Bab 13. Mulai Mengorek Informasi

1144 Kata
"Jelaskan kamu ke mana setelah kabur dari kampus!" "Penting banget, ya?" Hailey bertanya kesal. Dia masih sangat ingat perdebatan singkat di ruangan dosen yang membuatnya memilih minggat dadakan. "Kalau kamu tidak penting mana mungkin semua orang-orang rumah pusing karena perginya kamu tanpa jejak, Hailey. Kamu masih bertanya seperti itu? Mikir nggak, sih?" "Saya mikir, Mas. Mereka nyariin saya karena saya aset paling berharga satu tahun ke depan. Sama seperti yang saya bilang sebelum ini saya sama sekali tidak berniat merebut, menduduki, atau mengambil alih. Entah bahasa mana yang benar saya tidak berminat sama sekali. Saya hanya menjalankan tugas sebagaimana semestinya. Untuk itu lebih baik profesional kerjasama." "Sadar apa yang kamu katakan, Hailey? Ucapan kamu yang memancing perdebatan di antara kita." "Saya sangat sadar." Asher menatap begitu dalam sosok istrinya yang membuang muka. Dia memilih mengalah karena tidak mungkin berdebat disaat kondisi perempuan itu sedang lemah. Asher lelah, dia pikir menikahi perempuan muda akan mudah diatur, tapi ternyata Hailey sangat gesit. "Mari kita jalankan pernikahan semestinya selama satu tahun. Jangan pikirkan transaksional selagi kita—" "Dari awal permulaan ini sudah salah," kata Hailey membawa tatapannya beradu dengan sang suami. "Mau diperbaiki tetap saja bayang-bayang transaksional itu terus menghantui saya, Mas. Saya ingin bebas, hanya itu yang saya inginkan. Satu-satunya cara supaya saya bebas hanyalah dengan melahirkan seorang bayi laki-laki. Bagaimana jika bayi yang saya lahirkan perempuan. Sampai kapan pernikahan ini berjalan? Di dalam surat kontrak kita tidak adanya batas waktu. Kalian semua ingin memanfaatkan saya?" "Hailey ...." "Tolong pertegas. Jangan bermain dengan perasaan, Mas. Perlakukan saya seperti istri di atas kertas pada umumnya. Jangan membuat saya berharap lebih." Perkataan telak sang istri sukses membuat Asher terdiam. Laki-laki itu diam memperhatikan punggung perempuannya yang membelakanginya. Asher memperhatikan bahunya yang naik turun, walaupun tak bersuara dia yakin Hailey sedang menangis. "Jika kamu tersiksa itu salah saya, Hailey." Setelah berkata demikian Asher naik ke atas ranjang. Ruangan yang dipesan oleh laki-laki itu bahkan terlihat seperti sebuah kamar hotel mewah, bukan rumah sakit, bedanya adanya peralatan medis yang mengindikasikan mereka ada di rumah sakit. "Saya minta maaf. Saya menyakiti kamu, ya?" bisik Asher di belakang Hailey, lengannya melingkar di pinggang sang istri yang berbaring miring. Asher memeluknya dengan sangat erat. Diperlakukan seperti inilah yang membuat ketakutan Hailey semakin menjadi-jadi. Dia hampir tidak pernah diperlakukan baik, bahkan oleh keluarganya sendiri. Dengan Henry pun entah dulu atau sekarang perempuan itu selalu memberi batasan supaya dirinya tidak bergantung sepenuhnya. Terbukti kini Henry meninggalkannya. Pun ... bagaimana menghadapi sikap Asher yang seperti ini? Hailey tidak mau kembali ditinggalkan setelah adanya pengharapan besar. *** "Kamu kenapa, sih, Ry? Mukamu nggak enak banget dari tadi, kamu lagi ada masalah sampai ngajakin aku ke club. Tumbenan banget, biasanya kamu yang melarang aku ke tempat terkutuk." Chiara terus berceloteh begitu masuk ke dalam club. Hingar-bingar suara yang memekakan telinga membuat Henry tidak suka. Katakanlah sejak bersama Chiara dia mengenal dunia malam, sebelumnya saat berteman dekat dengan Hailey tempat main mereka di danau, taman bermain, atau lapangan. Main elit bukan ke club yang menurut Henry kurang pantas. "Aku bukan munafik, Chia. Cuma kurang suka saja soalnya orang-orang yang ke sini pasti berujung mabuk. Seseorang terdekatku meninggal setelah mabuk-mabukan karena kecelakaan." "Siapa?" tanya Chiara tertarik dengan pembahasan mengenai orang-orang di sekitar Henry. Mereka sudah berpacaran lama, tapi bagi Chiara kekasihnya kurang terbuka maka, begitu Henry membuka sendiri dia merasa tak ingin membuang kesempatan untuk lebih dekat dengan laki-laki itu. "Kamu lagi pusing, ya? Aku siap dengarkan semua keluh kesah kamu, Ry. Sama seperti yang kamu lakukan ke aku. Selalu mendengar ocehanku." "Makasih, ya." "Kenapa harus bilang makasih segala, sih?" Henry tersenyum mengacak rambut sang kekasih dengan lembut. "Karena kamu aku jadi penasaran soal Hailey," batin laki-laki itu menyeret lengan Chiara masuk ke private room. Henry sengaja menyewa. Bukan sifatnya yang membuang uang dengan cuma-cuma. Semua ini dia lakukan untuk menggali rasa penasarannya. “Kamu ke sini kabur dari Ahmad, yakin nggak akan dibuntuti, ‘kan? Aku nggak mau kalau setelah dari sini kamunya kena marah sama papa, Chi.” “Aman, kok. Ahmad tergolong bisa diajak kerjasama kalau aku mau ke club, ya walaupun setelah itu bakalan laporan ke papa. Palingan cuma dapat teguran saja.” Henry gelisah. “Eh santai aja, Ry. Kamu nggak perlu khawatir, papaku nggak pernah ikut campur, kok, walaupun papa tegas banget. Aku masih punya oma yang selalu membela.” “Kamu minum, Ry?” “Minum. Di rumah kita punya mini bar, cuma rasanya nggak nyaman kalau minum sendirian jadi aku ajakin kamu ke sini. Sesekali aku nemenin kamu ke club biar kalau teler aku bantu gendong.” “Sweet banget, sih, pacarnya Chia.” Henry mengulum senyum. Tangannya mengambil dua gelas yang sudah disajikan oleh bartender pilihannya. Semua sudah diatur oleh Henry termasuk perekaman. Mereka banyak minum, entah sudah berapa kali sampai tiba masanya Chiara kehilangan setengah kesadarannya. Celotehannya sudah mulai ngawur berbanding terbalik dengan Henry yang masih segar bugar karena toleransi alkoholnya tinggi. Mau minum sampai pagi palingan cuma pusing dan tidur panjang. “Engh kepalaku pusing banget, Ry,” kata Chiara untuk kesekian kalinya. Perempuan itu ndusel-ndusel ke ketiak Henry disaat laki-laki itu menjaga jarak karena sedang merokok. “Aku lagi merokok, Chia. Agak jauhan, ya? Nanti kamu kena asapnya.” “Pusing, Ry.” “Mau pulang?” tanyanya perhatian, menyelipkan helaian rambut yang menutupi kening sang kekasih. “Tunggu aku selesai merokok, ya?” “Kamu belum buka suara, Chi. Jangan harap bisa pulang dengan cepat,” lanjut laki-laki itu di dalam hati. "Aku nggak mau pulang ke rumah ah. Aku benci rumah setelah ada dia di sana. Papa jadi suka marah-marah ke aku." "Kena kamu." Henry bersorak dengan beradu pandang dengan bartender yang bertopang dagu sejak tadi memperhatikan interaksi mereka. "Di rumah kamu ada siapa emangnya? Kok kamu kayaknya nggak suka, pantas saja hampir setiap malam kamu ke club. Udah mulai nakal, ya, pacarku." Henry berkata seraya mematikan puntung rokoknya. Dia mendekat membuat pelukan Chiara makin lengket. "Ih dia tuh istrinya papa. Masih muda he-he, tapi aku nggak suka." "Istri, ya? Berarti papa kamu sudah menikah, dong? Kok aku nggak diundang, Chi. Padahal aku pengin kenal sama keluarga kamu. Selama kita pacaran kamu belum pernah ngenalin kami, loh. Aku cukup sedih." "Henry, aku nggak bisa. Aku pun tidak dikenalkan sebagai anak papa mana mungkin kalian aku pertemukan." Henry manggut-manggut paham. Sedikit info sudah dia dapatkan. Ayahnya Chiara menikahi perempuan muda. Masalahnya siapa ayahnya Chiara dan siapa istri mudanya. Kesimpulannya bahwa Chiara tidak setuju dengan pernikahan ayahnya. Dan yang lebih mengejutkan Chiara tidak diakui? "Kamu nggak suka papa kamu menikah lagi ya?" "Ih lucu. Papa baru pertama kali menikah, kok. Soalnya sama mama mereka nggak menikah tapi mereka punya aku." Fakta baru, Chiara anak di luar pernikahan. Henry makin merasa semakin dekat. Dia berusaha memberikan kenyamanan dengan membelai rambut panjang kekasihnya. "Aku benci, Hailey, deh, Ry. Dia yang bikin aku nggak betah di rumah." Brak! "NONA CHIARA!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN