Kisah Andy

1770 Kata
Happy Reading . . . *** "Jadi... mau dimulai dari mana? Apa yang lo mau dari gue, Andy?" Tanya Jojo yang membuka percakapan di antara mereka. Keduanya, Andy dan Jojo yang sudah sama-sama duduk di atas ranjang sang pemilik kamar, seakan sudah menunjukkan betapa siapnya kedua orang itu untuk berbicara serius satu sama lain. "Dari siapa saya yang sebenarnya. Kamu masih sangat bingung dengan saya 'kan, Jo?" "Iyalah." "Okay. Tetapi sebelumnya, apa yang kamu lihat dari saya? Maksudnya, dengan sosok saya yang seperti ini?" "Hantu gentayangan, makhluk 'tak kasat mata, atau sejenisnya yang tidak termasuk golongan makhluk hidup." "Ya, sebagian tidak ada yang salah. Tetapi lebih tepatnya lagi, saya adalah manusia. Saya benar-benar masih manusia, tapi rohnya sedang keluar dari raganya. Seperti saat ini." "Maksudnya?" "Sebelum seperti ini saya manusia, Jojo. Tetapi setelah saya mengalami suatu kecelakaan, saya pun koma. Tubuh atau raga saya, saat ini sedang terbaring dengan tidak berdaya di ranjang rumah sakit. Sudah enam bulan lamanya saya koma, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa kembali ke tubuh saya, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta bantuan ke mana agar saya bisa kembali ke tubuh saya seperti sedia kala." "Jadi, lo ini semacam roh yang lagi gentayangan gitu?" "Ya, roh saya sedang berkelana. Tidak memiliki tujuan dan tidak bisa kembali. Saya hampir putus asa merasakannya, Jo." "Ini aneh, aneh banget. Lo bukan hantu, tapi bagi gue, lo itu kayak hantu. Roh lo gentayangan yang raganya lagi koma di rumah sakit. Gimana caranya lo bisa keluar dari raga lo sendiri?" Tanya Jojo dengan sangat bingung dan frustasi setelah mendengar sosok apa sebenarnya Andy ini. "Kamu bingung? Apalagi saya yang mengalaminya, Jo. Saat itu saya pun juga sangat tidak mengerti bagaimana saya bisa menjadi seperti ini, tiba-tiba saja keluar dari raga saya." "Semuanya terjadi gitu aja?" "Ya. Setelah kecelakaan yang saat itu baru saya alami, saat tersadar saya hanya merasa dengan saya yang seperti baru terbangun dari tidur. Saya tidak merasa kesakitan pada seluruh bagian tubuh saya, yang seharusnya rasa sakit luar biasalah yang saya rasakan pada saat itu. Dan bahkan saya pun juga merasakan tubuh saya yang lebih ringan dari biasanya, tentu saya pikir semuanya sudah baik-baik saja. Tetapi setelah saya beranjak dari atas ranjang, saya bisa melihat tubuh saya sendiri yang masih terbaring dengan berbagai macam selang, alat-alat yang entah itu pendeteksi atau pemacu kehidupan saya yang satu pun tidak ada yang saya ketahui namanya. Begitu banyak alat yang terpasang di tubuh saya, Jo. Belum lagi perban, gips, dan segala macam aksesoris yang bertujuan untuk menutupi segala luka di seluruh tubuh saya. Awalnya saya merasa takut, bingung, marah, dan banyak lagi perasaan yang begitu menyerang diri saya. Namun beberapa hari berlalu, saya mencoba menerima dengan keadaan saya yang seperti saat ini. Saya pun hanya duduk di salah satu kursi sofa yang berada di ruangan intensif itu, sambil menatap raga saya yang tidak berdaya dan masih terbaring di atas ranjang itu. Sesekali saya juga berkeliling rumah sakit untuk membuang rasa jenuh saya. Tetapi enam bulan waktu berlalu, rasa jenuh yang saya rasakan sudah berganti menjadi rasa putus asa. Saya lelah, sungguh sangat lelah. Saya hanya ingin kembali ke tubuh saya, dan menjalani kehidupan saya dengan normah seperti sedia kala. Tidak ada yang bisa membantu saya, karena saya tidak tahu harus memintanya kepada siapa?" "Terus lo dateng ke kehidupan gue?" "Hanya kamu, Jo. Hanya kamu yang bisa saya sentuh, saya ajak bicara seperti ini, saya perlihatkan diri saya. Dan saya rasa hanya kamu yang bisa membantu saya." "Hm... Andy, gue turut sedih sama hal yang lagi lo rasain ini." "Inilah yang saya suka dari diri kamu, sangat simpati dengan orang lain." "Okay, thank you atas pujiannya. Tapi kenapa harus gue, Andy? Kenapa nggak keluarga lo, teman-teman lo, pasangan lo, atau siapapun yang deket sama lo. Kenapa harus gue yang lo datengin, disaat kita aja sama-sama nggak kenal?" "Saya sudah mendatangi mereka semua, tetapi tidak ada satu pun yang bisa saya jamah. Jo, kamu memang bukan keluarga saya, teman, pasangan, apalagi orang-orang terdekat yang saya kenal. Tetapi saya mengenal kamu, bisa dikatakan kamu memiliki relasi dengan saya." "Relasi?" "Verren Tjandra, dia atasan kamu di kantor 'kan?" "Y-ya. Lo tau dari mana?" Tanya Jojo dengan cukup bingung. "Dia Ibu saya." "HAH!!!" Teriak Jojo yang sangat terkejut. "Ya, dia Ibu saya, orangtua saya. Jadi, kamu sudah mengerti kenapa saya tiba-tiba saja datang ke kehidupan kamu dan membuat kamu menjadi merasa sangat tidak nyaman kayak sekarang ini, 'kan?" "Tapi gue cuman bawahan nyokap lo doang?" "Itulah. Saya juga bertanya-tanya sendiri kenapa hanya kamu saja yang bisa saya ajak komunikasi seperti ini? Tapi Jo, saya tahu kamu seorang wanita yang sangat baik. Saya tahu itu. Jadi, bisakah kamu membantu saya?" "Kenapa harus gue 'sih? Gue nggak mau terlibat urusan sama nyokap lo, selain urusan kerjaan." Keluh Jojo dengan suara malangnya. "Saya tidak memiliki pilihan lain, Jo. Hanya kamu. Please, jangan tanya lagi kenapa harus kamu yang saya pilih? Karena jawabannya tetap akan sama, hanya kamu yang bisa membantu saya." "Nyokap lo kejam tau! Sakit hati gue tiap hari tekanan batin terus sama dia." "Maafin Ibu saya ya, Jo. Sikapnya memang seperti itu sejak dulu, tidak pernah berubah." "Sebenernya karena denger cerita lo yang abis ngalamin kecelakaan terus malah jadi kayak gini, sangat-sangat menyentuh hati gue banget. Gue kasian sama lo. Tapi sialnya, kenapa hal ini harus berhubungan sama bos gue sih? Kenapa orangtua lo harus dia?" "Hm... untuk pertanyaan yang terakhir saya tidak bisa menjawabnya." Balasan Andy dengan suara ragunya itu, membuat Jojo langsung menatapnya dengan mengernyitkan dahi. "Kenapa? Saya benar, 'kan? Saya tidak bisa memilih kepada siapa saya dilahirkan." "Apa yang harus gue lakuin?" "Cukup bicara saja dengan Ibu saya. Katakan saja saya benar-benar menyesal dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah saya buat. Saya membutuhkan maaf serta dukungan dari dia, supaya roh ini bisa kembali ke raganya." "Lo yakin hal itu bisa ngebalikin lo, ke tubuh lo?" "Sebelum saya mengalami kecelakaan, ada permasalahan internal yang tidak bisa saya ceritakan kepada kamu. Bukannya tidak bisa, mungkin waktunya belum tepat. Saya sedikit berselisih dan berujung dengan pertengkaran dengannya. Mungkin dengan mengungkapkan rasa penyesalan dan permintaan maaf saya, semua ketegangan yang terjadi di antara Ibu saya dan saya bisa terselesaikan. Dan pada akhirnya, saya bisa kembali ke tubuh saya." "Yakin bisa?" "Setidaknya saya sudah mencoba." "Cuma itu?" "Berarti, termasuk gampang 'kan permintaan tolong dari saya kepada kamu?" "Tetep aja itu nggak gampang!" Bantah Jojo. "Itu sama dengan lo yang udah nyeret gue ke kehidupan pribadi keluarga lo dan juga Bu Verren. Dan gue taruhan itu adalah hal yang paling nggak disukain sama beliau." "Jika kamu tidak ingin membantu saya, mungkin kesempatan yang saat ini sedang saya hadapi untuk bisa hidup kembali hanya akan menjadi hal yang terasa sia-sia saja, Jo." "Tapi gue masih nggak tau." "Saya mohon, Jo. Kamu hanya menjadi perantara saja antara saya dengan Ibu saya,". "Tidak ada lagi yang saya inginkan dari kamu selain hal itu. Saya hanya ingin bisa normal lagi. Saya ingin menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam keluarga saya, setelah saya bisa terbangun dari koma ini." "Gue nggak mau ikut campur sama urusan pribadi, Bu Verren." "Hei, ingat kalau saya akan membantu kamu untuk membatalkan perjodohan yang sedang Ibu kamu lakukan? Kita mulai dari situ. Saya yang akan membantu kamu terlebih dahulu, lalu setelah itu kamu bisa membantu saya. Dengan saya yang membantu kamu, itu juga bisa memberikan waktu untuk kamu dalam mempersiapkan diri berbicara langsung kepada Ibu saya nanti. Saya mengerti dengan kamu yang begitu takut dan segan dengan Ibu saya, Jo. Maka dari itu saya ingin memberikan kamu waktu sejenak. Simbiosis mutualisme ini terasa menyenangkan, 'kan? Demi masa depan dan kebaikan kita bersama, Jo. Saya ingin bisa kembali hidup normal seperti semula, dan kamu yang terbebas dari kejaran deadline Ibu kamu yang ingin kamu bisa cepat-cepat menikah. Jadi... bagaimana?" "Lo mau bantu gue buat batalin rencana perjodohan yang mau nyokap gue lakuin?" "Ya, tentu saja. Saya tidak ingin kamu merasa kerepotan sendiri, dan membuat kamu menjadi berpikir kalau saya ini bisa saja orang yang egois. Saya ingin kita bisa sama-sama berjuang, untuk kebaikan kita masing-masing." "Gimana caranya?" "Kita bisa bicarakan itu nanti. Yang terpenting, saat ini kita sudah mencapai tahap kesepakatan terlebih dahulu. Jadi, bagaimana jawaban kamu, Jo?" Jojo pun sempat terdiam sejenak sambil memperhatikan wajah Andy yang sedang menampilkan ekspresi meyakinkannya. "Deal?" Tanya Andy sekali lagi sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Jojo. Dengan tatapan kedua pasang mata yang juga masih saling menatap itu, Jojo pun mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Andy dengan perlahan dan juga sedikit rasa ragu. Namun semua itu langsung tergantikan dengan sebuah senyuman yang tercipta pada masing-masing bibir kedua insan tersebut, setelah tangan mereka sudah bersatu. "Tangan saya langsung terasa menghangat setiap bersentuhan dengan kamu seperti ini," ucap Andy yang semakin melebarkan senyuman di bibir Jojo. "Ini baik untuk kita, 'kan?" "Tentu saja. Kita sudah mencapai kesepakatan." "Please, tepatin setiap janji dan ucapan lo tadi sebagai pria dewasa yang bertanggung jawab. Gue nggak mau tiba-tiba aja semuanya berhenti di tengah jalan, dan ujung-ujungnya semua kesepakatan yang kita buat ini cuma jadi omong kosong aja." "Nyawa saya yang menjadi taruhannya dalam kesepakatan ini, Jo. Jika saya menganggap semua ini hanya lelucon atau omongan kosong, saya yang akan kehilangan nyawa saya. Jadi tidak ada main-main, okay?" "Okay." "Hm... dan, Jo. Bisakah kamu tidak memakai dukun atau paranormal seperti yang kamu bicarakan kepada teman kamu tadi? Saya tahu keberadaan saya ini cukup mengganggu kamu, tetapi saya tidak ingin dihilangkan untuk selama-lamanya. Saya masih ingin hidup." "Lo denger ya?" Tanya Jojo dengan sedikit canggung. "Dan itu membuat saya menjadi sedikit takut." "Sorry ya? Gue nggak bermaksud. Dan okay, gue nggak akan pake dukun atau apapun itu namanya." "Dan, bisakah hal ini hanya akan menjadi urusan di antara kita berdua saja. Tidak perlu ada orang lain yang tahu. Dalam artian, sebaiknya kamu tidak menceritakan apalagi membicarakan hal ini kepada orangtua kamu, teman kamu, atau siapapun itu. Saya hanya ingin adanya privasi dengan hal yang sedang saya alami ini." "Ya, gue akan tutup mulut." "Terima kasih, Jo. Kamu benar-benar wanita yang sangat baik dan begitu pengertian. Saya tidak salah datang kepada kamu." "Iya. Tapi please, kalo lo mau dateng, kasih pertanda buat gue ya. Gue nggak siap mati muda karena setiap hari kena serangan jantung gara-gara lo yang kalo dateng nggak pake permisi-permisi dulu." "Benda yang saya ketuk, itu akan menjadi pertanda. Bagaimana?" "Lebih baik." "Okay. Jadi, mulai dari sekarang kamu harus membiasakan dengan keberadaan saya dimana pun itu kamu sedang berada." "Tapi karena gue sebagai cewek dan lo cowok, jadi kasih gue sedikit privasi, okay? Sebagai roh yang lagi gentayangan, lo tetep harus kasih attitude yang baik." "Okay, deal!" *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN