Bab 11. Rumah Singgah

1059 Kata
"Mami nggak mau tahu Hailey harus dibawa pulang malam ini juga! Asher, Mami tidak mau ada aksi tonjok menonjok!" "Belum ngasih anak saja sudah bikin repot orang satu rumah. Biarin aja dia pergi, Oma. Dia pergi karena sudah sadar siapa suaminya. Memangnya siapa yang mau menghabiskan waktunya dengan pria yang tidak bertanggungjawab." "DIAM, CHIARA!" Chiara kicep dengan bentakan Magdalena yang tidak main-main. Jika Magdalena sampai membentak itu berarti bukan masalah sepele. Sedangkan sang ayah yang sudah dia singgung terlihat santai. Sama sekali tidak menunjukkan perubahan emosi. Sosok Magdalena duduk elegan kendati raut khawatir terlihat sangat jelas, tetapi perempuan paruh baya itu terlihat sangat-sangat santai bahkan masih menikmati secangkir teh. "Chiara, kali ini Papa benar-benar minta tolong ke kamu. Kasih tahu kami di mana saja kiranya Hailey jika bukan di apartemen dan rumah orangtuanya. Papa butuh informasi itu, Nak." Chiara membuang muka dengan permohonan sang ayah. "Aku memang tidak tahu, Pah. Kenapa sih semuanya selalu tentang Hailey—" "Tanyakan kepada kekasihmu, Chia. Kalian bertiga berteman, 'kan?" Chiara melotot tanpa dapat dicegah. "Jangan melibatkan kekasihku, Pah. Itu bukan urusan dia." "Berusahalah dulu, Chia. Papa mohon." Asher sudah putus asa, tak pernah dia memohon seperti ini. Orang-orangnya sudah dikerahkan akan tetapi, tak ada hasil yang mengindikasikan di mana keberadaan sang istri, apalagi ibunya pun turut membuat rungsing kepalanya. Ayahnya memohon untuk ibu tiri pencetak bayi. Chiara tidak tahu lagi harus merespon seperti apa sehingga kini sosoknya memilih hengkang dari hadapan oma dan ayahnya. "Semua orang mencari Hailey. Memangnya apa hebatnya Hailey, sih? Dia cuma ibu untuk mengandung. Apa pewaris harus terlahir dari pernikahan sah?" Chiara mencak-mencak menutup pintu kamar dengan kilat emosi. Berbeda dengan keadaan rumah Oetama maka, raut ceria Hailey terpampang nyata di rumah singgah. Wanita yang kini sedang menyuapi bayi berusia tujuh bulan bertepuk tangan saat bubur bayi di mangkok kecil tandas, apalagi si bayi turut bertepuk tangan seakan sedang bergembira juga. Atlanna dan Bella yang kini duduk tidak jauh dari Hailey saling berpandangan dan mengulum senyum. Wajah ayu Hailey kini ceria bukan karena berpura-pura. "Ketika datang wajahnya sembab. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang dialami saat ini. Kemungkinan besar Karena keluarganya, tapi kali ini terlihat lebih beban," ujar Bella memberitahu pada saudaranya. "Dia masih muda, tapi seperti anak yang memiliki beban berat. Aku berharap Hailey datang ke sini bukan untuk menghihur diri saja." Sahutan datang dari belakang. Dia adalah Calessia. "Kopi untuk begadang malam ini." Dalam diamnya Hailey mengamati sosok bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang menggenggam tangannya dengan erat. Perempuan muda itu tersenyum. Di pangkuannya bayi mungil kurang beruntung yang menggantungkan asa pada takdir Sang Ilahi. Entah bagaimana masa depannya nanti. Dengan begini saja trigger datang pada Hailey. Matanya berkaca-kaca karena mengingat dirinya akan menjadi anggota sekelompok ibu jahat yang meninggalkan anaknya. Alasan Hailey mungkin terdengar lebih jahat, dia berharap tidak bisa melahirkan seorang keturunan supaya tidak ada bayi-bayi tak berdosa yang menjadi korban keganasan dunia. Namun, jika Hailey tidak egois maka dirinya yang akan rusak oleh tuntutan keluarganya. Dia ingin segera bebas dari Asher dan syaratnya adalah memberikan keturunan laki-laki. Dengan begini saja sukses membuat Hailey pening. Dia setres berat, banyak pikiran yang tidak bisa dibenahi, tapi memilih diam. Semua ditanggung sendiri. "Kakak ke sini karena kabur dan Kakak rasa kabur saat ini menjadi opsi terbaik karena ketemu sama kamu. Setelah ini aku yakin nggak akan bisa lolos dari mas Asher." Hailey gelisah. Ponselnya sengaja dimatikan karena dia yakin aksi teror pasti didapatkan kalau terus dinyalakan. "Nak Hailey, kamu belum makan apa-apa semenjak datang." Kepala Hailey menoleh ke belakang dan mengangguk. "Adek bayi sudah kenyang, Bu. Sepertinya mau tidur, ya?" "Biar Ibu tidurkan di kamar, Nak. Kamu masuklah ke dapur dan makan, ya?" Hailey mengangguk. Sedikit tidak rela saat bayi di pangkuannya sudah berpindah tangan. Perutnya memang lapar, jadi lebih baik makan karena setelah ini dia harus pulang. Mana mungkin Hailey berani kabur lebih lama. Ini saja sudah ketar-ketir. Jangan sampai keluarganya direcoki juga karena tindakannya ini. Walau kecewa berat pada mereka Hailey tidak bisa membiarkan Gideon dan Ellis kesusahan karena dirinya. Makanya dia manut-manut saja menjadi umpan. *** Perginya jalan kaki, pulangnya juga jalan kaki. Hailey mampir di depan warung kecil yang sepi. Dia duduk di teras tanpa alas setelah membeli minuman dingin. Pangkalan ojek ada di jalan raya besar, di tempat kecil dan terpelosok ini nggak ada makanya Hailey jalan kaki. Tadi Atlanna sudah menawarkan untuk menemani Hailey mencari ojek, tapi wanita itu menolak dengan tegas. Dia berkata sudah dijemput oleh supir, padahal aslinya berjalan seorang diri seperti orang tanpa tujuan. "Mbak bukan orang sini, ya? Wajahnya asing, masuk saja Mbak soalnya masih gerimis," kata pemilik warung kecil. Hailey berdiri berniat kembali melanjutkan perjalannya setelah mendapat tawaran. Dia jadi nggak enak. "Terima kasih banyak, Bu. Saya baru saja dari rumahnya bu Bella ini mau lanjut pulang biar nggak kelamaan." "Sendirian, Mbak? Sudah malam takutnya ada apa-apa atau mau bermalam di rumah saya dulu? Saya seorang janda, tidak ada orang lain di rumah ini selain saya." Sepertinya ibu muda di depannya tidak tega kalau membiarkan Hailey pergi seorang diri di tengah gelap gulita. "Nggak pa-pa, nanti supir saya jemput di jalan raya, kok. Kalau begitu saya permisi, ya, Bu." Semua orang yang melihat visualisasi Hailey akan sangat percaya kalau perempuan itu berasal dari kalangan atas, tapi yang tidak dipercaya oleh si pemilik warung ada hubungan apa Hailey dengan Belle dan rumah singgahnya. Tetangga di sekitar situ cukup tahu rumah yang berpenghuni bayi-bayi terlantar. "Donatur, ya? Sejak kapan mereka menerima donatur? Selama ini mereka hidup berbekal Ketuhanan saja." Ibu itu mencibir, tapi memilih tidak ambil pusing. Tawarannya bukan karena Hailey orang kaya, tapi murni rasa tidak tega sebagai sesama manusia. Kembali pada sosok Hailey yang menyisir malam gelap di pinggir jalan seraya memeluk lengannya yang terbuka. Dingin sekali, tapi tidak dipedulikan. Kepalanya juga pusing karena gerimis masih bertahan awet. "Please sampai rumah dulu jangan pingsan di sini." Monolog wanita itu memukul kecil kepalanya dengan kepalan tangan. "Gue nggak mau mati konyol," ujarnya menyandarkan badannya di tiang listrik seraya menunggu ponselnya nyala. Namun, benda pipih itu tak kunjung nyala sepertinya kehabisan baterai. "Sialan! Apes-apes banget." Tin! Mata yang kunang-kunang menyipit tak suka. Dia berdiri tegak hendak lari akan tetapi, lengannya sudah dicekal terlebih dahulu oleh si penunggang motor. Tak peduli helm yang terjatuh membentur aspal yang penting sosok ringkih itu masuk ke dekapan hangatnya. "Lo ke mana saja, Ley? Gue yakin lo pasti ke rumah itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN