menjalin janji dalam diam

872 Kata
Menjalin Janji dalam Diam Pagi itu, udara terasa segar, namun hati Alif terasa sedikit cemas. Ia baru saja menjalani perjalanan singkat bersama Ayla, tetapi kesan yang ditinggalkan Ayla setelah perjalanan itu membuatnya berpikir lebih jauh. Mereka berbicara lebih banyak dari biasanya, dan meskipun tak ada pernyataan cinta yang jelas, Alif merasa ada ikatan yang lebih kuat terbentuk di antara mereka. Namun, hari-hari setelahnya terasa lebih membingungkan. Ayla tidak menghubunginya sebanyak yang Alif harapkan. Alif tidak tahu apakah itu berarti Ayla tidak tertarik, atau apakah Ayla sedang memberi ruang bagi dirinya untuk berpikir lebih lanjut. Bahkan, ia tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap. "Jadi, gimana? Ada kemajuan?" Ilham bertanya dengan nada menggoda saat mereka duduk di warung kopi yang sama, tempat mereka biasa menghabiskan waktu di akhir pekan. Alif menatap cangkir kopinya, merasa agak canggung. "Aku tidak tahu, Ilham. Setelah perjalanan kemarin, rasanya seperti ada sesuatu yang berubah, tapi aku juga tidak bisa bilang apa itu." Ilham menyeringai, matanya penuh dengan rasa ingin tahu. "Mungkin dia butuh waktu, Alif. Cinta itu bukan seperti film-film yang langsung berbuah manis begitu saja. Kamu harus lebih sabar. Lakukan hal-hal yang kecil, yang tak terduga. Seperti yang kita bicarakan—cinta itu perjuangan." Alif mengangguk, tapi hatinya tetap tidak tenang. Ia tahu bahwa dirinya sudah melakukan usaha yang lebih dari cukup, namun tetap saja, ketidakpastian ini mengganggu. --- Hari berlalu, dan Alif merasa kebingungannya semakin dalam. Ia mulai berusaha untuk tidak terlalu memikirkan Ayla, namun setiap kali ia melihat Ayla di kampus atau di tempat-tempat yang mereka sering kunjungi bersama, hatinya tetap berdebar. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi ia tidak tahu bagaimana memulai. Suatu hari, saat mereka bertemu di sebuah kedai kopi kecil di tengah kota, Ayla duduk di depan Alif dengan senyum tipis yang tidak bisa ia baca. Alif menatapnya sejenak, merasakan ketegangan yang sama seperti beberapa hari lalu. Ayla memulai pembicaraan lebih dulu. "Alif," katanya pelan, "aku pikir ada yang perlu kita bicarakan." Alif menunduk, matanya tertuju pada cangkir kopi di tangannya. "Tentang apa?" tanyanya, suara yang agak lebih berat dari biasanya. "Aku tahu kamu ingin lebih dari sekadar teman, Alif. Tapi aku juga tidak ingin membuat keputusan terburu-buru. Aku pikir kita bisa saling mengenal lebih dalam, tanpa harus terburu-buru," jawab Ayla dengan nada yang lembut namun tegas. Alif terdiam sejenak, mendengarkan kata-kata itu dengan penuh perhatian. Ia tahu ini adalah momen penting, kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dengan jelas. Namun, ia juga tahu bahwa terlalu terburu-buru tidak akan membuat semuanya berjalan dengan baik. "Aku mengerti," jawabnya akhirnya, suara lembut namun penuh ketulusan. "Aku juga tidak ingin memaksakan apa-apa, Ayla. Aku hanya ingin kita lebih dekat, mengenal satu sama lain tanpa ada tekanan." Ayla mengangguk, lalu tersenyum. "Terima kasih, Alif. Aku suka kalau kamu bisa mengerti perasaanku." Alif merasa sedikit lega, meski hatinya masih diliputi ketidakpastian. Apa yang Ayla katakan itu adalah tanda positif, tetapi juga berarti bahwa perjuangan mereka belum selesai. Cinta itu butuh waktu, dan dia harus lebih sabar. --- Beberapa minggu setelah percakapan itu, Alif mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Meski Ayla belum memberikan jawaban pasti tentang perasaan mereka, ada interaksi yang lebih intens di antara mereka. Mereka mulai berbicara lebih banyak, dan terkadang, percakapan itu terasa seperti pertemuan antara dua jiwa yang saling mencoba mengenal lebih dalam. Terkadang mereka tertawa bersama, kadang juga berbicara tentang hal-hal serius, tentang impian dan harapan mereka masing-masing. Ilham, yang selalu memperhatikan perkembangan Alif, tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. "Gimana, Alif? Aku lihat kamu dan Ayla sudah mulai akrab banget sekarang. Apa yang terjadi?" Alif tersenyum, meskipun sedikit canggung. "Kami masih saling mengenal, Ilham. Tidak ada yang benar-benar berubah, tapi ada perasaan yang tumbuh. Aku tahu dia juga merasa hal yang sama, tapi kami berdua butuh waktu untuk memastikan." Ilham mengangkat alis, tidak terlalu terkesan dengan jawaban Alif. "Itu artinya kamu harus lebih berani, kawan. Jangan terlalu banyak menunggu. Kadang, kamu harus mengambil langkah besar kalau ingin mencapai sesuatu." --- Pada suatu sore yang cerah, Alif memutuskan untuk mengambil langkah kecil lainnya. Setelah kelas berakhir, ia menemui Ayla di taman kampus. Mereka duduk di bangku panjang yang menghadap ke danau kecil. Di sekeliling mereka, banyak pasangan lain yang juga sedang menikmati sore yang indah, tetapi Alif dan Ayla hanya duduk berdua, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan yang tak terucapkan. "Alif," Ayla memulai, suaranya lembut namun penuh dengan arti, "aku tahu kita berdua tidak bisa terburu-buru, tapi aku merasa ada sesuatu yang lebih antara kita." Alif menatapnya dengan penuh perhatian, hatinya berdebar. "Aku juga merasa begitu, Ayla. Aku tidak ingin memaksakanmu, tetapi aku ingin kita mulai berjalan bersama. Tidak ada yang sempurna, tapi aku yakin kita bisa saling memahami." Ayla tersenyum, matanya berbinar. "Aku juga merasa begitu, Alif. Aku ingin memberimu kesempatan untuk menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, dan aku ingin melihat apakah kita bisa berjalan bersama." Alif merasa lega, namun ia juga tahu bahwa ini baru permulaan dari perjalanan panjang mereka berdua. Mereka harus melewati banyak hal, menghadapi tantangan, dan belajar dari setiap langkah yang mereka ambil. Namun, yang terpenting, mereka berdua sepakat untuk menjalani perjalanan ini bersama. Saat matahari mulai terbenam, mereka berdua duduk diam, menikmati keheningan bersama, sambil menyadari bahwa langkah-langkah kecil mereka akan membawa mereka ke tempat yang lebih indah, jauh dari sekadar kata-kata, tetapi menuju cinta yang tulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN