Keesokan harinya, Kayla mengasuh Zayden seperti biasa. Ia mengajarkan anak itu melukis, membaca, dan menulis dengan sabar. Arhan pergi ke kantor pagi hari. Dengan hati dipenuhi keraguan yang mencekam, ia menyerahkan sampel rambutnya dan rambut Zayden untuk tes DNA. Keputusan ini terasa berat, namun harus ia ambil. Siang itu, Arhan mengirim pesan. Arhan: Kayla, sudah makan? Kayla: Sudah, Mas. Aku lagi nyuapi Zay. Arhan: Kamu enggak mual, sayang? Kayla: Tadi sih mual-mual, sekarang enggak. "Minggu ini aku ke Paris. Kamu mau ikut?" tanya Arhan, mengganti topik obrolan. "Apa enggak apa-apa, Mas? Aku lagi hamil," balas Kayla, ragu. "Kita cek dokter dulu, ya, mastiin," kata Arhan. "Baik, Mas," jawab Kayla. Kayla menaruh ponselnya. "Ma, aku kangen Evan," ucap Zayden, wajahnya muram. K

