Melihat tanggapan putranya yang sangat terkejut, Ratih menautkan alis dan menarik kursi duduk di dekat Jovan. “Kamu beneran suka sama Kiara?” bisiknya, selama ini hanya menganggap putranya sekadar iseng seperti pada lainnya. “Kamu serius sama dia?” Jovan menelan saliva, wajahnya tampak kebingungan. Manik mata pun bergeser ke segala arah, lelaki pecinta gorengan itu memasukkan sisa tempe ke mulut. “Jawab mama, Jovan.” Sekilas pengusaha tampan tersebut membasahi bibir, tatkala sang ibunda menyentuh punggung tangannya. “Perempuan kayak dia itu udah langka, Ma. Dia mandiri, cantik, dingin tapi penuh kasih sayang, dia juga orang yang tanggung jawab. Paling penting, dia gak pernah liat orang lain dari harta, dan dia bukan perempuan yang gampang akrab sama cowok.” Jovan menatap ke depan se

