Anak Gaul Thamrin a.k.a Andy

1790 Kata
Happy Reading . . . *** "Mau nambah nggak buburnya?" "Nggak ahh... nanti malah naik ke mata, lagi." "Biasanya tiga mangkok? Ini aja baru dua." "Nggak, gue udah kenyang." "Yaudah, jadi langsung ke intinya aja nih. Lo mau maafin gue 'kan?" Ucap Kelly dengan merasa sangat tidak enak dan menyesal. "Ayolah Jo, dari kemaren gue merasa bersalah banget." "Udah gue maafin," balas Jojo dengan cukup datar. "Yang bener? Kok kayak nggak ikhlas gitu?" "Iya, lo udah gue maafin. Puas?" Ucap Jojo yang kini dengan senyuman di bibirnya. "Gitu dong, 'kan gue jadi lega. Rasanya dari kemaren nggak enak tau dikacangin mulu." "Makanya, biar nggak gue kacangin lagi, lo jangan songong sama gue." "Iya, maafin gue ya. Nggak enak tau rasanya nggak punya temen." "Temen lo 'kan banyak." "Tapi yang rese sama manja kayak lo 'kan nggak ada." "Lo 'tuh yang rese!" Balas Jojo dengan kesal, namun justru membuat sang teman tertawa. "Bercanda gue,". " Eh... ngomong-ngomong kemaren gimana ceritanya lu bisa sampe pingsan di kantor terus langsung sakit gitu?" "Tekanan batin gue sama bos gue." "Bukannya udah biasa ya? Setiap omongan yang keluar dari mulutnya dia 'kan selalu nyelekit di hati." "Iya 'sih. Tapi kemaren 'tuh entah kenapa rasanya lebih nyelekit dari pada yang biasa-biasanya. Gue-nya aja kali yang lagi sensitif." "Gara-gara apa emangnya?" "Gue nggak bisa dihubungin doang. Gue udah jelasin kalo handphone gue rusak, terus belom sempet buat ganti yang baru. Ehh... gue malah apes kena omelin dia." "Tapi ya Jo, lo harusnya 'kan tau kalo sekarang handphone itu udah jadi kebutuhan. Jangan bos lo yang setiap hari darah tinggi mulu, gue aja yang semaleman nggak bisa ngehubungin lo 'tuh rasanya pengen banget gue samperin lo saat itu juga." "Terus kenapa lo nggak dateng ke rumah gue?" "Kemaren gua udah dateng ya. Tapi ada yang pura-pura sibuk nggak mau ketemu gue." "Iya, iya. Kita 'kan lagi ngebahas masalah kenapa gue bisa sampe sakit." "Lo yang mancing duluan." "Okay. Balik ke topik awal pembicaraan. Jadi ya gitu, gue lagi tertekan dan sensitif jadinya nggak kuat deh fisik gue." "Cuman itu?" "Iya." "Terus lo kapan mau kerja lagi. Udah dua hari sama sekarang lo nggak kerja, ntar pas masuk-masuk bukannya ditanyain kabar malah makin dimaki-maki lagi lo?" "Gue udah hubungin bos gue." "Terus katanya apa?" "Yaudah gue disuruh istirahat aja." "Nggak diomelin?" "Walaupun setiap hari kerjaannya darah tinggi mulu, Bu Verren juga manusia, Kelly. Masih punya hati nurani sama rasa kasian sama bawahannya kali." "Iya juga sih." "Lo abis ini mau balik ke kantor?" "Nggak dong, kerjaan gue 'kan jalan-jalan." "Sombong amat!" "Biarin, yang penting gue happy." "Ehh... sebelum lo pergi, ada yang mau gue tanyain ke lo." "Nanya apa? Jangan nanya kapan gue kirim undangan nikahan ya." "Idihh... mau nyinggung ke arah sana aja nggak ada niat, sorry ya." "Terus apa?" "Lo ada kenalan atau tahu paranormal nggak?" "Kakek uyut temen gue dukun." "Paranormal, Kelly. Bukan dukun." "Sama aja, Jojo. Paranormal itu bahasa profesionalnya, kalo dukun itu bahasa orang-orang jaman dulu." "Iya apapun itu, pokoknya yang punya six senses deh. Ada nggak?" "Lo kenapa 'sih tiba-tiba nanya kayak gituan? Bikin gue jadi parno aja." "Gue nggak mau bikin lo takut, Kelly." "Tapi arah pembicaraan lo itu bikin gue takut, Jojo." "Baru gue tanyain gitu aja langsung takut, apalagi gue ceritain." "Cerita lo bikin gue penasaran sama takut disaat yang bersamaan. Ceritain dong, ada apa sih?" "Yakin? Ntar lo berani mandi sama tidur sendiri nggak?" "Nggak deh, dari pada ntar gue jadi parno-an orangnya." "Yaudah, kalo gitu bantuin gue aja buat cariin paranormal, dukun atau apapun itu namanya, okay?" "Tapi ntar kalo gue bantuin, gue jadi ikut kebawa-bawa sama hal mistis lo itu lagi?" "Nggak akan." "Gue nggak yakin bisa nemu atau nggak. Lagian di jaman sekarang di Jakarta gini, gue yakin kayaknya nggak ada deh yang masih jadi dukun." "Gue yakin masih, tapi gue aja yang nggak tau tempatnya dimana." "Yaudah, ntar gue kabarin deh. Gue cari-cari info dari temen-temen gue juga." "Thank you, Kelly." "Kalo gitu, gue duluan ya. Ntar dicariin sama soulmate gara-gara makan siangnya kelamaan." "Pak Guntur? Ciee... sekarang Kelly kecengannya Pak Guntur," ledek Jojo. "Sialan lo! Udah tua dikit lagi bau tanah gitu, nggak main gue." "Heh! Itu bos lo, b**o!" Tegur Jojo sambil tertawa. "Yaudah, sampe ketemu besok ya. Langsung masuk 'kan besok?" "Iya. Ini aja udah bisa keluyuran. Kalo nyokap gue tau pas nanti sampe rumah kok lama, paling gue dimaki-maki." Ucapan Jojo itu pun langsung membuat keduanya tertawa kembali. "Bye, Jojo." "Hati-hati, abang ojeknya jangan digodain udah punya istri atau belom." "Tau aja lo. Yaudah, bye." Setelah tersenyum sambil melambaikan tangan kepada temannya yang sudah pergi menjauh itu, Jojo pun merapikan barang-barangnya untuk kembali pulang sebelum sang Ibu menginterogasinya karena terlalu lama pulang ke rumah. Karena sebelum pergi, wanita itu hanya berpamitan ingin ke sebuah Mall untuk membeli ponsel baru saja. Namun disaat Jojo baru saja menutup resleting tas yang dibawanya itu, ia langsung dikejutkan dengan keberadaan sosok yang datang kembali dan tiba-tiba saja sudah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Jojo. "ASTAGA! Sebenernya lo itu siapa sih? Perasaan setiap hari kayaknya seneng banget buat jantung gue olahraga terus?Emangnya lo nggak punya target lain yang bisa lo gentayangin apa?" Protes Jojo dengan suara kesal dan marah, namun intonasi bicaranya sedikit ia tahan sehingga tidak menarik perhatian dari pengunjung tempat makan dimana saat ini ia sedang berada. Dengan sosok itu yang semakin hari dan setiap waktunya semakin intens menunjukkan keberadaannya terhadap Jojo, wanita itu pun menjadi mulai sedikit terbiasa akan kehadiran sosok tersebut yang selalu datang dengan secara tiba-tiba. Sehingga pada saat sosok tersebut datang kembali, Jojo sudah menjadi bisa lebih tenang dan mengontrol dirinya. Walau rasa takut masih dan tidak terbiasa masih dirasakan, setidaknya hal itu sudah menjadi lebih baik dari pada waktu-waktu sebelumnya. "Panggil saja saya, AGT?" "AGT? Anak gaul Thamrin?" "Kok Thamrin?" "Iya, soalnya deket dari sini." "Ini nggak ada hubungannya dengan Thamrin atau tempat apapun, Jo." "Terus apa? American Got Talent? Gue nggak suka tuh acara-acara pencarian bakat kayak gitu. Mendingan gue nonton Upin-Ipin aja." "OKAY STOP! Ucapan kamu semakin melantur saja. Lagi pula, apa itu Upin-Ipin?" "Nanti sore lo ikut nonton gue. Tapi kalo sampe ketagihan, jangan salahin gue ya?" "Jadi... kamu terang-terangan langsung ingin mengajak saya berkencan?" Tanya sosok itu sambil memberikan senyuman menggoda dan penuh arti kepada Jojo. "Kencan kepala lo botak!" Seru Jojo dengan emosi secara refleks. "Tetapi saya tidak botak." "Urghh... jangan bikin gue kesel!" "Okay, iya. Saya tidak akan membuat kamu kesal lagi," balasnya dengan nada bicara lembut bermaksud untuk menenangkan Jojo. "Andy, kamu bisa memanggil saya dengan itu." Sambungnya setelah situasi di antara keduanya sudah terasa lebih tenang dari sebelumnya. "Jadi nama lo Anak gaul Thamrin a.k.a Andy. Gitu?" "Hanya Andy, tidak perlu pakai anak gaul, okay?" "Andy?" "Iya." "Tapi gue boleh pake panggilan itu nggak? Kayaknya keren, anak gaul Thamrin a.k.a Andy. Bisa dipake buat username juga tuh." Hilang dan hancur berkeping-keping sudah wibawa Andy yang sejak awal keberadaannya itu selalu membuat takut Jojo, namun kini wanita itu justru membuat sosok tersebut seakan-akan teman lama bermainnya. Atau mungkin bisa menjadi seorang badut? "Jo, cukup. Ini semakin terasa aneh dan mengganggu saya." "Upss... sorry. Gue nggak bermaksud," balas Jojo dengan sarkastik. "Untuk saja, saya ini tidak begitu sensitif dan perasa. Jadi, sarkasme kamu itu tidak begitu menyinggung perasaan saya." "Makanya, jangan main tebak-tebakkan apalagi sok misterius sama gue. Selain gue nggak suka, gue itu bukan tipe pemikir. Jadi jangan main kayak gituan lagi sama gue." "Okay." "So, Andy. Apa yang sebenarnya lo mau dari gue? Nggak bermaksud mau buat lo jadi tersinggung, tapi gue sama sekali nggak kenal lo dan gue yakin pasti juga sebaliknya. Jadi please, jangan ganggu gue." Ucap Jojo yang mencurahkan isi hatinya dengan lebih bersahabat menanyakan keinginan sebenarnya sosok tersebut. "Saya sama sekali tidak tersinggung. Dan, biar kita juga jadi semakin kenal dan dekat, kita bisa kenalan lagi. Nama saya Andy, dan kamu pasti Jojo. Benar, 'kan?" "Y-ya, itu benar. Tapi bagi gue, semua ini masih terasa aneh. Lo tiba-tiba aja dateng ke kehidupan gue, yang jadinya malah sangat mengganggu gue." "Jo, maaf kalau saya sudah begitu mengganggu kamu. Tetapi, saya memiliki alasannya. Dan saya juga ingin berbicara banyak dengan kamu." "Ini tempat umum. Dan gue nggak mau dianggap jadi orang gila, karena udah dikira ngomong sendirian dari tadi." Ucap Jojo sambil melirik ke kanan dan kiri untuk melihat keadaan sekitarnya. Untung saja sejak awal wanita itu memilih meja makan di sudut ruangan, sehingga menjadi tidak begitu terlihat oleh pengunjung lain dengan apa yang sedang Jojo lakukan. "Okay, bagaimana kalo di rumah kamu saja? Di kamar kamu mungkin?" "Buat apa 'sih?" "Saya ingin bicara dengan kamu. Tadi sudah saya sampaikan, bukan?" "Gue nggak mau semakin berlarut, masuk ke dalam permasalahan baru yang bahkan gue aja sama sekali nggak tau, dan nggak mau tau." "Saya mohon. Saya membutuhkan bantuan kamu, dan saya pun juga siap membantu kamu. Kamu ingat? Saya pernah mengatakan ingin membantumu untuk menggagalkan rencana perjodohan yang ingin dilakukan oleh Ibu kamu." "Kok lo sampe bisa tau semua permasalahan kehidupan gue gini, sih?" "Di kamar kamu, semuanya akan kita bicarakan. Saya akan memberitahu siapa saya yang sebenarnya, dan kenapa harus kamu yang membantu saya, Jo. Bagaimana?" Jojo pun sempat terdiam sejenak. Berpikir? Tentu saja tidak. Jojo bukanlah tipe pemikir yang juga akan langsung menemukan solusi atau jalan keluar dari permasalahan yang ia dapati saat itu juga. Tetapi ia sedang menimbang-nimbang, apakah Andy adalah sosok yang baik dan bertanggung jawab atas setiap ucapannya itu atau tidak? Tidak peduli Andy itu termasuk manusia atau bukan. Karena yang Jojo pikirkan, hanyalah dirinya yang tidak ingin bertemu lagi dengan seorang pria yang tidak baik di hidupnya, seperti yang sudah-sudah. "Jo, jangan melamun dan banyak berpikir. Kamu hanya akan menarik perhatian banyak orang, dengan kamu yang hanya berdiam dan menatap kosong pandangan di depan kamu saja. Kamu masih ingat ini di tempat umum, 'kan? Lebih baik kita lanjutkan perbincangan dan pembahasan kita ini di kamar kamu saja. Bagaimana?" "Lebih baik. Kalo gitu sampai ketemu di sana." "Okay. Hati-hati di jalan, Jojo." "Lo nggak mau nemenin gue di jalan?" Tanya Jojo sambil bersiap-siap dan beranjak dari duduknya untuk pulang. "Kamu mau naik ojek online, 'kan? Walaupun saya tidak terlihat seperti ini, tetap saja bonceng bertiga itu sama sekali tidak keren apalagi lucu, Jo. Apalagi helm-nya cuman dua, untuk kamu satu dan dipakai abang ojeknya satu. Itu berbahaya untuk saya, Jo." Balas Andy yang membuat Jojo sedikit tersenyum menahan tawa mendengar ucapan Andy yang cukup menggelitik. "Okay. Gue duluan ya, bye." Perginya Jojo keluar dari salah satu tempat makan yang berada di dalam sebuah Mall itu, menghilang jugalah sosok Andy saat itu juga. Andy akan menunggu di kamar Jojo sampai wanita itu datang, dan membicarakan semua hal yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan dari diri Jojo. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN