Diam-diam Memperhatikan

1447 Kata
Bab 7 “Daripada keberatan, mending kamu ganti rugi aja deh. Sekalian urus semua sama pe—” ucapan Jovan terpangkas, Kiara menyerobot tegas. “Saya turuti semua kemauan, Bapak! Tapi, jangan pernah ancam saya atau berusaha menekan saya, karena saya bukan orang yang akan diam saja diperlakukan seperti itu oleh siapa pun!” erang Kiara, lelaki di atas brankar samping tubuhnya langsung membeliak kaget. Jovan mematung dengan mulut masih terbuka akibat suara tersendat. Akan tetapi, Tama malah tersenyum lebar melihat kecerewetan putranya berhasil dihentikan. “Saya permisi lanjut kerja dulu, Pak.” Kiara menghadap Tama, dibalas anggukan oleh pria yang tetap mempertahankan senyuman. Kiara langsung meninggalkan ruangan, Jovan masih belum tersadar hingga bantal mendarat pada tubuhnya. Jovan terkejut, memindahkan bantal ke pangkuan dan menatap papanya. “Enak? Makanya, jadi orang gak usah banyak omong. Kia bukan bawahan kamu yang bakal tunduk gitu aja,” ujar Tama. Jovan tak ubahnya orang kebingungan, dia seperti tidak sadar ketika mendengar Kiara berbicara keras. Pasalnya, belum ada orang yang berani melakukan hal itu, kecuali kedua orangtuanya. “Hm, nikmat juga ternyata nyuruh kamu deketin Kia. Jadi ada tontonan yang bisa bikin semangat hidup,” tutur Tama sembari menyalakan lagi volume TV sempat dimatikan. Jovan menggeleng berulang, pertukaran oksigen dilakukan lewat mulut. “Kemarin aja senyum cantik banget sampai muncul di mimpi. Eh, sekarang udah balik lagi kayak gorila. Aku heran, kenapa mantan suaminya berani nyari masalah? Gak ditebas lehernya sampai sekarang, itu udah bagus banget!” gumam Jovan, terdengar telinga pria di samping kanannya. “Jangan bilang kalau kamu suka sama Kia!” seru Tama menoleh tegas. Jovan langsung menoleh bingung, namun tak lama dia mulai cengengesan. “Hehehe, aku masih normal buat gak jatuh cinta sama perempuan kayak gitu. Tenang aja.” Tama menyipitkan mata curiga. “Awas aja! Bapaknya Kia tuh tatonya banyak, dia terkenal di lingkungan preman! Kalau sampai dia tau playboy modelan kamu deketin anaknya, bisa dihajar gak karuan!” “Iya, tau. Lagian siapa juga yang mau deketin perempuan model gitu? Macem-macem dikit udah dijadiin krengsengan nih burung tumbuh,” sahut Jovan sembari mengembalikan bantal milik papanya. “Aku mau tidur, ngantuk banget semalam begadang gara-gara gak berani tidur abis mimpi orang gila.” “Awas aja kamu sampai jatuh cinta!” peringat Tama, meletakkan bantal di balik punggung. Jovan berbaring memejamkan mata, Tama mengamati dengan curiga. Bagaimana tidak, selama ini putranya belum pernah terdengar memuji perempuan, dan tiba-tiba saja mengatakan bahwa senyum Kiara cantik. Wajar Tama cemas kalau sampai putranya memiliki rasa, walau itu hanya sekadar lewat saja. *** Sore hari pukul lima, Kiara kembali ke rumah sakit dan mengetuk ruangan Tama. Ada Dita dan Rasya ikut serta setelah perbincangan panjang dilakukan ketiganya di rumah. Semula, Dita menolak ikut karena adiknya susah tidur jika di tempat baru. Namun, Dita juga tidak ingin membuat sang ibu cemas, terlebih setelah kedatangan Mutia dengan segala huru-hara diciptakan. Tama menyambut hangat kehadiran Rasya dan Dita, bahkan terkesan sangat bahagia. Sedangkan Jovan, lelaki yang dari pukul tiga tadi memeriksa dokumen kiriman sekretarisnya lewat email, terpaku memperhatikan dua bocah yang ternyata jauh lebih besar dari pernah diamati kemarin. Bahkan, tinggi Dita setara dengan ibunya dan Jovan pun penasaran akan usia gadis berjaket biru tersebut. “Kalian umur berapa sekarang?” tanya Jovan menatap Dita. “Tiga belas tahun, Om. Adek baru delapan tahun.” Gadis berikat rambut ekor kuda itu menjawab, tangan merangkul adiknya. Jovan dibuat tidak percaya, dia mengamati tubuh Dita dan Rasya. Mereka tergolong besar dengan usia disebutkan, tubuh pun cukup berisi daripada ibu mereka. “Makan dulu, ya? Tadi udah dibeliin sama kakek kalian,” lembut Jovan mengulas senyum, mengejutkan Dita dan Rasya yang langsung saling tatap. “Kakek?!” lirih dua bersaudara tersebut. “Iya, kalian gak mungkin panggil orang di sebelah saya ini kakak, kan?” terang Jovan, Dita dan Rasya cengengesan. Kiara pun ikut menarik tiap ujung bibirnya, tanpa menyadari jika Jovan memperhatikan dengan tatapan teduh. Akan tetapi, Tama mengetahui gelagat dari putranya, yang seolah ingin menyalakan lampu kuning sendiri. Tama membuka selimut menutupi kaki, berkeinginan bangun dan ditopang segera oleh Kiara. “Bapak mau ke mana?” “Mau makan, masa iya mau lari sore ngitarin Rampal?” Kiara tersenyum cantik. “Saya ambilin aja, ya? Bapak makan di sini kayak biasanya.” “Saya ini bukan bayi. Kita makan bareng-bareng aja di karpet. Kamu bawa karpet lipat, kan?” sahut Tama, mengintip bawaan Kiara di ujung ruangan. Kiara menoleh kresek merah yang bersandar pada dua tas ransel sekolah anak-anaknya. Senyum dipaksakan, ingin dia menolak pinta dari Tama, namun pria itu sudah turun lebih dulu menggotong cairan infus. Kiara sigap membawakan cairan tersebut, membantu Tama duduk pada karpet yang sudah dilebarkan oleh anak-anaknya. “Bapak gak masalah duduk di lantai?” “Kalau saya duduk di genteng, itu baru masalah. Ada banjir di bawah,” celoteh Tama, lagi-lagi mampu mencairkan suasana dalam kamar. Jovan tersenyum mengamati semuanya, dia yang tidak menggunakan selang infus pun memilih turun dan bergabung. Kiara kaget saat Jovan duduk bersila di dekat Rasya, namun putra tunggal Wicaksono itu menggerakkan kedua alis ke atas dan melirik makanan, mengisyaratkan agar Kiara segera menghidangkan untuknya. Dita membantu sang ibu, setelah dia lebih dulu mencuci tangan. Tama berbicara lembut nan hangat, meminta agar bocah berkulit kuning langsat itu menyusun makanan untuk dirinya. Sedangkan Jovan, lelaki itu menunjuk makanan diinginkan agar Kiara menyusun. Rasya menelisik aneh pada Jovan, bergegas dia mengulurkan tangan pada bundanya. “Biar aku aja yang nyiapin makan buat om ini.” Rasya mengambil alih piring di tangan ibunya, tanpa bersedia ditolak. Semua menatap bocah berkaus kuning Spongebob tersebut, Jovan meletakkan telapak kiri mengepal di sisi wajah dan menghadap Rasya. “Bunda harus tanggung jawab nyuapin, loh.” Lelaki dengan kepala miring itu berucap. “Bunda kan bukan istrinya om, jadi gak boleh. Aku bisa nyuapin kok, aku juga bisa bantu lainnya, jadi gak perlu repotin bunda.” Jovan tersenyum menggigit bibir bawah. “Itu bukan ngrepotin, tapi ngebiasain bunda jadi istri,” lirihnya. Dita dan Rasya langsung menatap sinis. “Bercanda. Serius banget mukanya,” terang lelaki dengan senyum menawan terpasang. Tama bertambah curiga terhadap putranya, begitu pula dengan Rasya dan Dita. Kedua anak dari perempuan yang memilih duduk di lantai tanpa bergabung pada karpet sama itu, menelisik jeli wajah Jovan dengan tatapan tidak suka. Rasya mulai menyuapi Jovan perlahan, dengan dirinya yang juga disuapi oleh sang kakak. Semula, Kiara yang akan melakukan hal itu, namun Dita melarang karena tidak mau melihat ibunya dekat dengan lelaki dianggapnya memiliki tujuan pribadi. “Bunda gak telfon ayah? Kita belum ijin loh kalau mau nginep di rumah sakit,” ucap Dita menerjang keheningan, Kiara bersama yang lain kaget. “Kan istri harus ijin suami kalau mau pergi. Bunda yang ngomong itu dulu.” Kiara memperhatikan putrinya, ada lirikan mata diberikan Dita yang seolah mengisyaratkan tentang keberadaan Jovan. “Ah, iya. Ini habis makan bunda telfon ayah. Tadi ayah lagi di jalan.” Kiara memahami maksud anaknya. “Sayang banget sama ayahnya, ya?” tegur Jovan, gadis yang diajak bicara tidak merespons. Jovan tersenyum tipis dan menunduk, tapi tidak lama dia menaikkan biji mata, sekadar mencari tahu kebingungan Kiara masih bertahan atau tidak. Mereka melanjutkan lagi acara makan, dengan Jovan yang lebih sering tertangkap lainnya tengah memperhatikan Kiara diam-diam. Dita sungguh tidak menyukai hal itu sama sekali, dia mengusulkan diri untuk merawat Jovan bersama sang adik. Tama yang mendengar hal itu pun tersenyum, dalam hati dia tertawa karena lampu kuning yang dinyalakan sudah lebih dulu dimatikan oleh garda terbaik Kiara. *** Keesokan harinya, Kiara melakukan kegiatan seperti biasa. Mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, dan baru merawat Jovan dengan peringatan tegas diberikan oleh kedua anaknya, bahwa Kiara tidak boleh berada satu ruangan dengan lelaki yang semalaman coba memberikan banyak kebaikan pada mereka dan tidak terlalu direspons. “Saya mau buang air kecil, anterin.” Jovan melihat Kiara yang sedang membereskan ranjang Tama. “Bapak gak pakai infus, jadi bisa jalan sendiri.” Kiara acuh. “Kaki saya ini masih sakit, dan semua juga gara-gara kamu yang nendang. Masa iya saya harus ngerangkak ke kamar mandi?!” Kiara menghela napas kasar, dia berputar langkah mendekati ranjang Jovan. “Saya pegangin kaus bapak aja, jadi bapak gak perlu pegangan saya.” “Kamu pikir, saya anak kecil yang belajar jalan?” “Mau kayak gitu, gak mau ya udah.” “Iya!” tegas Jovan. Kiara memegangi kaus putih bagian belakang Jovan, mengantarkan lelaki tengah mengomel dalam hati sambil manyun itu ke kamar mandi. Namun, belum sampai mereka membuka pintu kamar mandi, ada seseorang tergesa-gesa menerobos dalam kamar. Wajah cantik mengurai keterkejutan, tatkala melihat Jovan berjalan pincang. “Jovan?!” Mata wanita bercelana jeans sampai lutut itu membeliak. “Berani banget kamu nyentuh dia!” sambungnya menampar Kiara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN