Di dalam dekapan Henry pucat wajahnya berbanding terbalik dengan tindakannya yang langsung menepis laki-laki itu. Hailey mundur dan kembali membentur tiang listrik. Sosoknya menatap tajam tepat di manik matanya.
"Ngapain lo di sini, Ry? Jangan bikin Chiara semakin benci sama gue."
Suara lirihnya membuat Henry semakin khawatir dibuatnya. Tubuh Hailey beberapa kali limbung bahkan tangannya yang memegang ponsel gemetaran. Keberuntungan diraih perempuan itu sesaat ponselnya berkedip menandakan bernyawa dan bisa digunakan. Penolongnya.
"Bocah gila! Lo bikin kita semua kena amukan Asher, Ley! Lo di mana?! Buruan balik sebelum kita semua jatuh miskin karena lo kabur."
Tut!
Hailey yang mematikan teleponnya. Niat hati ingin meminta pertolongan kepada seseorang yang pernah menawarkan bantuan, tapi faktanya hanyalah korban perasaan. Bahkan kakaknya lebih takut jatuh miskin daripada menanyakan keadaan adiknya yang nyaris jatuh ... andai Henry tidak bergerak cepat.
“Jangan sok kuat kalau lo sendiri nggak bisa berdiri tegak, Ley. Badan lo demam, panas banget. Ayo ikut gue biar kita ke rumah sakit. Setelah itu bebas lo mau ke mana gue anterin.”
“Please, Ry. Jangan bikin gue makin bersalah. Jangan bikin Chiara—”
“Di situasi seperti ini lo masih mikirin Chiara, Ley?! Lo nggak sayang sama nyawa, ya? Gue sama lo temenan sejak kecil bukan lagi melakukan perselingkuhan!”
“Jangan bentak-bentak gue,” lirih Hailey memejamkan matanya. Kepalanya nyaris pecah. Dia ingin muntah sepertinya karena masuk angin, apalagi rintik hujan semakin besar jatuh di kepala mereka.
Disela perdebatan dering kencang dari ponsel milik Hailey membuat Henry cekatan merebut dari pemiliknya. Nama dosen di kampusnya membuat kening Henry mengernyit dalam kebingungan. Pria itu mendiamkan sampai mati dan kembali berdering.
Tubuh lemas Hailey ditopang oleh pelukan Henry membuat perempuan itu tidak tahu siapa yang meneleponnya dan dia pun tidak kepikiran jikalau Henry tahu.
Yang dirasakan setelahnya tubuhnya dipapah sampai berdiri di sisi motor besar milik teman kecilnya.
“Bisa duduk, ‘kan? Lo peluk perut gue biar nggak jatuh.”
Hailey tidak menjawab, tapi tidak memberi penolakan.
***
Hailey yang sudah berada di ruang perawatan puskesmas dengan infus menancap punggung tangannya memejamkan mata. Entah tidur atau tidak Henry tidak tahu. Dia pun tidak sempat memastikan.
Kakinya terus bergerak menunggu seseorang yang sudah diberitahu alamat rumah sakit ini melalui ponsel milik Hailey.
Bertemunya Hailey dengan Henry bukan karena tidak sengaja, Henry sengaja mencari Hailey di tempat-tempat yang susah ditebak oleh orang lain. Chiara, malam tadi menanyakan perihal Hailey yang sukses membuat Henry kaget sekalian penasaran.
Sekarang Henry semakin penasaran karena teman semasa kecilnya kenal dekat dengan dosen killer mereka. Sesuatu yang sangat mustahil.
“Chiara, pak Asher, terus lo, Ley. Sebenarnya ada apa di belakang gue. Kalian semua aneh. Chia tiba-tiba bahas lo setelah sekian lama.” Monolog laki-laki itu, hanya jam dinding yang memecah kesunyian malam.
Brak!
Henry terjangkit kaget memegang dadanya karena reflek.
“Pak,” sapanya, tetapi tidak dihiraukan oleh si empunya nama. Sosok jangkung dengan tatapan datar yang mematikan langsung membawa langkah kakinya mendekat brankar.
Tangan Hailey yang terbebas infus digenggam dengan tatapan tidak berpaling dari wajah damai sang istri.
“Pak,” panggil Ahmed berdiri di belakang Asher. “Saya sudah mendapatkan rumah sakit untuk memindahkan Ibu. Pemindahan bisa dilakukan dalam waktu satu jam kedepan.”
Kepala Asher mengangguk. “Beritahu mami kalau Hailey sudah ditemukan. Pastikan mami tidak menyusul.”
“Baik, Pak. Saya permisi.”
Kini tersisa dua laki-laki berbeda generasi. Yang satunya acuh yang satunya kikuk. Dalam heningnya ruangan, erangan Hailey membuat refleks keduanya cepat tanggap berdiri di sisi kanan dan kirinya.
Hailey mematung. Dia melirik tangannya yang digenggam oleh sang suami lengkap dengan wajah datar laki-laki itu.
“Lo masih di sini, Ry?” tanyanya lemah. “Pulang aja. Gue nggak pa-pa. Makasih, ya.”
Henry bergeming.
“Nanti Chiara nyariin lo. Gue nggak mau cari gara-gara dengan adanya lo sama gue.”
“Kita ke sini bareng, pulangnya juga bareng, Ley. Gue nggak mungkin ninggalin lo sendirian pas lagi sakit.”
“Saya yang akan menjaganya,” ucap Asher masuk dalam dialog anak muda yang sepertinya membuat Hailey ketar-ketir, terbukti perempuan itu berusaha melepaskan tautan tangannya. Hal itu diperhatikan oleh Henry tanpa suara.
“Lepasin!”
“Kenapa, Honey? Ngambekmu sama sekali nggak lucu.”
Hailey mendelik.
Asher sedang mengibarkan bendera perang padanya.
“Saya sudah mengabari papa dan mama perihal putrinya yang sekarat.”
Kasar sekali.
Hailey memejamkan mata. Ini adalah bentuk ancaman siaga satu. Jika Hailey tidak berhasil mengusir Henry bisa-bisa laki-laki iblis ini akan membongkar rahasia pernikahannya.
“Lalu saya mengatakan pada mereka kalau kemungkinan kita akan menyusul sekaligus bulan madu.”
Deg!
Hailey terlambat menahan bibir j*****m suaminya. Karena ucapan Asher itulah membuat suasana kamar perawatan ini mendadak hening. Asher hanya berniat melemparkan umpan tidak dengan memberi penjelasan.
Namun, tidak berlangsung lama karena kehadiran Ahmed dengan wajah bekas luka tonjok membuat mata Hailey melotot.
Hailey tidak punya energi untuk bertanya perihal itu. Dia diam saja saat seorang dokter klinik beserta salah satu perawat yang membawa kursi roda masuk ke ruang rawatnya.
Belum sempat Hailey bertanya akan dibawa ke mana tiba-tiba Asher sudah lebih dulu mengambil tindakan dengan menggendong tubuh ringkih Hailey setelah sang dokter mengambil cairan infus.
“Mau ke mana?”
“Kita pindah ke rumah sakit besar. Fasilitas di sini kurang lengkap.”
“Nggak perlu, Mas. Ribet banget pindah-pindah segala. Saya cuma demam. Tidak sampai sekarat.”
“Percuma buang-buang energi karena saya tidak peduli. Saya tahu yang terbaik untuk kamu, Hailey.”
“T-tapi—”
“Diam atau mau saya cium di depan teman kamu?”
Hailey langsung diam tidak mau ancaman Asher semakin memperparah.
Dia memilih menyembunyikan wajahnya di d**a bidang sang suami. Sekilas Hailey melihat ada tiga mobil. Satu milik Asher, mobil miliknya yang dikendarai oleh Ahmed dan satunya lagi ... beberapa orang berbaju hitam keluar begitu mendapati presensi suaminya.
Hailey beringsut memeluk leher Asher. Bergidik ngeri melihat otot-otot lengannya.
“Mas, mereka siapa?” cicit Hailey saat sudah masuk ke dalam mobil. Hailey bergerak gelisah karena dipangku oleh laki-laki itu alih-alih duduk di sebelahnya. Mau protes, tapi sudah jelas tidak akan dituruti.
Seketika wanita itu teringat dengan keberadaan Henry yang tidak kelihatan batang hidungnya. “Henry di mana?”
“Saya suruh dia pulang. Suami kamu di sini kenapa nyariin laki-laki lain, sih? Saya nggak suka, Hailey!”
“Mas, masalahnya Henry pasti curiga sama kita.”
“Lalu apa masalahnya?”
“Kita sudah sepakat.”
“Saya pastikan rahasia yang diketahui oleh kekasih Chia tidak akan bocor,” ujarnya mempertegas status Henry kepada sang istri. “Anak buah saya akan memastikan itu untuk kamu.”
“Gue yakin lo nyesel karena nolong gue, Ry,” batin perempuan itu.