Sebuah Kenyataan

789 Kata

Butuh waktu lama untuk Kayla akhirnya mengaku. Setelah tangisnya reda, ia hanya duduk diam, menatap kosong ke arah dinding kamar. Robi berada di sisinya, setia seperti dulu—sebagai sahabat yang selalu tahu kapan harus bicara, dan kapan hanya diam menemani. “Mau makan?” tanya Robi pelan. Kayla hanya menggeleng, matanya masih kosong. Robi bangkit tanpa banyak bicara, keluar dari vila, lalu membuka bagasi mobilnya. Ia mengambil makanan yang sempat dibelinya sebelum sampai di tempat itu. Saat kembali, ia duduk di depan Kayla, menyodorkan sendok dengan sabar. “Makan, ya,” ucapnya lembut. “Aku nggak lapar,” balas Kayla lirih, masih menatap kosong ke arah ruangan. “Makan, kamu kurus banget,” bujuk Robi. “Nggak nafsu, Bi.” “Dikit aja, ya. Demi aku.” Kayla diam sejenak, lalu akhirnya membu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN