Kenyataan Pahit

1214 Kata

“Assalamualaikum,” ucap Bu Farida pelan di depan pintu rumah Kayla. Suara lembutnya terdengar ragu, seperti ada beban berat di balik setiap katanya. Pintu terbuka. Bu Ami muncul dengan wajah ramah, mengenakan daster bunga-bunga. “Waalaikumsalam,” jawabnya sopan. “Cari siapa ya, Bu?” Bu Farida menatap rumah sederhana itu, menelan ludah pelan. “Apa benar ini rumah Kayla?” tanyanya hati-hati. “Iya, betul,” jawab Bu Ami. “Kaylanya ada?” tanya Bu Farida lagi, suaranya mulai bergetar. “Kayla lagi liburan,” ucap Bu Ami, masih belum curiga. “Ada apa ya? Masuk dulu, Bu… Pak.” Farida dan suaminya, Wisnu, pun masuk. Ruangan itu hangat tapi sederhana—ada foto ayah Kayla berseragam polisi terpajang di dinding, wajahnya tegas dan berwibawa. Farida menatapnya lama, seolah rasa bersalah makin men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN