Happy Reading . . .
***
Pagi hari yang cerah itu membuat perasaan Jojo ikut menjadi cukup bersemangat saat ingin berangkat bekerja. Bahkan kini wanita itu yang sedang mengeringkan rambut panjangnya yang sehabis keramas dengan hair-dryer pun, sesekali bersenandung ria seakan menggambarkan suasana hatinya. Entah kenapa ia bisa merasakan rasa senang dan semangat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
Setelah dirasa rambutnya sudah kering, Jojo pun mematikan hair-dryer lalu ia hendak memoles sedikit make-up di wajahnya. Namun disaat ia sedang memakai bedak, Jojo mendengar suara meja riasnya di dekatnya yang tersengar diketuk sekali, dan senyuman wanita itu pun langsung terbit.
"Gitu dong. Walaupun lo lagi nggak jadi manusia sesungguhnya, lo tetep harus punya attitude." Ucap Jojo kepada Andy yang kini sudah mesandarkan tubuhnya pada meja rias sambil memandang wanita itu dengan tersebut.
"Jadi ceritanya udah mulai nggak kaget lagi nih?"
" 'kan lo udah kasih tanda. Jadi gue nggak bakal kagetan lagi lah..." balas Jojo yang tetap melanjutkan make-up nya.
"Kamu mau berangkat kerja, Jo?"
"Iya dong, masa mau berangkat sekolah."
"Seandainya saya bisa membawa kendaraan, pasti saya sudah mengantar kamu."
"Seandainya juga lo bisa bawa kendaraan, lo juga nggak perlu anter gue. Gue bisa berangkat kerja sendiri naik ojek."
"Kamu nggak bisa bawa kendaraan?"
"Gue bisa bawa mobil, tapi males kalo bawa sendiri. Abisnya macet mulu, jadi buat pajangan aja deh mobil gue."
"Selain baik ternyata kamu mandiri juga ya?"
"Masa?"
"Iya."
"Tapi kalo males bawa kendaraan sendiri, itu kategorinya bukannya cewek nggak mandiri ya?"
"Kamu beda, Jo. Biasanya kalo cewek nggak mandiri itu, setiap mau pergi pasti minta anter. Kalo pun berangkat sendiri, pasti badannya nggak mau kena polusi udara. Jadi alternatifnya naik taksi. Sedangkan kamu, lebih milih naik ojek yang kena debu dan juga suka selap-selip sana-sini."
"Karena gue lebih suka yang efisien, jadi pilihannya ya naik ojek. Dan kayaknya yang lon jelasin tadi, Itu lebih ke definisi cewek manja deh?"
"Iya apapun itu, bagi saya kamu tetep beda, Jo."
"Hm... okay."
"Jo..."
"Apalagi?"
"Kamu udah cantik, make-up nya jangan tebel-tebel ya."
Jojo yang mendengar ucapan Andy itu pun langsung menghentikan kegiatannya sejenak yang sedang memakai lipstick itu.
"Emangnya kenapa? Buat cewek make-up itu kebutuhan tau? Apalagi wanita karir kayak gue gini, wajib buat mempercantik diri biar menarik diliatnya."
"Iya. Tapi nanti kalo kamu makin cantik terus saya jadi makin suka, gimana?"
"Dari tadi ya, lo pikir gue nggak merhatiin lo yang berusaha buat ngerayu gue mulu? Lo lagi mau apa?" Ucap Jojo sambil tersenyum canggung.
Tentu saja wanita itu merasa canggung. Selain ia yang baru saja dipuji kecantikannya oleh pria, ini baru kali pertamanya Jojo juga dipuji oleh makhluk 'tak kasat mata seperti Andy.
"Nggak, saya nggak lagi ngerayu kamu. Saya lagi bicara apa adanya dan saya juga lagi nggak mau apapun. Kamu cantik Jo, serius."
"Okay. Jadi gini ya rasanya, baru kali ini gue dipuji sama hantu."
"Saya bukan hantu," peringat Andy.
"Iya, lo itu roh manusia yang lagi jalan-jalan 'kan? Iya gue tau," balas Jojo sambil beranjak dari kursi meja rias setelah selesai merias wajahnya. Lalu ia pun melangkah ke atas ranjang untuk memasukan barang-barang yang akan dibawanya bekerja ke dalam tas.
"Kamu udah mau berangkat?"
"Iya. Lo diem-diem di sini aja ya kalo nggak mau pergi-pergi. Jangan gangguin nyokap gue, apalagi mbok Min. Dia yang suka bantu-bantu bersihin rumah ini, orangnya takut sama parno-an."
"Kayak kamu dong?"
"Dikasih tau, malah ngeledek." Gerutu Jojo yang justru membuat Andy tertawa.
"Sebelum berangkat jangan lupa sarapan."
"Ini gue mau turun ke bawah buat sarapan, sebelum Ibu tercinta gue ngeluarin jurus auman singanya."
"Kayak ibu-ibu di film China itu ya?"
"Iya. Tau aja," balas Jojo sambil tertawa.
"Saya ikut ya," ucap Andy setelah tawa keduanya terhenti.
"Kemana?"
"Nemenin kamu sarapan."
"Mau ikut makan juga?"
"Saya nggak bisa makan, Jo."
"Terus?"
"Nemenin kamu, biar nggak kesepian."
Mendengar jawaban Andy itu, membuat Jojo sempat menarik nafas lalu menghembuskannya dengan cepat.
"Iya. Ayo turun ke bawah," balas wanita itu yang langsung membawa tasnya dan melangkah keluar dari kamar.
Setelah menuruni anak tangga, Jojo melangkahkan kaki menuju meja makan dan melihat sang Ibu yang hanya duduk diam di kursi meja makan dan memakan makanannya.
"Tumben nih... pagi-pagi kuping Jojo kayaknya tenang banget," ledek Jojo sambil mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan Marina.
"Diem lu! Tenggorokan gua lagi sakit," balas Marina ketus.
"Galak amat, tenggorokannya lagi sakit juga. Tapi kayaknya tanda-tanda tuh, Bu."
"Tanda-tanda apaan?"
"Operasi amandel. Tenggorokan Ibu 'kan tiap ngeluh sakit pasti selalu larinya ke amandel. Harus bener-bener diperiksa itu, Bu."
"Nggak usah sok tau, cepet makan sarapan lu."
"Diperhatiin anaknya malah ngomel mulu. Tanda-tanda juga 'tuh."
"Kebanyakan tanda-tanda lu!" Seru Marina yang mulai menaikkan intonasi bicaranya.
"Tanda-tanda nggak boleh teriak-teriak sama anaknya lagi, Bu."
"Jo... uhuk... uhuk..." Ucapan Marina pun langsung terpotong oleh batuk yang dikeluarkannya.
"Nah... 'kan? Makanya jangan ngomel mulu. Minum, minum." Perintah Jojo sambil menggeser posisi duduknya menjadi sedikit menjauh dari Marina.
"Ngapain lu geser-geser?" Tanyanya setelah meminum teh hangat dan batuknya sudah sedikit terasa lebih baik.
"Takut ketular. Jojo 'kan baru sembuh dari sakit. Bahaya kalo sampe jadi sakit lagi."
"Alahh... sakit tinggal ke dokter minum obat."
"Tapi kalo punya kerjaan segudang, nggak bisa dibawa pergi ke dokter terus diminumin obat selesai urusannya dong, Bu."
"Kerjaan aja lu pikirin,". " Heh... nanti malem kosongin jadwal lu, nggak usah pake lembur-lemburan."
"Kenapa? Emangnya ada apa?"
"Mantu gua mau ketemu sama lu."
"Mantu? Mantu siapa lagi?"
"Masih pura-pura nggak tau aja. Jangan pikir karena gua udah lama nggak ngebahas masalah perjodohan lagi, lu bisa terbebas dengan tenang. Tidak semudah itu, Marimar."
"Terus aja semua peran telenovela disebut. Lagian apaan sih, Bu? Jojo nggak suka kalo Ibu suka main ambil keputusan sendiri kayak gini."
"Nggak ada urusan. Nanti malem anaknya temen gue mau dateng ke sini. Mau kenalan sama lu katanya, dia. Pokoknya nanti malem, lu pulang kerja harus nyampe rumah paling telat jam tujuh malem. Nggak sampe di rumah jam segitu, jangan harap pintu gerbang terbuka buat lu nanti malem. Titik!"
"Ibu kejam!" Protes Jojo dengan amarah.
"Bodo amat! Yang penting anak gua laku, terus punya mantu dan cucu akan segera menyusul. Bahagia dah hidup gua kalo kayak gitu."
Melihat sikap menyebalkan sang Ibu yang mulai muncul kembali, tentu membuat perasaan Jojo di pagi hari yang tadinya merasa senang tiba-tiba saja langsung dihancurkan oleh keinginan Marina yang ternyata belum menyerah ingin menjodohkan dirinya. Setelah melemparkan pandangan kesal dan juga marahnya, Jojo pun langsung mengambil tas miliknya dan beranjak dari duduknya untuk bisa bergegas berangkat bekerja. Ia tidak mempedulikan sarapan paginya yang belum disentuhnya itu, karena tiba-tiba saja rasa kenyang akan kemenangan Marina sudah mengisi perut kosongnya itu.
"Kita bisa memulai rencana kita dari sekarang. Sepertinya Ibu kamu sudah sangat tidak sabar ingin memiliki menantu," usul Andy yang kini sudah mengikuti Jojo melangkah keluar dari rumah.
"Lo bisa liat sendiri 'kan betapa nyebelinnya punya orangtua kayak gitu? Dia tuh selalu pengen menang sendiri dan nggak pernah merhatiin kemauan gue. Kesel tau nggak terus-terusan digituin."
"Tapi dia 'kan Ibu kamu, Jo."
"Iya, gue tau. Yang bilang dia itu Ibu lo siapa? Cuma gue nggak suka sama caranya yang nggak pernah diskusi dulu sama gue. Seenggaknya tanya dulu gitu pendapat gue, nggak main ambil keputusan aja dengan tiba-tiba nanti malem bakal ada cowok yang mau dateng ke rumah terus kenalan sama gue aja kayak gini. Nggak suka gue!"
"Jo, tarik nafas terus buang perlahan-lahan. Ulangin berkali-kali sampai kamu merasa lebih baik dan lebih tenang."
Mendengar saran dari Andy, Jojo pun mendudukkan diri di kursi yang berada di teras rumah untuk menenangkan dirinya sejenak. Ia mengikuti saran Andy untuk mengatur nafas yang sebelumnya terasa menggebu-gebu dan cukup terengah itu.
"Sudah terasa lebih baik?" Tanya Andy sambil berlutut di hadapan Jojo, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu.
"Ya," balas Jojo sambil menganggukkan kepala.
"Untuk permasalahan yang baru saja kamu alami, tidak usah terlalu dipikirkan. Saya siap membantu kamu, jika perkiraan buruknya pertemuan nanti malam benar-benar akan terjadi. Saya akan selalu berada di samping kamu, okay?"
"Lo mau bantu gue?"
"Tentu saja, sesuai perjanjian kita. Dan perjanjian itu resmi dimulai hari ini. Saya akan membantu kamu, Jojo."
"Thank you, ya. Sebelumnya kalo gue abis berantem sama nyokap nggak pernah ada yang nenangin kayak tadi. Tapi sekarang ada lo yang udah nenangin gue."
"Tidak perlu berterimakasih, Jo. Kita sudah sepakat 'kan? Dan selain saya yang siap membantu kamu dalam permasalahan perjodohan, saya juga akan siap untuk berada di barisan paling depan untuk menyemangati kamu."
"Lo so sweet deh jadi cowok."
"Jangan baper ya?"
"Lo tuh yang baper sama gue. Tiap waktu kayaknya suka banget buat ngerayu gue," balas Jojo yang membuat Andy justru tertawa.
"Yaudah, karena sekarang kamu udah terlihat lebih baik. Mending sekarang cepet order ojeknya, udah makin siang nanti kena macet. Kamu bisa telat nanti."
"Okay," balas Jojo sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Saya akan nemenin kamu sampai abang ojeknya dateng."
Senyuman yang terbit di bibir Jojo adalah balasan atas sikap manis yang benar-benar Andy berikan kepadanya. Tidak hanya manis, namun perhatian dan juga kelembutan yang pria itu berikan kepada Jojo justru akan membahayakan perasaan wanita itu kedepannya nanti.
***
To be continued . . .