, berusaha, dan bahkan jika perlu membuat hal-hal yang sedikit konyol, semua itu demi orang yang mereka cintai.
Di sisi lain, Ayla juga mulai merasakan adanya kedekatan yang tak biasa dengan Alif. Meski awalnya ia hanya melihatnya sebagai sahabat yang sedikit kaku, ia mulai merasa bahwa ada sisi lain dari Alif yang menarik—sisi yang penuh dengan perhatian dan ketulusan. Namun, ia juga bingung. Apakah dia bisa benar-benar membuka hatinya untuk pria yang selama ini hanya menjadi teman? Ayla pun memutuskan untuk memberi sedikit ruang bagi dirinya untuk berpikir.
Sementara itu, Ilham dan teman-teman Alif yang lain mulai memperhatikan perubahan ini. Mereka tahu, meskipun Alif jarang sekali berbicara tentang perasaannya, ada sesuatu yang berbeda pada dirinya akhir-akhir ini. Ilham, sebagai sahabat yang paling dekat, tak bisa menahan rasa penasaran.
"Jadi, gimana ceritanya, Alif?" tanya Ilham suatu pagi saat mereka duduk di bangku taman, memandangi langit yang cerah. "Ayla sudah mulai 'tercerahkan' belum?"
Alif tertawa kecut. "Masih jauh, Ilham. Tapi setidaknya dia tidak begitu canggung lagi saat aku ajak bicara."
Ilham mengangkat alis. "Oh, jadi kamu bilang, sekarang kalian sudah lebih dekat? Sudah cukup nyaman satu sama lain?"
"Entahlah," jawab Alif sambil menggaruk kepalanya. "Aku merasa dia mulai lebih menerima, tapi aku juga tidak tahu kalau itu hanya perasaanku saja."
Ilham tertawa. "Alif, Alif. Kadang kamu terlalu ragu. Jika kamu ingin mengubah sesuatu, jangan hanya diam dan menunggu, kawan. Kamu harus berusaha lebih keras."
"Berusaha lebih keras?" tanya Alif, sedikit bingung.
"Ya, seperti orang-orang zaman dulu. Mereka tidak pernah berhenti mengejar cinta. Jika ada hal yang mereka inginkan, mereka berjuang habis-habisan," kata Ilham sambil menepuk bahu Alif. "Bahkan kalau perlu, buat hal-hal konyol. Kalau kamu hanya menunggu, Ayla bisa saja melirik orang lain yang lebih berani."
Alif terdiam, merenung sejenak. "Kamu benar, Ilham. Tapi apa yang harus aku lakukan?"
Ilham hanya tersenyum. "Kamu harus menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, Alif. Jangan takut untuk membuat langkah besar."
Pagi itu, Alif merasa sedikit lebih yakin. Ilham memberikan perspektif yang berbeda, dan meskipun ia sedikit merasa canggung, ia tahu bahwa jika ia ingin memperjuangkan Ayla, ia harus bergerak.
---
Alif mulai merencanakan langkah-langkah kecil yang menurutnya bisa menjadi awal dari usaha besarnya. Pertama-tama, ia mulai menulis surat kedua, yang kali ini tidak sekedar ungkapan perasaan, tetapi juga sebuah permintaan untuk pergi bersama. Ia tahu Ayla menyukai kegiatan yang sederhana, seperti berjalan di sekitar desa atau membaca buku di tempat-tempat yang tenang. Dalam surat itu, ia menyarankan mereka untuk pergi ke sebuah tempat tua yang pernah ia dengar dari cerita orang tua di desanya, tempat yang katanya penuh dengan cerita dan sejarah.
"Ayla, aku ingin mengajaknya ke tempat yang berbeda," gumam Alif, membacakan kalimat yang baru saja ia tulis. "Seperti kita pergi ke tempat yang jarang orang datang, dan hanya ada kita berdua untuk menikmati keheningan itu. Apa pendapatmu?"
Setelah surat itu selesai, Alif merasakan kegugupan yang tidak biasa. Apa Ayla akan menyukainya? Atau justru merasa bahwa ia terlalu berlebihan? Ia menghela napas panjang dan melipat surat itu dengan hati-hati, kemudian menyimpannya di dalam amplop.
---
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Saat Alif menyerahkan surat itu kepada Ayla, ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ayla, dengan mata yang sedikit terkejut, menerima surat itu dengan senyum yang sulit dipahami. "Apa ini, Alif?" tanyanya dengan nada penasaran.
"Itu... itu surat dariku. Aku ingin kamu membacanya," jawab Alif, sedikit gugup. "Aku harap kamu tidak keberatan."
Ayla membuka amplop itu perlahan, membaca setiap kata dengan seksama. Matanya sesekali naik menatap Alif, yang tampak seperti orang yang terjebak dalam keraguan. Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, Ayla akhirnya menatapnya, tersenyum tipis. "Kamu benar-benar serius, ya?"
"Ya," jawab Alif dengan pasti. "Aku ingin kita pergi bersama, menikmati waktu yang tenang. Itu bukan hanya tentang aku atau kamu, tapi tentang kita yang bisa saling memahami lebih dalam."
Ayla terdiam sejenak, matanya merenung. Alif bisa merasakan ketegangan yang ada, namun ada sesuatu yang berbeda kali ini. Tidak ada penolakan langsung, hanya sebuah keheningan yang memuat banyak arti.
"Ayo," kata Ayla akhirnya, "Aku akan pergi denganmu."
Perasaan lega menyelimuti Alif. Mungkin itu bukan jawaban yang besar, tapi itu adalah langkah kecil menuju sesuatu yang lebih. "Terima kasih, Ayla."
Ayla tersenyum. "Tidak usah terima kasih. Aku hanya ingin melihat bagaimana tempat itu yang kamu ceritakan."
Hari itu, perjalanan mereka dimulai. Bukan perjalanan fisik yang jauh, tetapi perjalanan menuju pemahaman satu sama lain, di mana langkah-langkah kecil mereka akan menentukan sejauh mana cinta bisa tumbuh.
---
Malam itu, saat mereka berjalan bersama di sepanjang jalan setapak menuju tempat yang Alif ceritakan, suasana terasa begitu tenang. Tidak ada suara lain selain langkah kaki mereka yang beriringan. Alif merasa dunia seakan melambat, memberi mereka waktu untuk berbicara lebih dalam, mengerti lebih banyak, dan menikmati momen sederhana yang mungkin hanya bisa ditemukan oleh orang-orang yang sudah lama mengenal cinta yang sesungguhnya—cinta yang hadir tanpa tekanan, tanpa gangguan teknologi, hanya dua jiwa yang saling memahami.
Sementara itu, di kejauhan, Ilham mengamati mereka berdua dari balik pohon besar. "Akhirnya," katanya dengan senyum penuh kebanggaan, "Langkah pertama sudah diambil. Selamat, Alif. Kamu baru saja memulai perjalanan panjangmu."