Bab 14. Upaya Membujuk Chiara

1034 Kata
"IH NGGAK MAU PULANG KALAU ADA HAILEY!" teriak Chiara memberontak dari cekalan Ahmad. "Ry, aku nggak mau pulang." Aduannya dengan sangat manja. Tangannya melambai-lambai meminta pertolongan yang dibalas diamnya laki-laki itu. Henry tidak menyangka kaburnya Chiara mudah diketahui oleh orang-orang ayahnya, itu berarti Chiara bukanlah orang sembarangan. "Nona, tolonglah jangan banyak meracau. Anda sedang tidak sadar jangan sampai setelah ini Anda menyesali, Nona." "JANGAN ATUR AKU HEH!" balas Chiara berteriak, padahal Ahmad sengaja berbisik supaya tidak didengar oleh Henry. "Nggak mau pulang ih." Chiara merengek. "Biar saya yang antarkan pulang kalau memang Chiara tidak mau. Saya pastikan Chiara sampai ke rumahnya dengan selamat." Henry nimbrung karena tidak tega juga melihat Chiara yang meraung, memukul, memberontak ingin menjangkaunya. "Bekerjasamalah dengan kami, hapus rekamanmu!" Bukan suara Ahmad, melainkan kembarannya yang baru saja masuk bersama tiga orang berpakaian serba hitam. "Geledah!" Henry tak bisa melawan, bartender juga sudah disekap supaya tidak macam-macam. Begitu ponsel Henry ditemukan langsung menghapus rekaman beberapa menit yang lalu. Rekaman yang susah payah diambil oleh laki-laki itu. "Kamu masih muda, jangan terlalu ikut campur," ujar laki-laki berpakaian hitam yang mengambil paksa ponselnya. Henry bergeming memperhatikan Chiara yang dipaksa disertai dengan teriakan dan makian. Dia jatuh terduduk di atas sofa. Tidak lama kemudian bartender yang merupakan kenalannya mendekat. "Gila banget cewek lo keturunan darah biru apa gimana sampai punya pengawal pribadi. Lo kenapa berani banget?" “Gue berani ambil resiko untuk menggali informasi cewek gue sendiri. Awalnya gue nggak peduli. Sekarang gue ingin tahu karena ini berkaitan dengan teman kecil gue.” “Lain kali gue nggak ikutan, deh, Ry. Mau dibayar berapapun gue milih mundur kalau lawannya orang gede.” Henry bersedih saat ditinggalkan seorang diri di ruangan ini. Dia memaki lirih karena usahanya sia-sia. Rekaman itu nantinya sangat berperan penting untuk pengakuan Chiara. Sejatinya Henry cukup mendengar dari bibir Chiara, itu saja sudah cukup selebihnya untuk berjaga-jaga kalau mengelak. “Kalau kayak gini ceritanya harus sering-sering ajak Chiara ke club biar mabuk, tapi gue rasa setelah ini penjagaannya makin ketat.” *** “Mau membuat pengakuan dosa, Chiara? Ibumu baru saja ditemukan dan sedang sakit kamu malah membuat ulah membuat kepala Papa pusing. Kenapa kamu jadi susah sekali diatur, sih? Kamu mau Papa ikut campur masalah percintaanmu dengan laki-laki itu?” Chiara sudah bangun, tapi memilih diam dan membungkus seluruh badannya dengan selimut. Dia tidak ingat apa yang dilakukannya semalam juga tidak ada yang mau mengingatkan. Pagi terbangun tanpa ada pelayan satu pun di kamarnya. Chiara cukup kesusahan karena muntah hebat pasca mabuk-mabukan semalam dan tidak ada yang membantu pagi tersisihnya. Justru malaikat pencabut nyawa yang datang ngomel-ngomel. Chiara yakin semua ini atas perintah sang ayah sampai tidak ada pelayan yang seharusnya ada. “Kali ini apa lagi hukuman buat aku, Pa? To the point saja. Kepalaku nyaris pecah.” “Urus kebutuhanmu sendiri. Jangan berani-beraninya meminta tolong pada orang lain. Semua pelayan di rumah ini sudah Papa alihkan supaya tidak melayani kamu. Papa sudah sabar menghadapi kamu yang susah diatur.” “Ubah sikapmu. Sikap jelek kamu yang akan merugikan kamu sendiri, Chiara. Bersiap-siaplah karena nanti Ahmad akan mengantar kamu sama oma ke rumah sakit.” Setelah memberikan mandat yang tidak dijalankan oleh Chiara laki-laki itu pergi dari kamar anaknya yang serba biru. Tujuannya pulang memang untuk memberikan pelajaran kepada sang putri semata wayang. Jika Chiara tidak mempan dengan tercabutnya fasilitas make dengan cara inilah yang dilakukan Asher. “Kamu keterlaluan sampai segitunya ke anak, Asher. Mami kurang setuju dengan cara kamu menghukum Chia,” tegur Magdalena saat Asher duduk di meja makan. “Mami jangan terus membela anak itu. Chia manja karena adanya dukungan dari Mami. Setelah berbuat salah bukannya introspeksi diri justru mencari pembenaran ke Mami, sekarang Mami bisa lihat sendiri bagaimana nakalnya anak itu.” “Mami terus yang disalahin. Mami lakukan ini sebagai bentuk upaya supaya anakmu tidak kurang kasih sayang, Asher. Chia tidak mendapatkan kasih sayang ibunya yang sinting itu. Mana mungkin Mami lepas tangan kalau kamu menghukum dia.” “Dia ibu dari anakku, Mi. Tidak pantas Mami ngomong begitu,” ujar Asher dengan nada suara terdengar dingin. Niat hati mau ngopi malah berujung tidak mood karena pagi-pagi sudah ada sesi debat. “Mami harap dengan adanya Hailey kamu bisa melupakan Elusia, Asher. Mami sangat mengusahakan supaya kalian menjalankan pernikahan normal.” Gumaman Magdalena saat putranya pergi dari meja makan. Dia seorang diri lagi, Suaminya belum pulang membuat Magdalena menahan diri tidak membocorkan permasalahan di dalam rumah. “Isma, panggil Chia untuk sarapan.” “Maaf, Nyonya. Bapak meminta saya tidak melayani nona Chiara. Mohon maaf dengan sangat,” jawabnya dengan kepala tertunduk dalam. “Anak itu benar-benar konsisten dengan keputusannya. Asher pikir membiarkan anaknya kesusahan akan memberikan efek jera?! Chiara akan semakin memberontak dan membenci papanya.” “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jangan sampai Chiara memilih hidup dengan ibunya yang sinting,” lanjutnya di dalam hati. “Biar saya yang ke kamarnya. Kalian tidak perlu ikut!” “Baik, Nyonya,” balas Isma mewakili semua pelayan yang ada di ruang makan. "Suamiku kapan kamu pulang. Aku tidak sanggup menghadapi anak dan cucu yang sama-sama keras kepala," gerutu Magdalena sepanjang perjalanan menuju ke kamar sang cucu yang tertutup rapat. Di depan kamar sosok Ahmad berdiri dengan tegap. "Selamat pagi, Nyonya. Mohon maaf nona Chiara mengatakan tidak bisa diganggu." Magdalena berdecih dengan mata tajamnya bak laser. "Kamu berani melarang saya, Ahmad?" tanya perempuan paruh baya itu mengintimidasi. "Maaf, Nyonya." Dengan kepala tertunduk dalam dan ribuan permohonan maaf kepada pak bos karena mengingkari janji. Ahmad patuh kepada Asher, tetapi dia lebih patuh lagi kepada nyonya dan tuan besar. "Silakan masuk, Nyonya." "Jangan mengulang kesalahan yang sama, Ahmad. Kali saya maafkan kamu." "Saya ucapkan terima kasih, Nyonya." Magdalena tidak peduli. Dia masuk ke kamar sang cucu dengan langkah tegap dan tenangnya. "Chiara." "Jangan membujukku, Oma." "Begitu, ya? Setelah sekian banyaknya kamu membujuk Oma sekarang kamu menolak Oma. Masalahmu dengan papa bukan dengan Oma, Sayang. Ayo kita sarapan, jangan siksa dirimu karena itu tidak akan mempersingkat hukuman dari papa." "Kenapa papa kejam banget sama Chia? Papa sudah nggak sayang lagi karena mau punya anak dari Hailey, ' kan? Benar, Oma?" Sudah Magdalena duga, jika Chiara sampai terintimidasi karena tindakan Asher maka anaknya itu akan Magdalena hajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN