Satu per satu petinggi dan staf ahli memasuki ruang rapat yang dingin itu. Kayla duduk dengan sangat hati-hati; perutnya yang kini kian membesar mulai terasa menyesakkan, membuatnya harus berkali-kali mengatur posisi duduk agar tetap nyaman. "Oke, kita mulai saja," ucap Arhan. Suaranya berubah drastis—dingin, berwibawa, dan tanpa kompromi, persis seperti yang diceritakan Desi tadi. "Pak, ini adalah beberapa draf desain yang sudah tim kami buat," ucap salah satu karyawan sambil menyerahkan berkas. Kayla meraih berkas tersebut, lalu membandingkannya dengan hasil karyanya semalam. Ia hanya tersenyum tipis, merasa desainnya memang memiliki sentuhan yang berbeda. Arhan kemudian menyodorkan kedua versi tersebut kepada Pak Wisnu dan Arya. "Bagusan mana menurut kalian?" tanya Arhan. Wisnu dan

