Raut wajah Beni sama berubahnya. Pria paruh baya itu berdeham sekali. "Omongan kamu di jaga, Lif. Sejak berapa tahun yang lalu selalu sensi aja ke Zavi. Kalian bukan anak kecil lagi, sama-sama udah dewasa," nasihatnya. Zavi menunduk seraya tersenyum kecil dan beralih menatap Beni. "Apa yang di bilang Alif bener, Pa. Zavi nggak berhak sama perusahaan Papa, lagian saya anak angkat kan." Dia mengangkat bahunya acuh. "Nah, dia aja nyadar," celutuk Alif. Beni pun kembali menatap tajam Alif. "Diem kamu," desisnya. Membuat Alif merapatkan bibir. Kemudian tatapan pria paruh baya itu melunak ke Zavi. "Mau kamu anak kandung atau pun angkat. Papa nggak peduli itu, karena kamu dan Alif sama-sama anak Papa," ujarnya merangkul bahu Zavi bersahabat. Di tempatnya duduk Alif mencibir menatap hal itu.

