Malam itu, Robi tiba di Bandung. Udara dingin menusuk tulangnya, tapi yang membuat dadanya sesak bukan hawa malam, melainkan rasa khawatir. Sudah seminggu penuh Kayla tak mengabari apa pun. Tak ada pesan, tak ada telepon—hanya hening yang menyesakkan. Begitu sampai di rumah Kayla, ia langsung turun dari mobil. Tepat saat itu, Arka baru saja tiba, pulang dari Ciwidey setelah mengantar Kayla ke villa. “Kayla mana?” tanya Robi cemas. Arka menatapnya datar. “Lo putus sama kakak gue?” “Nggak, Kak. Gue harus jelasin sesuatu,” ucap Robi cepat. “Kenapa?” Arka menaikkan alis, nada suaranya penuh curiga. “Gue nggak ngapa-ngapain. Tapi kenapa Kayla nggak mau balas chat gue?” tanya Robi, suaranya mulai putus asa. Arka menghela napas panjang. “Dia sibuk dua minggu ini. Pulang malam, langsung tid

