Kiara terguncang, Jovan menggiringnya untuk berada di balik tubuh dengan tangan kiri kokohnya.
“Mama apa-apaan, sih? Baru dateng main pukul aja,” cetus Jovan mengejutkan perempuan tengah memegangi pipi di belakangnya.
Kiara menatap Jovan, berganti pada wanita berkacamata besar cokelat muda yang tadi menamparnya.
“Aku baik-baik aja, gak perlu sampai kayak gini. Kia tuh cuma mau bantuin aku ke kamar mandi. Lagian, bukan dia yang mau nyentuh aku, tapi aku yang emang mau disentuh sama dia.”
Suara Jovan mengejutkan dua orang di sekitarnya, hingga kompak melebarkan mata serta mulut. Ratih, ibunda Jovan yang enggan disebut berumur itu, sampai memajukan tubuh menelisik paras lelaki yang juga diperiksa keningnya menggunakan punggung tangan kiri.
Jovan menurunkan tangan sang ibu, bibir komat-kamit tanpa suara. Ratih mengintip Kiara, berganti pada putranya, lalu mengecap mulut kosong.
“Ka—kamu pas jatuh kemarin, udah mastiin kalau otaknya gak masuk kolong kursi, kan? Atau kamu ada masalah sama mata?” cerocos Ratih. “Mama panggilan dokter bu—”
Kata-kata Ratih terpotong, ada suara pintu memaksanya menoleh. Wanita berusia lima puluh delapan tahun yang masih terlihat stylish itu, langsung melepaskan kacamata dan terbelalak melihat siapa yang masuk.
“Papa?!” seru Ratih menyusuri tubuh suaminya berulang atas ke bawah. “Pa … kok,” bingungnya menatap Tama serta Jovan.
Tama menghela napas panjang, melenggang masuk bersama perawat yang menemani dirinya menikmati udara pagi di taman tadi.
Ratih mematung melihat kondisi suaminya, seakan dia sedang diambang kesadaran. Perawat keluar dari ruangan, suara pintu tertutup menggiring kesadaran Ratih merasuki raga.
“I—ini kalian berdua apa-apaan, sih?! Papa juga ngapain pakai selang kayak gini?! Papa sakit? Kenapa gak ngabarin mama?” cerca Ratih, kemudian menatap putranya seakan ingin bertanya hal sama.
“Aduh, aku mau kencing dulu. Udah di ujung ini.” Jovan membuka pintu kamar mandi dan masuk tanpa lupa merapatkan lagi.
Belum sampai satu detik lelaki itu masuk, dia sudah keluar lagi dan menarik paksa tangan Kiara—perempuan tengah keheranan dengan situasi yang ada.
Ratih terbelalak tidak karuan melihat putranya ringan menarik lawan jenis ke ruangan sempit bersama. Cepat wanita pecinta tas kulit buaya itu menggedor pintu kamar mandi.
“Jovan, buka! Mama bisa panggil keamanan buat dobrak pintu ini! seru Ratih tetap menggedor pintu. “Gak usah macem-macem ya kalian berdua! Keluar atau mama pecat kamu jadi anak!”
“Aku ini mau kencing, bukan mau bikin anak!” sahut Jovan. “Dia aku ajak, soalnya takut mama mukul lagi!”
“A—aduh, anaknya Tama.” Ratih gagu sendiri. “Pa—papa!” imbuhnya, berjalan cepat menghampiri pria yang sudah duduk meluruskan kaki di atas brankar.
Ratih meletakkan kasar tas tangannya di atas kaki sang suami, dan jelas membuat Tama refleks mengeluh sakit. Namun, Ratih malah memasang wajah merah kesal.
“Papa biarin aja Jovan bawa cewek ke kamar mandi berdua?! Gimana kalau mereka sampai ngelakuin hal yang enggak-enggak?!”
Tama menghela napas panjang. “Mama ngapain sih di sini? Balik lagi sana loh ke Singapore abisin uang Jovan.”
“Harusnya tuh abisin uang papa, kenapa jadi uang si Jo?!” sahut Ratih. “Papa dobrak sana loh, mama gak mau kalau anak kita dipegang-pegang nanti!”
Tama mengusap-usap telinga tidak gatal sembari terpejam, Ratih memukul lirih lengan suaminya agar turun.
“Bapak sama anak biasaan banget kalau orang lagi ngomong!” protes Ratih.
Tama merengkuh tangan istrinya, meminta agar wanita yang begitu dicintai itu duduk di tepi brankar. Ratih sedang cemberut layangnya anak kecil, Tama memiliki cara sendiri meluluhkan kekesalan sang istri, yakni dengan kelembutan diberikan.
“Papa sengaja gak ngasih tau semua ini, karena gak mau mama khawatir. Tapi, papa sama Jovan punya alesan,” ucap Tama lembut.
Ratih menautkan alis terbentuk indah miliknya, seakan berisyarat ketidakpahaman. Tama memulai kisah tentang pertemuannya bersama Kiara, menjelaskan tentang siapa perempuan yang kini ada di kamar mandi bersama putra mereka.
Ratih tercengang mendengar hal itu, terlebih ketika Tama menunjukkan banyak bukti bahwa benar Kiara adalah orang yang mereka cari selama ini.
Alasan Tama mengizinkan Jovan berduaan dengan Kiara pun, diurai tanpa rahasia oleh Tama. Itu membuat istri tercinta menyesal, karena sudah menampar Kiara tanpa mencari tahu lebih dulu.
Tama terus saja menjelaskan untuk rencana selanjutnya, agar tidak ada salah paham di antara keluarga yang sudah dibangunnya puluhan tahun.
Sementara di waktu bersamaan, Jovan sudah selesai dengan panggilan alam yang memaksanya tidak tahu malu untuk kali pertama.
Jovan mencuci kedua tangan lebih dulu, melihat Kiara dari kaca melengkapi wastafel. Jovan mengeringkan tangan, menarik lembut lengan perempuan yang terus menghadap pintu sedari tadi.
Kiara reflek meloloskan lengan dari lelaki berambut hitam pekat tersebut, namun lengan malah ditarik lagi dengan lebih kuat.
“Saya cuma mau liat muka kamu aja,” ucap Jovan memiringkan kepala sedikit menunduk di hadapan Kiara. “Ini pasti kena cincin mama,” sambungnya melihat goresan dilengkapi titik-titik darah.
“Saya bisa obatin nanti. Mendingan sekarang bapak keluar, biar gak makin panjang salah pahamnya.” Kiara menjauh dari Jovan, tapi tidak mampu karena lelaki itu semakin menariknya.
“Biarin saya tanggung jawab!”
Jovan menggiring Kiara mendekat wastafel, mengucurkan air pada telapak tangan dan membersihkan darah yang ada. Jovan lembut menyapu pipi mulus itu dengan ibu jarinya, Kiara melengos ke arah kaca.
“Kenapa kamu gak ngelawan, sih? Biasain jangan diem aja kalau ditindas orang, biar mereka gak seenaknya.”
“Saya tau perasaan ibunya bapak, karena kalau saya diposisi itu juga pasti bakal ngelakuin hal sama. Gak ada ibu yang bakal baik-baik aja ngeliat anaknya terluka.”
Jovan menghentikan gerak jarinya, mata dekat mengamati tiap pahatan indah Tuhan di wajah Kiara.
‘Terus, gimana sama orang tua kamu, kalau mereka tau kamu disakiti? Gimana sama hati kamu yang juga terus disakiti?’’ batin Jovan menatap teduh wajah Kiara.
Ibunda Rasya itu menyadari bahwa tidak ada lagi gerakan pada sisi wajahnya, dan buru-buru memundurkan langkah menjauh.
“Sa—saya bisa obati sendiri. Saya permisi,” tutur Kiara, tanpa membiarkan suasana menariknya dengan sangat kurang ajar.
“Kiara!” seru Jovan, ketika ibu dua anak itu sudah siap melangkah.
Kiara berhenti dan menoleh, Jovan mengatupkan bibir rapat dan mendekatinya.
“Saya gak tau, kamu masih punya suami atau enggak. Tapi, saya mau deketin kamu sama anak-anak kamu mulai hari ini. Kalau kamu masih punya suami, siap-siap aja aku rebut kamu dari dia. Kalau kamu gak punya suami, siap-siap buat punya suami lagi mulai sekarang.”
Kiara membuntang kala irama lancar Jovan merasuki pendengaran. Lelaki bertubuh tinggi kekar itu, bahkan tidak menunjukkan adanya kesalahan dari setiap alfabet yang dikemukakan.
Jovan menyiratkan ketulusan tanpa ragu lewat binar matanya, wajah pun melukiskan hal sama, dan tentu saja dengan kepercayaan diri luar biasa seperti biasa.
“Saya permisi,” pamit Kiara.
Buru-buru perempuan cantik itu meninggalkan kamar mandi. Langsung saja dia keluar ruangan, tanpa berpamitan pada Tama juga istrinya.
Bahkan, Kiara sampai tidak sadar bahwa gerakan kilatnya sudah mengejutkan Ratih, hingga wanita yang sedari tadi menguping itu berlari ke balik dinding.
Jovan keluar dari kamar mandi usai termenung sejenak. Terkejut lelaki itu ketika menemukan wajah ibunya yang tengah mengintip ke arah pintu sembari tetap bersembunyi.
“Mama!” refleks Jovan mengusap d**a.
Ratih memukul lengan berotot putranya kencang. “Dikira hantu apa sampai kayak gitu kagetnya?!”
“Ya habisnya mama, sih. Ngapain berdiri di sini intip-intip?” kelakar Jovan, menoleh arah pintu tertutup. “Nguping, ya?” imbuhnya menyipitkan mata.
“Enak aja nguping! Tadi ada yang ngetuk pintu, mama takut itu orang nagih utang, makanya gak dibukain.”
“Alasan yang paling masuk akal!” ujar Jovan menggeleng, berjalan ke brankar dan langsung berbaring.
Ratih menyusul segera, mendekati putranya dengan wajah amat penasaran.
“Kamu habis ngapain di dalem? Kenapa muka kamu keliatan merah kayak orang m***m gitu? Gak bikin anak kembar, kan?”
“Ya Tuhan, Ma. Segitu busuknya aku di mata mama?” sahut Jovan. “Gerah di kamar mandi, makanya merah.”
“Lagian, Kia juga gak mau bikin anak sama anak SD.” Tama berceloteh, ditoleh putranya.
“Gini-gini, aku tuh bisa hamilin cewek sebulan jadi!” kelakar Jovan, dicubit pinggangnya oleh sang ibu. “Aduh!” Jovan meringis kesakitan mengusap pinggang kiri.
“Jadi gembel sana, kalau kamu berani lakuin itu! Perempuan bukan buat dicoba, tapi dinikahin, dijadiin kayak ratu, dibimbing!” seloroh Ratih. “Berani kamu mainin cewek, punyamu mama jadiin jimat penglaris!”
Ratih meninggalkan putranya, pergi tanpa membawa tas kesayangan yang masih di ranjang sang suami yang sudah menyantap sarapan.
“Ma—mama mau ke mana?!” teriak Jovan.
“Ngelamar Kiara sebelum kamu bikin malu keluarga!” jawab Ratih, tak lama suara pintu tertutup mengisi kamar.