"Saya ini bawa pak RT buat ngelurusin masalah, bukan ganjen mau jalan sama laki-laki!”
“Harusnya, Anda juga membawa suami atau anak, itu jauh lebih baik.” Jovan membalas. “Anda ada masalah dengan Kiara? Atau, keberadaan Kiara menjadi ancaman tersendiri? Takut suaminya suka sama Kiara?”
“Loh, ya gak level! Suami saya itu setia, gak mungkin mau sama janda! Lawong dia aja ditinggalin suaminya selingkuh kok, jelas ada sesuatu sama dia!”
“Perselingkuhan itu, bukan kesalahan dari pasangan dan tidak bisa dijadikan sebagai alat pembenaran. Ubah pikiran Anda tentang itu,” seloroh Jovan.
“Orang yang sudah menikah lalu selingkuh, itu karena memang dia tidak memiliki rasa syukur atas apa yang sudah dianugerahkan dalam hidupnya. Alasan tentang sifat pasangan yang membuat muak, kekurangan dan lainnya, itu hanya alibi. Bukankah orang yang sudah menikah juga harus bisa saling mendidik, mengingatkan, menegur, membenahi kesalahan bersama untuk bisa menjadi lebih baik?” imbuh Jovan.
“Halah, orang saya ini tau kalau Kia itu judes sama suaminya kok. Perempuan gak ada lemah lembutnya sama suami, pantes ditinggalin kayak sampah!”
“Anda tahu apa?!” erang Jovan langsung, Kiara coba menghentikan, namun lelaki itu mencegah dengan telapak tangan terbuka ke arah perempuan yang tidak ingin ada keributan di rumahnya.
“Tidak pernah ada yang tahu beban apa yang dipikul seseorang, sampai dia menjadi keras atau lainnya! Asal Anda tahu, setiap orang memiliki karakter, dan tidak semua orang berani menunjukkannya untuk menjadi diri sendiri! Jangan menilai orang dari kulit saja, karena durian itu berduri tapi dalamnya halus. Tapi, kedondong halus dan dalamnya berduri. Apa Anda pernah mempelajari hal itu?! Tuhan sudah memberikan contoh, bahkan sebelum Anda dilahirkan! Semesta ini memberi banyak ilmu, tapi Anda terlalu picik untuk menafsirkan segala sesuatu seorang diri!” Jovan tersulut emosi.
“Mas, tolong ja—” Jatmiko berusaha menenangkan Jovan, mata tajam langsung didapatkan olehnya.
“Anda RT, bukan?! Harusnya Anda bisa mengayomi warga, melindungi mereka, bukan menindas! Anda acuh saat di rumah ini ada keributan, tapi Anda bertindak saat ada laporan tanpa bukti!” tekan Jovan. “Anda sering mengintip, bukan? Harusnya Anda juga tahu kalau ada keributan di rumah ini, tapi kenapa Anda diam saja?!” imbuhnya ke arah bu Rudi.
Kedua tetangga Kiara itu hening, namun hati bu Rudi memanas sampai bibirnya bergerak-gerak tanpa suara dan memaki Jovan serta Kiara.
“Dengar saya baik-baik, Bu. Suami Anda, atau suami orang lain disini mungkin menyukai Kiara dan menganggap ada celah untuk melecehkannya sebagai seorang janda. Tapi, belum tentu Kiara juga mau sama mereka semua! Kalau Anda ingin tenang, beli rumah ini biar Kiara bisa pindah! Bukankah itu mudah?”
Bu Rudi melirik sinis Jovan sampai, mengomel dan pergi tanpa berpamitan. Pak RT kelagapan, tidak tahu harus menjawab semua perkataan lelaki di dekatnya seperti apa. Pada akhirnya, Jatmiko berpamitan dengan alasan ada rapat di kelurahan. Jovan menarik napas dalam, hatinya penuh sesak.
“Lain kali saya akan mendatangi rumah Anda sebelum kemari, temani saya sampai Anda puas!” kelakar Jovan, pada pria tengah mengenakan sandal.
“Mbo—mboten usah, Mas. Ngapunten, kulo pamit.” Jatmiko berlalu layaknya angin.
Kiara yang semula berdiri mengantar kepergian ketua RT nya, mengabsen wajah Jovan yang jelas merah padam. Lelaki itu bahkan bertumpu telapak tangan pada lutut, menunduk dan berupaya keras mengontrol pernapasan serta menekan kemarahan.
“Bapak harusnya gak perlu ngelakuin semua itu, nama bapak bisa jelek nanti.” Kiara berucap hati-hati.
“Bukan cuma sama kamu, tapi semua orang. Saya paling gak suka ada orang lain berbuat seenaknya, nindas tanpa tau apa-apa! Saya benci orang-orang yang hanya menilai dari kulit luar saja.”
Kiara tersentak mendengar pintal kata tegas Jovan, begitu pula dengan kedua anak yang sedari tadi berdiri di balik dinding merekam segalanya tanpa sengaja. Dita dan Rasya ingin mengantarkan minum pada ibunya, tapi justru mendengar suara pria yang juga mereka kenal.
“Om mirip bunda gak, sih? Bunda juga pernah ngomong kayak gitu,” bisik Rasya.
“Mba juga sering mikir kalau om sama bunda itu satu orang, Dek.” Dita menjawab, dia sudah merasakan dari semenjak di rumah sakit.
Nasihat diberikan Jovan, itu hampir sama dengan ibunya. Entah kebiasaan sepele, perihal makanan yang tidak disukai, atau beberapa hal lain yang memiliki kesamaan, kerap menjadi pertanyaan tersendiri bagi Dita. Terlalu banyak hal yang membuat gadis berhidung mancung itu heran. Jika saja Dita tidak mengenali suara dan wajah, mungkin dia akan menganggap Jovan adalah bundanya.
Dita mengajak Rasya mengembalikan cangkir berisi teh ke dapur, kemudian pergi ke kamar tanpa membiarkan ibunya tahu bahwa mereka mendengarkan. Dita tidak mau kalau sampai ibunya berupaya menyusun kebohongan, hanya demi membuatnya tenang.
Sementara dua anak itu melanjutkan pembahasan tentang banyak keanehan, di depan Kiara sudah kembali duduk menjaga jarak berarti dengan Jovan. Keduanya senyap, Kiara pun tidak ingin bersuara sebelum lelaki yang juga tampak lelah itu berhasil meredakan amarah.
“Bisa gak sih, kamu gak panggil saya bapak? Saya ini belum nikah, muka saya juga gak pantes jadi bapak kamu kok.” Jovan membuka komunikasi, Kiara tersenyum tipis.
“Kalau marahnya udah hilang, mendingan bapak pulang. Bukan mau ngusir, tapi muka bapak tuh keliatan capek sama ngantuk banget,” sahut Kiara mendapat tatapan tajam dari kawan bicaranya. “Iya, gak panggil gitu. Maunya dipanggil apa emang? Mas? Kalau manggil nama, saya gak mau.”
“Ya gak usah mas juga kali. Kamu manggil mantan suami kayak gitu, kan? Aku gak mau sama lah, panggil yang lain.”
“Ya, apa? Om aja ya, sekalian bahasain anak-anak.”
“Enak aja! Panggil abang atau sayang.”
Kiara terkekeh, lalu meminta maaf setelah dia sadar bahwa Jovan memasang raut wajah masam.
“Lagian aneh-aneh aja. Saya ini besar di malang, manggil abang tuh aneh.”
“Ya gak mau tau, pilihan cuma sayang sama abang doang.”
“Hahaha, abang kuning ijo kayak lampu stopan aja.” Kiara tertawa geli.
Jovan bertambah masam. “Aku nih serius, jangan bercanda terus dong.”
Kiara masih belum mampu melepas rasa geli menjalar dalam nadi. Jovan mengembuskan napas kasar.
“Udah, panggil sayang aja kayak kamu manggil anak-anak!”
“Hahaha, sayang … sayang anak harganya sepuluh ribu, kalau gak beli berarti gak sayang anak. Kayak penjual balon di pasar malam.”
Kiara semakin geli, Jovan lama-lama terpancing untuk menarik ujung-ujung bibirnya hingga mengubah menjadi tawa.
“Ngeselin, sumpah!” kemam Jovan di tengah tawa.
Berangsur-angsur tawa Jovan menipis, berganti senyum dengan tatapan senang melihat Kiara tertawa. Entah mengapa, perempuan cantik di dekatnya itu selalu saja mampu membuatnya terpana, akan segala sikap berbeda ditunjukkan dan kerap menjelma menjadi bayang di tengah aktivitas Jovan.
***
Keesokan pagi, Jovan menyapa keluarganya dengan wajah sangat segar. Padahal, semalam lelaki itu tidak bisa benar-benar terpejam, setelah dihajar habis-habisan oleh paras ayu Kiara yang terus muncul bersama senyumnya yang menawan. Hati Jovan seakan telah diobrak-abrik tanpa ampunan, hingga dia baru bisa mengarungi alam mimpi pukul tiga dini hari.
“Aduh, seger banget tuh muka. Abis mandi kembang tujuh rupa?” tegur Ratih melihat putranya.
“Hehehe, biasa aura orang jatuh cinta.” Jovan menjawab santai, mencium sisi wajah ibunya yang tengah repot menyiapkan sarapan. “Papa sama mama kemana semalem? Aku pulang gak ada di rumah.”
“Oh, jemput om Bima di bandara. Tuh orangnya di depan sama papa, abis jalan-jalan pagi. Dia udah gak sabar mau ketemu Kia, abis sarapan langsung ke rumah sakit sama papa.”
Jovan yang sedang menyeruput teh hangat seketika tersedak, Ratih meninggalkan mangkuk berisi sayur bayam dan menepuk punggung putranya.
“Gak usah terlalu seneng, kenapa sih?!”
“Kaget, Ma. Seneng darimana?” sahut Jovan. “E—emang gak bisa diundur ya ketemu sama Kia? Maksudnya, biar aku dulu gitu yang maju, mereka entaran aja.” Jovan dipukul keras punggungnya oleh sang ibu, hingga tubuh maju dengan wajah meringis terpampang. “Sakit loh. Kebiasaan banget.”
“Lagian kalau ngomong gak dipikir dulu!” sembur Ratih. “Papa sama om Bima mesti nyelesaiin urusannya sama Kia. Ini soal jodoh yang dulu pernah disepakati sama bapaknya Kia."
“Ma—maksudnya, semua ini cuma buat jodohin Kia aja? Itu yang kalian bilang tanggung jawab yang harus dikelarin? Sa—sama siapa? Apa ini alasan papa ngelarang aku suka sama Kia?”