Satu bulan berlalu, Jovan tidak menjadikan perkataannya hari itu sekadar isapan jempol belaka. Nyatanya, lelaki pecinta gaya kasual tersebut, benar-benar mendekati Kiara juga anak-anaknya dan tidak lagi segan untuk datang bertamu.
Ya, meski setiap kali dia hadir, Kiara tidak pernah memberikan sambutan baik. Setidaknya, ada Rasya dan Dita yang masih berkenan menerima kehadiran dirinya, memberi ruang bagi ketulusan lelaki yang pernah menawarkan persahabatan pada mereka.
Jovan mengutarakan hal itu saat di rumah sakit, tanpa memberi bumbu kepalsuan. Perhatian serta kasih sayangnya tidak dibuat-buat, bahkan caranya untuk berbagi kisah masa sekolah pun membuat kedua anak Kiara merasa betah. Mereka jadi leluasa berkisah tentang kehidupan di sekolah, mengenai guru serta teman-temannya.
Kedekatan yang terjalin, seolah membuka kesempatan bagi Jovan untuk menjadi lebih dekat. Dia pun tidak lagi sungkan bertamu ke rumah Kiara, membagi waktu bersama Rasya juga Dita, sekadar mengerjakan PR atau menggambar tanpa pola.
Seperti dilakukan malam ini, ketiganya asyik di teras rumah dengan mencoret-coret kertas gambar. Jovan tertawa lepas bersama Dita dan Rasya, dua bocah yang ternyata memiliki sifat usil luar biasa. Mereka sudah bersama dari dua jam lalu, di mana Jovan memang sengaja hadir setelah kepulangannya dari perjalanan bisnis di luar kota.
“Eh, itu bunda dateng.” Dita menatap arah motor berhenti, kemudian berdiri dengan senyum renyah terpasang.
Jovan dan Rasya meninggalkan spidol mereka, turut menyambut kedatangan perempuan yang kini melepas helm putih. Rasya dan Dita mendekat, mencium tangan ibu mereka dan sigap membawakan tas ransel serta jaket ke dalam rumah.
“Sekalian aku bikinin teh ya, Bun.” Dita menawarkan.
“Enggak usah, Sayang.” Kiara mengusap rambut tergerai putrinya, lalu menatap pada lelaki tengah berdiri memajang senyuman di teras. “Oh, om kesini buat nemenin kita sama bawain oleh-oleh.”
“Iya, bunda jangan marahin om. Kita seneng kok ditemenin.” Rasya menambahkan.
Kiara mengulas senyum pada dua anak yang dirangkulnya untuk masuk ke dalam rumah.
“Ada orang loh di sini,” tegur Jovan kala Kiara nyelonong begitu saja.
“Kalian masuk dulu, ya. Bunda mau ngomong sama om.”
“Iya, Bunda.” Keduanya menjawab, lalu masuk.
Kiara menarik sangat dalam napas, berbalik menatap Jovan. Rambut tergerai diikat tinggi olehnya, Kiara tidak terbiasa mengenakan helm dengan rambut terikat, itu membuatnya pusing.
“Saya minta tolong, jangan deketin kami lagi dan biarin kami hidup tenang tanpa masalah. Capek, kalau harus nanggung masalah yang diciptain sama orang lain terus.” Kiara mengecilkan suara.
“Ih, orang anak-anak suka kok temenan sama saya. Kamu aja yang gak bosen nolak kayak gitu tiap hari.”
“Tolong ngerti dikit aja, Pak. Kedatangan bapak kesini itu, cuma bikin anak-anak bergantung. Saya gak mau, kalau suatu hari mereka kecewa lagi, karena udah terlalu berharap sama orang lain.”
“Ya, kalau gitu saya jadi bapak mereka aja. Kan mereka gak perlu terluka, karena saya gak bakalan ninggalin mereka.”
“Pak!”
“Dua bulan … cukup kasih saya waktu dua bulan buat luluhin hati kamu, Kia. Kalau dalam waktu itu saya gak bisa, saya akan berhenti deketin kamu, tapi enggak sama anak-anak. Kamu gak punya hak buat atur pilihan mereka deket sama saya atau enggak.”
“Pak! Kedatangan bapak itu juga bakal bikin warga sini salah paham. Saya ini jan … tolong lah, Pak.”
“Kalau kamu gak nyaman sama kedatangan saya, ya udah kita nikah aja dulu. Nanti juga kamu bakalan suka sama saya kok.”
“Bapak pikir, semua ini permainan?”
“Enggak. Saya serius sama semua yang saya omongin.” Jovan menjawab lugas. “Gak semua laki-laki itu sama, jadi gak perlu nutup hati kamu terus-terusan. Kamu mungkin gak butuh suami lagi, anak-anak gak butuh bapak. Tapi, saya butuh kalian.”
Kiara senyap menatap Jovan, ada keseriusan dan ketulusan yang mampu ditangkap olehnya. Namun, Kiara cepat-cepat membangun kokoh benteng dalam hatinya, tanpa membiarkan Jovan menyusup dengan segala kata juga tingkah polahnya. Kiara menghela napas kasar, seakan ada beban yang turut dilemparkan. Perempuan masih mengenakan seragam kebersihan itu, berbalik menuju pintu rumah.
“Malem, Mba Kiara.” Sebuah teguran familier menjejali telinga Kiara, dia berhenti dan menoleh.
“Pak RT? Bu Rudi?” Kiara mengerutkan alis, Jovan melihat pria berkemeja kotak-kotak cokelat di halaman. “Wonten nopo nggeh, Pak, Bu? Kok tumben?”
“Owalah, mboten wonten nopo-nopo kok, Mbak. Pengen ngobrol mawon kaleh mbak Kia, saget?”
Kiara menelisik wajah kedua tamunya, beralih pada Jovan. Tangan diulurkan mempersilahkan ketua RT lingkungan tinggal untuk duduk di karpet yang dipenuhi kertas serta pewarna. Kiara segera membereskan, agar tercipta ruang untuk mereka berbincang.
“Monggo pinarak, Pak, Bu. Ngapunten, lare-lare nembe belajar.” Kiara santun mempersilahkan para tamunya duduk.
Bu Rudi, wanita gemuk berdaster merah muda bunga-bunga putih itu tidak berhenti melirik Jovan, bahkan ketika tubuhnya sudah menempel pada karpet. Kiara mengetahui hal tersebut, hanya diam menatap kilat Jovan tanpa meminta agar lelaki yang tetap berdiri itu duduk bersama.
“Wonten nopo nggeh, Pak?” Kiara membuka obrolan, duduk bersimpuh memangku kedua tangan.
Pak RT mesem, tapi matanya berkeliaran mengabsen tiap wajah di sekitarnya. Kiara menautkan kedua alis, dia merasa jika ada sesuatu yang tidak beres dan berkaitan dengan Jovan.
“Mm … pripun nggeh, Mba. Gini loh, saya itu dapat laporan dari warga kalau mba sering bawa laki-laki ke rumah. Sebelumnya ya, saya minta maaf dulu kalau ini menyinggung. Tapi, gimanapun juga mba ini kan janda, jadi saya rasa kurang pantes kalau sampai bawa laki-laki, takutnya timbul fitnah gitu.” Pak RT menjelaskan sembari mengusap-usap telapak tangan pada pahanya.
“Ya, kita ini juga takut loh kalau sampai ketiban sial.” Bu Joko menimpali sinis.
Kiara dan Jovan mulai memahami duduk perkara yang ada, lelaki berkemeja hitam panjang tersebut mengulas senyum tipis.
“Kayaknya, bapak sama ibu ini salah paham. Saya in—” penjelasan Kiara tersendat, Jovan menyela.
“Gak semua orang itu b***t, sampai bisa ngelakuin apa-apa yang gak seharusnya.” Jovan bersuara nyaring, lalu duduk bersila di karpet. “Kalau saya mau macam-macam, jelas bukan di rumah ini. Lagi pula, Kiara bukan perempuan murahan seperti apa yang kalian tuduhkan.”
“Gak murahan kok malem-malem sama cowok yang bukan suaminya!” ketus wanita berambut Bob tengah duduk di samping pak RT.
Jovan tersenyum, menatap bu Rudi. “Saya juga tidak yakin kalau pak RT suami, Anda. Apa ucapan tadi, bisa saya kembalikan ke Anda sendiri sekarang?”
“Jaga omongannya, ya! Saya ini punya suami, saya bisa panggil dia kesini!” Wanita berusia lima puluhan itu tidak terima. “Saya itu sering lihat sampeyan itu pulang malem dari sini. Ngapain lagi kalau enggak … ya itulah!” imbuhnya, melenggak-lenggokan bibir sinis.
“Ibu niki sering banget ngawasin rumah saya, ya?” Kiara tersenyum. “Gini loh, Bu. Saya ini juga ngerti kok batesan, dan saya ju—”
“Percuma jelasin, gak bakalan didenger!” sela Jovan, berdiri menuju pojok ruangan.
Lelaki bertubuh tinggi itu mengulurkan tangan tinggi, menarik tanya dari ketiga orang yang dilewatinya tadi. Kiara terbelalak, ketika tahu apa yang diraih oleh lelaki yang bahkan tidak membutuhkan kursi untuk bisa menjangkau sudut tinggi teras.
Jovan tidak berkata apa-apa, dia mengutak-atik ponsel yang sudah diambilnya dari saku kanan celana kerja, kemudian menunjukkan pada tetangga Kiara. Itu adalah rekaman CCTV, di mana menunjukkan jelas situasi rumah Kiara, bahkan saat dirinya datang.
Pak RT dan wanita di samping kirinya saling tatap usai menyaksikan video yang sengaja dipercepat oleh Jovan, di mana cukup menunjukkan tentang kehadirannya saja. Tidak ada satu langkah Jovan memasuki rumah, dan itu mematahkan suara tidak bertanggung jawab warga yang telah lama bergunjing dengan menambahi bumbu berlebihan.
“Sudah?! tegas Jovan. “Mobil saya terparkir di depan, sama sekali tidak menutupi area teras rumah ini. Siapapun yang lewat, sudah pasti bisa lihat apa yang saya lakukan di rumah ini. Panggil siapa saja yang pernah melihat saya masuk ke rumah Kiara, minta dia bawa bukti juga saksi. Kalau benar saya terbukti melakukan hal tidak seharusnya dengan Kiara, silakan lakukan apa yang kalian inginkan! Tapi, kalau tidak ada bukti apa-apa, saya yang akan bawa kasus ini ke jalur hukum, atas pencemaran nama baik!”
Kedua orang yang diberi kata tegas oleh Jovan, langsung gagu. Terlebih Jatmiko, dia bahkan terlihat mengusap kening yang memang berkeringat dingin.
“Jangan pernah menilai orang hanya dari status, karena tidak semua janda itu murahan. Ada istri yang bahkan tidak beretika, sudah punya suami tapi keluar malam-malam sama pria lain. Contohnya … Anda!”